Tidak bisa dimungkiri bahwa guru adalah salah satu komponen terpenting dalam pendidikan di sekolah. 

Setiap guru dituntut untuk memberikan pendidikan kepada siswa-siswi nya sebaik mungkin, baik lewat metode mengajar dan aspek-aspek pendidikan yang lain. 

Karena itu lah, pendidikan yang baik lahir dari guru yang baik, sebaliknya pendidikan yang buruk lahir dari guru yang buruk juga.

Saya yakin semua guru pasti memahami konsep di atas, tetapi tidak bisa kita pungkiri juga ada beberapa guru yang dengan sengaja atau tidak sengaja mengabaikan konsep bagaimana menjadi guru yang baik.

Mereka yang ingin menjadi guru yang baik tentunya berusaha semaksimal mungkin untuk menghidupkan suasana kelas, memahamkan siswa dengan berbagai cara walaupun sang guru harus menemukan 1001 cara hanya untuk memahamkan 1 siswa.

Sebaliknya, guru yang tidak baik menurut saya adalah guru yang masuk ke kelas hanya untuk menggugurkan kewajibannya, dia tidak memiliki rasa untuk mengerahkan semua tenaganya untuk pendidikan siswa-siswi nya, bahkan jauh daripada itu, mereka mungkin hanya mengejar gaji yang akan mereka terima di setiap di awal bulannya.

Meskipun kalau dipikirkan secara realistis, gaji memang sangat penting bagi seorang guru, tetapi pahamnya seorang murid atas apa yang diajarkan tentu lebih besar dan baik pula nilai dan ganjarannya.

Satu konsep yang saya sukai dari salah satu guru/ustaz ketika masih nyantri di salah satu pondok pesantren, beliau berkata" jadilah guru yang hakiki, guru yang hakiki adalah guru yang merasakan kebahagiaan tiada tara ketika semua muridnya memahami apa yang diajarkannya".

Dari konsep di atas, tentunya gambaran yang paling jelas kita dapatkan adalah kebahagiaan guru bukan terletak pada gajinya, tetapi kebahagiaan guru terletak pada muridnya.

Inilah yang mungkin menjadi salah satu faktor mengapa masih banyak guru yang mengeluh tentang betapa rendahnya gaji guru di Indonesia, tentunya keluhan ini benar adanya dan saya pun tidak berusaha menyalahkan keluhan ini secara keseluruhan, tetapi keluhan ini tentunya tidak menjadi alasan untuk mengurangi rasa perhatian kita terhadap murid.

Sungguh betapa hinanya ketika seorang guru yang mengabaikan murid hanya karena gaji rendah yang didapatnya.

Gaji dan murid adalah 2 hal yang berbeda, mereka tidak bisa dibandingkan atau bahkan disamakan. Tidak bisa membeli kebutuhan rumah dikarenakan sedikitnya gaji yang diterima tidaklah sama dengan tidak pahamnya murid karena ketidakprofesionalan guru dalam kerjanya. 

Kasarnya, gajimu adalah masalah pribadimu akan tetapi pahamnya murid adalah tanggung jawabmu.

Kembali saya ingatkan, saya bukanlah pembenci guru yang menerima gajinya, sama sekali tidak, saya hanya tidak suka ketika ada seorang guru yang membuat alasan ketidakprofesionalan nya karena gajinya yang rendah.

Rasanya, hal ini menjadi tabu untuk dibicarakan, sulit untuk dibayangkan, bahkan sangat sukar untuk dikerjakan karena pola pikir kita yang sudah berantakan. Sebagian guru bukan lagi adalah pahlawan, tetapi guru seakan menjadi seorang karyawan yang kalau tak digaji maka tidak bekerja layaknya biasanya.

Maka agaknya kalau kita masih mempertahankan pola pikir ini, menurut saya guru bukan lagi pahlawan tanpa tanda jasa, tetapi guru adalah pahlawan tanpa keikhlasan. 

Gaji adalah hak dan mengajar dengan sebaiknya adalah kewajiban, maka bagaimana mungkin kita menuntut hak kita sedangkan dengan kewajiban saja kita lalai dan lupa. 

Berbicara tentang guru, untuk melengkapi tulisan saya, saya ingin memberikan satu pengalaman ketika saya menjadi seorang guru. Dari pengalaman tersebut seakan merubah pandangan saya terhadap murid. 

Semua guru pasti mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, metode belajar yang tentunya juga berbeda antara satu sama lain. 

Maka wajar lah jikalau ada guru yang pemarah, guru yang penyabar, guru yang selalu ramai ketika mengajar atau bahkan ada guru yang selalu memberi tugas karena malas menjelaskan. 

Diantara banyaknya karakter guru, saya adalah guru yang bisa dikatakan selalu ingin mendisiplinkan anak murid saya, mereka saya paksa untuk mengikuti semua disiplin belajar yang saya terapkan kepada mereka. 

Ini tentunya bukan tanpa alasan, semua itu karena saya berpikiran bahwa sukses dan gagalnya sebuah pembelajaran ada ditangan guru sepenuhnya. Seorang murid yang malas lahir dari guru yang enggan untuk menegur muridnya. Faktor inilah yang membuat saya berpikiran seperti itu. 

Di pondok saya, semua murid diwajibkan untuk menghafal beberapa surah dari juz 30 setiap semester. Mereka menghafalkan surah ini didepan wali kelas mereka, dan waktu itu saya adalah wali kelas. 

Ketika beberapa murid saya sedang menghafalkan surah di luar waktu belajar dikelas, salah satu murid saya menemukan sebuah bekas putung rokok yang tidak sengaja dibuang teman sekantor saya didepan kamar. 

Lantas murid ini mengambil putung rokok tersebut, lalu dengan santainya berkeliling didepan saya sambil menghafal beberapa surah dengan tersenyum bercanda sambil memegang putung rokok tersebut layaknya seorang yang sedang merokok. 

Saya berpikir ketika itu, bahwa anak yang sudah mulai berpikir dewasa tidak mungkin melakukan hal tersebut didepan gurunya walaupun dalam konteks bercanda. Ini menandakan bahwa sebagian murid saya yang pada saat itu adalah kelas 9 masih banyak berpikiran seperti anak kecil. 

Lalu kenapa saya terlalu memaksakan pikiran saya untuk saya terapkan kepada anak-anak yang bahkan mungkin belum paham terhadap konsep itu. 

Ini layaknya mengajari rumus Phytagoras kepada anak taman kanak-kanak. Mereka akan mendengarmu tetapi mereka tidak akan memperhatikanmu. Ini berarti bahwa sistem pembelajaran yang kita terapkan sia-sia. 

Maka kesimpulannya adalah pendidikan yang baik adalah pendidikan yang sesuai dengan umur dan masa pertumbuhan murid. Sometimes, you have to be a children to teach a children. 

Seorang guru seharusnya bisa mencari metode pembelajaran yang sesuai dengan masa dan usia peserta didiknya, bukan malah memaksa anak didiknya untuk berpikir seperti dia atau berusaha mendewasakan mereka sebelum masanya.

Maka untuk mengakhiri catatan kecil ini, saya ingin menyampaikan satu lagi buah pikiran yang saya inti sari kan dari perkataan kiyai saya sewaktu di pondok dahulu. 

Guru bukan tentang jabatan atau titel yang dia punya, guru bukan tentang banyak atau sedikit murid yang diajarnya, tetapi guru tentang seberapa besar keikhlasannya terhadap bangsa, negeri dan agamanya.