Pembelajaran online menjadi hal yang menyebalkan, tidak hanya bagi murid, tapi juga bagi guru. Saya adalah mahasiswa yang pada saat ini merangkap sebagai guru. Karena itu saya sedikit paham apa yang dirasakan para guru saat ini.

Guru jarang dianggap orang yang terdampak pandemi. Justru guru selalu dikambing-hitamkan dalam pembelajaran online. Padahal guru juga korban ketika pandemi, hanya saja mereka tidak berteriak seperti para korban lainnya.

Ada video yang sempat viral trending. Tentang murid yang mengatakan bahwa jika hanya sekadar informasi, maka google lebih hebat dari guru. Seakan-akan mengatakan bahwa mereka bisa belajar sendiri melalui google jika sistemnya online.

Saya tidak paham entah copas dari mana kalimat tersebut, namun yang saya pahami, google hanyalah salah satu sumber belajar, bukan media pembelajaran atau materi belajar yang sudah matang.

Di google memang ada semua informasi yang diperlukan. Namun, karena saking banyaknya informasi yang ada, maka harus disaring terlebih dahulu. Nah, menyaring informasi tersebut bukanlah hal yang mudah.

Misal anda mencari materi untuk pelajaran bab 2, anda harus cermat melihat kurikulumnya, karena beda kurikulum beda juga materi yang disajikan. Kemudian, anda juga harus melihat kesesuaian materi yang ada di buku paket atau LKS.

Itu baru materi. Belum lagi media pembelajaran, jika mencari untuk diri sendiri mungkin memang mudah, karena indikatornya adalah kepahaman diri sendiri. Namun beda ketika indikatornya adalah kepahaman kolektif, kami harus memikirkan apakah materi tersebut mudah dipahami, tidak hanya bagi satu dua orang murid, melainkan semuanya.

Yang terjadi di lapangan adalah ketika kami mengirimkan media pembelajaran berupa link youtube, ada beberapa murid yang teriak-teriak tidak punya kuota. Ketika kami kirimkan materi berupa video yang dikirim di WA, ada saja murid yang teriak HP-nya tidak memungkinkan membuka file tersebut.

Jadi untuk mempersiapkan suatu pembelajaran, kami harus mempertimbangkan banyak hal, tidak bisa hanya dengan copas materi dari google kemudian dibagikan begitu saja.

Jika diringkas, yang harus dilakukan oleh guru ketika mempersiapkan pembelajaran adalah memulai dengan mencari materi di beberapa sumber belajar, bisa google atau lainnya. Kemudian disaring dan dipilah agar bisa diterima secara bertahap.

Kemudian kami mengemas materi tersebut menjadi media pembelajaran, entah dalam power point, youtube, atau lainnya, dengan tujuan untuk membuat materi yang disampaikan terlihat menarik dan mudah dipahami. Dan tidak lupa, guru juga harus mempertimbangkan apakah media pembelajaran tersebut bisa diakses oleh semua murid dengan fasilitas pribadi masing-masing.

Setelah pemberian materi dan tugas, guru tidak langsung istirahat. Guru harus mengoreksi soal tersebut serta memberikan saran dengan membalas hasil belajar satu per satu murid. Sekali lagi, membalas satu per satu murid.

Perlu dicatat, dalam satu kelas minimal ada 25 murid. Dalam sehari biasanya ada lebih dari satu kelas yang diajar. Bayangkan saja betapa susahnya, tiap hari harus mempersiapkan pembelajaran dan mengoreksi satu per satu tugas murid.

Alhasil, jam kerja guru menjadi bertambah. Pada pagi hari mereka memberikan materi dan tugas, kemudian siang dan sorenya digunakan untuk mengoreksi soal, dan malamnya untuk mempersiapkan materi di hari berikutnya. Sehingga banyak guru muda seperti saya yang saking capeknya sampai tidur tanpa diucapkan selamat malam.

Tidak jarang guru juga harus begadang untuk menunggu murid yang telat mengirimkan hasil belajarnya. Murid yang telat biasanya karena tidak punya HP sendiri, sehingga harus pinjem orang tuanya. Ironinya, orang tua mereka pulangnya sore sampai malem karena kerja. Ini terjadi hampir di semua sekolah SD.

Belum lagi guru harus memberikan pendampingan kepada murid yang dirasa kurang memahami materi, atau tidak mengumpulkan hasil belajarnya. Karena itu, mbok yo tulung gak usah protes ketika mengirimkan tugas kemudian dibalas dengan jempol saja.

Perlu dicatat juga bahwa ketika online, guru tetap masuk kantor pada jam sekolah. Kalian juga harus tahu jika banyak di antara guru yang berangkat pagi-pagi dengan meninggalkan keluarganya. Mereka bahkan tidak bisa memastikan anak-anaknya sudah mandi atau belum. Mereka juga tidak bisa mendampingi anak kandungnya untuk belajar online karena harus berangkat ke kantor untuk mengurus anak yang lain.

Yang paling menyedihkan adalah guru yang baru memiliki anak. Mereka harus rela meninggalkan anaknya untuk mengajar, anak kecilnya tidak mungkin dibawa ke sekolah. Coba bayangkan bagaimana perasaan guru tersebut. Betapa semrawut hatinya saat tiap hari harus meninggalkan anak yang baru dilahirkannya.

Dengan keadaan seperti itu, apakah masih ada yang tega mengatakan bahwa guru adalah orang yang tidak terdampak dalam pandemi?

Para guru mengajar dengan keikhlasan tanpa mengeluh kalau dirinya sedang kesusahan. karena itu ketika guru mendapatkan bantuan kuota gratis dari pemerintah (22 September 2020), saya bisa merasakan ekspresi kebahagiaan mereka.

Berbeda dengan mahasiswa yang ketika mendapatkan bantuan kuota senangnya biasa aja. Bahkan ada yang berpikir kenapa bantuan tersebut tidak berupa uang saja, karena di rumahnya sudah ada wifi. Perbedaan kebahagiaan antara guru dan mahasiswa ini bukan lebay, ini adalah hal yang wajar.

Di balik kebahagiaan para guru saat dapet kuota gratis dari pemerintah bisa diambil pelajaran bahwa guru hanya meminta satu hal, yaitu dihargai. Ketika mendapatkan kuota gratis, kebahagiaan guru membuncah, bukan karena faktor materi, namun lebih pada penghargaan bahwa mereka dianggap ada.

Menjadi guru itu dituntut tidak boleh marah, karena harus jaga wibawa. Tidak boleh lelah, karena harus selalu berusaha mencerdaskan kehidupan bangsa.

Karena itu, untuk siapa saja yang menganggap bahwa guru bukanlah korban, atau bahkan berpikir kalau jadi guru di masa pembelajaran online itu enak karena cuma ngasih tugas saja tiap hari, mbok yo tulung sadaro, ojo sak penak e dewe.