Penulis
2 tahun lalu · 415 view · 2 menit baca · Pendidikan img_20160505_203537_569.jpg
Google.com

Guru, Tanggung Jawab, dan Kesejahteraan

Nasib Guru Honorer

Guru merupakan pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Begitu berat tugas seorang guru jika kita berkaca pada pengertian tersebut. Seorang guru harus mengerjakan banyak tugas dan kewajiban dengan baik dan secara profesional.

Profesional dalam artian berkerja sesuai dengan porsi jamnya di sekolah dan mengerjakan tugas-tugas di luar sekolah seperti, membuat RPP, membuat materi dan bahan ajar, membuat bahan evaluasi, mengevaluasi hasil belajar, dan masih banyak tugas lainnya. Bahkan tugas yang sangat banyak tersebut harus dikerjakan oleh seorang guru seharian penuh di sekolah dan di luar sekolah.

Menteri Anies pada konferensi internasional di bawah Dirjen UNESCO Irina Bokova, bekerja sama dengan Geneva Spiritual Appeal Swiss dan Public Policy Institute Bulgaria pada 10-12 Maret 2016 mengatakan bahwa jumlah guru PNS meningkat 23 persen dari tahun 2000 hingga 2015, yaitu dari 1,42 juta menjadi 1,75 juta. Guru honorer pada periode yang sama meningkat 860 persen, dari 84,6 ribu menjadi 812,1 ribu.

Adapun jumlah siswa meningkat 17 persen, yaitu dari 37,9 juta menjadi 44,5 juta. Setiap tahunnya jumlah guru honorer selalu bertambah banyak dan melonjak tajam. Hal tersebut sayangnya tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan pendidikan di Indonesia.

Hasilnya banyak lulusan keguruan baru yang kebingungan mencari pekerjaan, dan bahkan yang sudah menjadi guru honorer yang sangat lama pun tak kunjung juga diangkat menjadi PNS.

Menurut UUD 45 pasal 31 ayat 4: "Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional."

Namun sayangnya jumlah tersebut tidak menyentuh terlalu banyak terhadap kesejahteraan guru honorer, bahkan perbandingan pendapatan guru honorer dan PNS pun sangat jauh berbeda. Pengangkatan PNS bagai bongkahan berlian bagi guru honorer yang berharap tanggung jawabnya sejalan dengan kesejahteraannya.

Ironi memang ketika PNS mendapatkan gaji 3-6 juta/bulan, para guru honorer hanya bisa menelan ludahnya sendiri karena hanya mendapatkan gaji ratusan ribu per bulannya. Bahkan tak sedikit guru honorer yang menerima gaji Rp. 7.500,00/jam. Hal ini sangat miris jika kita berkaca lagi pada tugas dan kewajiban seorang guru.

Bayangkan, Rp. 7.500,00/jam jika dikalikan dengan jumlah penuh mereka mengajar 24 jam sebagai syarat sertifikasi, hanya mendapatkan gaji Rp. 720.000,00/bulan. Sertifikasi memang bagai angin segar bagi guru honorer, namun sayangnya angin segar tersebut tak selancar janjinya, bahkan sering sekali mengalami kemunduran dari jadwal yang seharusnya.

Selain itu, terdapat banyak kasus pengangkatan PNS yang tiba-tiba berhenti di tengah jalan tanpa sebab yang jelas dan kemudian saling lempar tanggung jawab ketika guru honorer mempertanyakan nasib pengangkatan PNS atas diri mereka.

Kalau sudah begitu, dengan segudang tanggung jawab yang diemban guru maka wajar jika banyak guru honorer berkerja tak maksimal dan bahkan tak memiliki semangat untuk mengajar dan menjalankan tugasnya di kelas dan di luar kelas.

Hasilnya, guru honorer hanya mengajar di kelas sekadarnya saja, tanpa mengajarkan hal lebih atau dengan metode yang membuat suasana kelas hidup setiap harinya. Guru honorer pun kebanyakan hanya mengajar sesuai dengan apa yang ada di buku, tanpa membawa alat dan bahan ajar tambahan sebagai penunjang keberlangsungan proses Kegiatan Belajar Mengajar di kelas.

Guru memang harus memiliki keikhlasan dalam menjalani kewajibannya, namun perhatian terhadap kesejahteraan guru pun sangat perlu untuk menunjang semangat dalam menjalankan tugasnya.