Seniman
3 tahun lalu · 416 view · 2 menit baca · Pendidikan nabibutahuruf.jpg
buktidansaksi.com

Guru Membisu, Murid Membuta

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah koran nasional. Ada dua berita yang kontras bin miris. Pertama, ada berita berjudul “Astaga, 6,2 Juta Warga Masih Buta Huruf”, kemudian di halaman yang sama ada juga berita berjudul “Gawat, Jutaan Guru Terancam Nganggur. Kok Kenapa?”.

Usai membaca berita itu saya termenung. Ini apa? Lelucon macam apa ini? Setelah dipikir-pikir, sepertinya masalah utama yang menyebabkan keadaan miris itu adalah ‘nggak ketemu’.

Maksud saya bukan masalah atau solusi yang tidak ditemukan di mana letaknya, tetapi tentang persoalan memberi dan menerima yang tidak pernah dipertemukan. Sehingga ya begitu. Solusi semakin jauh mencapai titik-titik api permasalahan. Kemudian api masalah semakin berkobar, asapnya kemana-mana.

‘Nggak ketemu’ ini bahaya. Lihat saja pasangan yang sedang dimabuk asmara di sekitar kita. Tidak bertemu dalam waktu sehari saja, tubuh mereka gemetaran, keringatan, gelisah, resah, stres dan menganggu konsentrasi, persis macam orang terkena penyakit anemia.

Pastinya ‘nggak ketemu’ akan menciptakan keadaan yang semakin runyam. Istilahnya, seperti sawah yang tidak bertemu air, jelas akan gagal panen.

Entah kenapa permasalahan yang terkadang bisa diatasi dengan cara sederhana, namun dibuat semakin rumit dan penuh dengan perdebatan basi yang menguras waktu serta pikiran. Dua berita di atas contohnya.

Jika ada kesempatan untuk mempertemukan masalah buta huruf dengan masalah ancaman pengangguran bagi guru ini, maka secara terang-terangan tindakan itu akan menjadi sebuah solusi. Dengan demikian, sikap hidup bergaya simbiosis mutualisme jelas bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Perhatikanlah alam semesta, misalnya bunga sepatu dan lebah. Bunga sepatu dibantu dalam hal penyerbukan dan lebah mendapatkan nektar. Adil. Begitu juga dengan burung jalak dan kerbau, ikan badut dan anemon laut, bunga dan kupu-kupu serta berbagai contoh lainnya yang terhampar di alam semesta.

Pastinya jika hal bergaya simbiosis mutualisme itu diterapkan, maka akan ada pertanyaan baru sebelum solusi ini digerakkan, “Lalu siapa yang akan menggaji kami perbulannya?”. Klasik!

Begitulah kalau hidup di Indonesia. Setiap perbuatan dan sikap selalu diukur dengan uang. Menurut saya, jika kita benar-benar ingin jadi seorang guru, tidaklah sulit. Sekarang pun kita bisa mengajar kok. Datangi anak tetangga, anak jalanan atau siapa saja yang ingin belajar, lalu mulailah mengajar. Simpel.

Namun masalahnya ada di pemikiran kita yang selalu mempersoalkan tentang finansial, rezeki, ekonomi dan entah apa lagi istilahnya. Padahal kita tahu kalau hal itu telah diatur oleh-Nya. Tapi kenapa masih takut ya?

Jika pergerakan tak ada, maka keadaan ‘nggak ketemu’ ini semakin meluas. Maklumlah, beberapa orang di antara kita masih memikirkan ‘nggak ketemu-nya’ antara pekerjaan dan penghasilan yang diharapkan. Ujung-ujungnya, tidak ada satupun yang bertemu. Buntu!

Entahlah, seringkali kita salah mengartikan tentang hal yang bernama profesi sehingga membuat jiwa kian jauh dari hakikat diri. Beberapa hal yang dihembus berbagai pihak tak bertanggung-jawab pun juga acap menciptakan pro kontra yang semakin menghilangkan makna dan hakikat sebuah profesi.

Bapak dan Ibu di Kementerian Pendidikan, dinas terkait dan pihak-pihak lainnya yang aktif menangani masalah pendidikan, bagaimana menurut Anda? Lihatlah, koran saja telah secara vulgar menampilkan dua berita kontras, yang jika mau, solusinya ada.

Keadaan ‘nggak ketemu’ ini bukan hanya terjadi pada dua berita di atas, namun juga terjadi pada banyak permasalahan negeri atau juga pribadi. Setidaknya jika benar-benar kita mengamati dan mencermati, gaya hidup simbiosis mutualisme adalah ciri rakyat Indonesia aslinya, setidaknya Bhineka Tunggal Ika pun kian kuat dan perkasa. Mari!

Artikel Terkait