Berbicara tentang guru sebagai  prosesor pendidikan memang tiada habisnya. Apa lagi di negri kita yang sudah jelas bahwa salah satu tujuan negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dan untuk mencapai dan membangun tujuan tersebut yaitu melalui pendidikan. Dan menjadikan seorang guru sebagai arsiteknya bukan lagi tukangnya. 

Dalam artian guru hari ini harus diperhatikan dalam kebebasanya dalam berkreatifitas meracik dan membentuk para siswanya agar siap untuk menjadi generasi emas negeri ini.

Berhasil atau tidaknya generasi yang dibangun untuk memajukan negri ini berada di tangan mereka.

Itulah  mengapa peran dari seorang guru begitu penting dalam perjalanan negri ini.

Hal ini dapat kita lihat ketika bom atom meluluh lantahkan Hiroshima dan Nagashaki, pertanyaan yang keluar dari mulut sang kaisar bukanlah berapa jumlah tentara yang meninggal atau masih hidup, tank, pesawat tempur, kapal perang yang ada atau berapa kerugian negara Jepang pada saat itu, melainkan yang ditanyakan adalah: “berapa jumlah guru yang masih hidup” (Solihin, 2015: 59). 

Bahkan negara yang dulu luluh lantah seperti jepang pun sangat memperhatikan nasib guru di negara mereka. Dengan ujung tombak para guru mereka berhasil menjadikan jepang yang dulunya hancur lebur menjadi negara yang besar seperti hari ini.

Tentunya membutuhkan proses yang  panjang dan berkelanjutan dalam dunia pendidikan untuk menciptakan negara ini menjadi lebih baik.

Tanggung Jawab Profesionalitas Guru


Guru merupakan pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. 

Begitu berat tugas seorang guru jika kita berkaca pada pengertian tersebut. Seorang guru harus mengerjakan banyak tugas dan kewajiban dengan baik dan secara profesional.

Profesional dalam artian berkerja sesuai dengan porsi jamnya di sekolah dan mengerjakan tugas-tugas di luar sekolah seperti, membuat RPP, membuat materi dan bahan ajar, membuat bahan evaluasi, mengevaluasi hasil belajar, dan masih banyak tugas lainnya. 

Bahkan tugas yang sangat banyak tersebut harus dikerjakan oleh seorang guru seharian penuh di sekolah dan di luar sekolah.

Tentunya tanggung jawab yang lebih besar bukan hanya mengajar para siswa dengan materi. Tetapi seorang guru harus bisa mendidik terlebih soal tata krama dan moral para siswanya.

Karena kelas pada dasarnya adalah rumah untuk penanaman karakter para siswanya dan tempat pengembangan pola pikir mereka.

Tentunya kerja keras dan pengabdian seorang guru perlu diapresiasi lebih. Tak salah mereka disanding dengan pangkat pahlawan tanpa tanda jasa.

Kesenjangan Kesejahteraan para Guru

Menurut UUD 45 pasal 31 ayat 4: "Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional."

Namun sayangnya jumlah tersebut tidak menyentuh terlalu banyak terhadap kesejahteraan guru honorer, bahkan perbandingan pendapatan guru honorer dan PNS pun sangat jauh berbeda. 

Pengangkatan PNS bagai bongkahan berlian bagi guru honorer yang berharap tanggung jawabnya sejalan dengan kesejahteraannya.

Ironi memang ketika PNS mendapatkan gaji 3-6 juta/bulan, para guru honorer hanya bisa menelan ludahnya sendiri karena hanya mendapatkan gaji ratusan ribu per bulannya. 

Bahkan tak sedikit guru honorer yang menerima gaji Rp. 7.500,00/jam. Hal ini sangat miris jika kita berkaca lagi pada tugas dan kewajiban seorang guru.

Bayangkan, Rp. 7.500,00/jam jika dikalikan dengan jumlah penuh mereka mengajar 24 jam sebagai syarat sertifikasi, hanya mendapatkan gaji Rp. 720.000,00/bulan. 

Mungkin janji dari mas mentri Nadiem Makarim mengenai guru honorer senior yang diafirmasi agar lolos sebagai PPPK tanpa tes membawa kebahagiaan tersendiri bagi mereka. Walaupun pada dasarnya itu bukan sepenuhnya kewenangan kemendiknudristek.

Sertifikasi PPPK memang bagai angin segar bagi guru honorer, namun sayangnya angin segar tersebut tak selancar janjinya, bahkan sering sekali mengalami kemunduran dari jadwal yang seharusnya.

Kalau sudah begitu, dengan segudang tanggung jawab yang diemban guru maka wajar jika banyak guru honorer berkerja tak maksimal dan bahkan tak memiliki semangat untuk mengajar dan menjalankan tugasnya di kelas dan di luar kelas.

Dan yang terjadi malah menomor duakan profesi mereka sebagai guru dan memilih mencari penghasilan lain diluar itu.

Hasilnya, guru honorer hanya mengajar di kelas sekadarnya saja, tanpa mengajarkan hal lebih atau dengan metode yang membuat suasana kelas hidup setiap harinya. 

Guru honorer pun kebanyakan hanya mengajar sesuai dengan apa yang ada di buku, tanpa membawa alat dan bahan ajar tambahan sebagai penunjang keberlangsungan proses Kegiatan Belajar Mengajar di kelas.

Inilah alasan banyak istilah dari masyarakat bahwa berani berprofesi menjadi guru adalah sebuah bentuk pengabdian, bukan pekerjaan.

Bahkan dampak tersebut menjadikan tren penurunan mimpi anak muda untuk berani menjadi guru. Bahkan sekedar bermimpi mereka akan berpikir 100 kali untuk itu.

Guru memang harus memiliki keikhlasan dalam menjalani kewajibannya, namun perhatian terhadap kesejahteraan guru pun sangat perlu untuk menunjang semangat dalam menjalankan tugasnya.

Agar anak-anak muda tak lagi takut untuk bermimpi menjadi guru. Dan marwah seorang guru akan kembali menguat setelahnya.