Pagi ini di Whatsapp Gruop (WAG) alumni SMA saya, seorang teman mengirimkan sebuah potongan video. Tadinya saya mengira itu adalah video hoax yang biasa menyebar di WAG. Ternyata itu adalah potongan video guru SMA kami yang sedang merayakan hari guru tahun 2021.

Dalam video tersebut, guru-guru kami sedang mendendangkan lagu daerah berjudul Cik Minah. Sambil sedikit mengayunkan bahu ke kanan dan ke kiri, guru-guru menyanyikan lagu dengan syahdu. Wajah polos mereka dalam bersenandung menarik memori saya pada masa-masa sekolah dulu. 

Saya hanyut dalam kenangan jatuh dan ditertawakan di depan kelas, memanjat tembok pagar yang kemudian kami lompati, juga tentang lapangan upacara tempat kami selalu hormat pada bendera.

"Semoga pahala para Guru karena mendidik kita terus mengalir kepada mereka. Aminnn," pesanku membalas potongan video di WAG alumni itu. Doa itu disahuti puluhan kata amin dari rekan yang lain.

Lini masa media sosial saya pada hari ini juga tengah dipenuhi dengan ucapan maupun perayaan hari guru. Ada meme, puisi, ada pula yang berbagi kisah. 

Di sekolah-sekolah, hari guru dirayakan dengan upacara bendera, pemberian hadiah dan kado dari murid. Ada juga yang mengadakan pemilihan guru favorit sampai dengan perlombaan dan pertunjukan yang melibatkan para siswa dan guru.

Hari ini, pagi-pagi sekali, saya juga diminta oleh anak saya untuk membelikan hadiah kepada gurunya sebagai perayaan hari guru disekolahnya. Padahal saat itu Ia sudah hampir terlambat masuk sekolah. Namun dia tetap memaksa untuk membeli hadiah. Takut nanti berbeda dengan teman-temannya yang diyakininya sudah siap dengan berbagai jenis hadiah.

***

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Pengabdian guru yang turut mencerdaskan kehidupan bangsa tidak selalu diiringi dengan gelar kepahlawanan. Guru merupakan "tulang punggung" negara yang berperan penting terciptanya sumber daya manusia yang unggul dan bersaing. 

Hidup seorang manusia tidak pernah bisa dipisahkan dari peran guru. Demikian pula dengan hidup saya. Sedari kecil sampai dengan hari ini, saya diberikan karunia untuk selalu berdekatan dengan guru.

Saya dilahirkan dari rahim seorang guru. Ibu saya menjadi guru setelah meniti karier dari seorang honorer. Perjuangan ibu terlalu panjang untuk diceritakan. Dulu, cerita ibu, mencari seseorang yang mau menjadi guru sangat sulit. "Gajinya kecil," kata ibu.  

Ibu Saya adalah segelintir orang yang mau mengabdi menjadi guru. Meskipun akhirnya diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil, namun guru di jaman itu nasibnya tak lebih baik. Gajinya masih saja kecil. Berbeda sekali dengan jaman sekarang yang sudah mengenal berbagai jenis pemasukan seperti uang sertifikasi, tunjangan dan penghasilan lainnya.

Selain ibu, kedekatan saya dengan guru juga datang dari Istri. Saya menikahi seorang guru di tahun 2013. Dia yang sebenarnya tak pernah bercita-cita jadi guru justru terjebak pada profesi yang punya segudang pahala ini. Setelah dijalani, Istri saya kini sudah berdamai dengan cita-citanya. Bahkan, bisa dikatakan saat ini dia sudah expert dibidang itu dengan segala prestasinya.

***

Di luar itu semua, sesungguhnya kita memang tak bisa lepas dari guru. Guru selama ini dipandang sebagai manusia atau individu yang mempunyai pengetahuan dalam bidang pendidikan. Atau bisa juga diartikan sebagai seseorang yang berkomitmen untuk mengajar, mendidik, membimbing, melatih siswa untuk mengetahui pengetahuan yang mereka ajarkan.

Namun lebih dari itu, guru bagi saya dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang darinya dapat diambil sebuah pelajaran, dan ilmu pengetahuan.  Itulah mengapa ada ungkapan "Pengalaman Adalah Guru Terbaik."

Ungkapan itu dapat dimaknai bahwa pengalaman atau sesuatu yang pernah di alami, dirasakan dan dijalani bisa dijadikan pelajaran dan pengetahuan baru bagi kita menuju langkah perjalanan hidup berikutnya. 

Selain itu ada pula peribahasa dari masyarakat Minang kabau yang terkenal "Alam Takambang Manjadi Guru." Peribahasa itu mengisyaratkan bahwa segala sesuatu di alam ini dapat dijadikan ilmu pengetahuan. Guru tidak semata-mata disematkan pada manusia saja. Selain itu hal tersebut juga merupakan suatu adagium yang mengajak masyarakat untuk selalu menuntut ilmu.

***

Menjadi guru bukanlah hal yang mudah. Pepatah Jawa menyebut guru berasal dari kata "digugu dan ditiru." Artinya guru harus bisa menjadi panutan bagi semua pihak. Guru harus menguasai sikap, etika, dan perilaku yang baik untuk menjadi contoh bagi orang lain, khususnya bagi murid-muridnya.

Akan tetapi tidak jarang pada jaman ini guru hanya sekadar sebuah profesi semata. Yaitu hanya menjadi sebuah pekerjaan yang menjadi perantara untuk memperoleh pendapatan bulanan. Dengan begitu peran guru yang paling substansi sering kali terabaikan.

Hendaknya menjadi guru adalah sebuah panggilan jiwa. Guru harus betul-betul memberikan ilmu dan pendidikan kepada anak didiknya secara tulus. Dengan demikian ilmu yang diberikan tersebut dapat diterima oleh murid-murid secara menyeluruh dan terserap maksimal.

Selain itu kesejahteraan guru juga harus diperhatikan dengan serius. Guru yang mengabdi dengan setulus hati juga memiliki kebutuhan dasar yang jika tidak dapat terpenuhi bisa mempengaruhi semangat dan ketulusannya.