Arsiparis
2 tahun lalu · 259 view · 2 menit baca · Gaya Hidup sikh_gurus.jpg
Foto: Wikipedia

Guru Spiritual dan Kekosongan Jiwa Masyarakat Urban

Guru adalah sosok yang bisa digugu dan ditiru, tak terkecuali itu adalah guru spiritual. Mereka disebut guru spiritual karena dianggap mempunyai kelebihan di bidang agama. Fenomena guru spiritual sekarang ini menjadi marak di pemberitaan dengan ditangkapnya sosok Gatot Brajamusti yang fenomenal tersebut. Kehadiran guru spiritual tak terlepas dengan adanya kekosongan ruhani yang menjangkiti masyarakat kota.

Di tengah tingkat persaingan hidup di kota yang menyita waktu dan fikiran masyarakat kota,  kita tidak bisa serta merta menyalahkan mereka hingga melupakan asupan ruhani. Mereka kadang melupakan elemen dasar ajaran agamanya entah apapun itu agamanya hanya karena sibuk menyambung hidup yang keras di kota. 

Pada akhirnya dikala stress semakin menumpuk dan ketenangan hidup semakin sulit didapat ditengah berlimpahnya materi mereka pun mencoba mencari sesuati yang transenden, agama. Pada akhirnya mereka pun membentuk kelompok pengajian dengan mendatangkan seorang guru agama yang lambut laun semakin dekat secara personal dan dianggap sebagai guru spiritualnya.

Tak jarang pengajian pengajian tersebut lambat laut berperilaku  seperti di arisan ibu ibu yang sibuk dengan seragam dan asesoris yang dipakai. Kondisi inilah yang memicu lahirnya guru spiritual di kota kota besar terutama di Jakarta. Banyak artis yang mengaku mempunyai guru spiritual sebagai pembimbingnya dalam beragama. Mereka itu biasanya sejak remaja sudah bergelut dengan dunia hiburan sehingga tak ada waktu untuk mendalami atau sekedar memahami elemen dasar agamanya.

Banyak di antara mereka yang beragama Islam, namun untuk membaca Al Quran atau pun bacaan sholat, banyak yang tidak bisa. Ketika mereka menyadari kekurangan ini di tengah kesibukannya mereka akhirnya memutuskan mencari sosok yang bisa menuntunnya. Meski ada juga yang memang sudah bisa baca al quran tapi kadang melalaikan sholat itu dianggap biasa. Ketika mereka menemukan sosok yang rajin sholat dianggapnya dia adalah ustadz yang bisa membimbingnya padahal itu biasa karena sholat adalah kewajiban bagi penganut Islam.

Kondisi inilah yang sering terjadi di mana mereka akhirnya menemukan sosok yang salah dalam proses pembelajaran agama karena mereka sendiri pun tidak memahami bagaimanakah sejatinya seorang guru agama itu. Tak jarang mereka dimanfaatkan secara materi oleh oknum oknum tersebut. 

Kekosongan jiwa adalah buah dari pemujaan materi semata. Mereka mungkin lupa bahwa selain kebutuhan fisik yang selalu harus dipenuhi kebutuhan ruhani pun mutlak diperlukan agar hidup menjadi seimbang. Bukankah kita selalu melihat ke sekeliling kita bahwa segalanya diciptakan saling melengkapi dalam keseimbangan ukuran misalnya: siang-malam, panas-dingin, dan kaya-miskin.  

Biar bagaimanapun pemahaman orang tua di rumah untuk memberikan teladan pada keluarga lebih utama dibanding kehadiran sosok guru spiritual yang kadang tidak jelas asal usul ilmunya. Bukankah fenomena guru spiritual yang akhirnya berkonflik dengan muridnya sudah sering terjadi? Mengapa itu selalu terulang?

Mari bersama berusaha memahami agama secara komprehensif tanpa mengkultuskan pribadi seseorang hingga harus menganggapnya sebagai guru spiritual. Tanggung jawab kita dalam menjalankan agama adalah hal yang sangat personal dan pribadi sifatnya. Dan lagi, urusan ibadahmu adalah kewajibanmu sendiri karena agamamu ada di tanganmu bukan di tangan guru spiritual.