Sebelumnya, aku ingin mengucapkan selamat hari Guru pada semua guru kehidupan, apa pun bidang keilmuannya dan tempat memberikan ilmunya, tanggal 25 November 2019 ini.

Seandainya ucapan selamat ini tidak menjadi status di media sosial teman-teman di dunia maya, aku tidak akan tahu; postingan mereka menjadi pengingat. Aku lupa jika 25 November adalah hari Guru karena untukku tanggal 25 Januari adalah tanggal yang lebih penting, tanggal lahirku.

Ngomong-ngomong tentang guru, bulan ini ada postingan yang lagi viral dari grup Balikpapanku dan banyak dibagikan teman-teman di Facebook (FB). Redaksi dari "Balikpapanku"seperti ini; kisah mereka yang pernah diremehkan namun tetap semangat menunjukkan bahwa mereka mampu. Bagimana kisahmu?

Kemudian, ada sebanyak delapan (8) foto dari Tweet yang di-share, di antaranya; yang mungkin bermula dari Abam @palingmahir, “Tweet ini saya dedikasikan untuk Bu Titiek, guru BK yang bilang saya gabakal masuk PTN; maaf saya cumlaude.” Lalu. Ada foto laki-laki yang berpakaian wisuda, mungkin sudah di wisuda di antara teman-temannya.

Ada juga posting dari Yiyis @laririis yang replying to @palingmahir, menulis, “dan ini buat wali kelas gue sendiri yang bilang bahwa jurusan bahasa pas SMA adalah buangan, mustahil bisa berkembang.” Kemudian, ada foto perempuan yang bertoga di suatu tempat foto studio.

Tulisan dari Ni Tya @mindfainted, replying to @palingmahir, bilang, “Buat bu Rini yang bilang aku gak bisa lolos S1 karena nilai UN Fisikaku 5.25, mohon maaf bu saya S3.” Sambil posting surat keterangan sebagai mahasiswa S3 IPB. Dan sebagainya.

Postingan ini kemudian ramai dibagikan teman-temanku sebagai status dengan ditambahi komentar sendiri, misalnya; “Aku jadi ahli bahasa, bu.” “Buat yang mengajar, ini bisa jadi bahan sharing di kelas.” Dan yang agak sebel dengan posting seperti ini bilang, “Kalian tidak menghargai jerih payah gurumu.”

Guru di Antara Karamah dan Amarah

Ada balasan yang lucu menanggapi ketika postingan “kisah orang yang diremehkan guru ini” menjadi status di FB. “Dulu, guruku bilang, tulisanku harus diperbagus. Sekarang, tulisanku sudah bagus, bu di hape.” 

Orang ini mengaku diremehkan gurunya secara tidak langsung, namun mampu menunjukkan bahwa pada akhirnya dirinya mampu menulis dengan bagus walau di hape. Ya, iyalah. Becanda, mbaknya!

Aku sendiri akan mengomentari, "Waktu kecil otakku buntu, kata guruku. Di usia dewasa ini, otakku sudah menemukan jalan keluar."

Aku sendiri termasuk murid yang pernah “direndahkan” oleh guru sewaktu masih duduk di kelas lima Sekolah Dasar, dan ajaib, kata-kata guruku itu masih terngiang-ngiang sampai sekarang. Mungkin saat itu aku terlalu peka, perasa, atau karena masih kecil jadi kuat merekam perkataan orang lain yang menyakitkan (nyelekit). Atau saat itu aku memang belum menemukan passion dalam belajar, dan malas belajar Matematika.

“Baru kali ini, ada anaknya, Pak Mus, yang buntu otaknya.” Kata ibu guruku, sebut saja beliau, bu Nana. Bukan sekali ini ibu Nana menghinaku. Namun kali ini sudah sangat keterlaluan mengecilkan arti diriku dengan ayahku, dan saudaraku.

Kedua orang tuaku adalah guru yang dikenal baik oleh bu Nana, wali kelasku. Apalagi hal tersebut diucapkan padaku di hadapan teman-temanku di depan pintu kelas karena sebelum masuk kelas kami harus menghafalkan perkalian yang dipilihkan oleh bu Nana. Namun, hari itu, aku lupa pada perkalian tujuh (7).

Kemudian, seorang teman menambahkan, “Kakak dan adiknya saja ranking satu, bu.” Saudara-saudariku memang punya kecerdasan akademik yang bagus, ditandai dengan seringnya mereka meraih prestasi ranking satu, atau dua di kelas mereka.

Aku langsung diam, dan hanya diam sambil menangis dalam hati ketika di kelas. Apalagi, saat itu, aku termasuk anak yang introvert, ketika tiba di rumah, aku menangis tersedu-sedu. Apakah aku sangat bodoh ketika tidak bisa menghafalkan perkalian? Apakah aku sangat bodoh ketika tidak bisa Matematika? Tanyaku pada diri sendiri.

Aku memang tidak suka menghafal perkalian, apalagi belajar Matematika. Dan ketika ranking diurutkan, aku hanya bisa masuk dalam tiga puluh besar dari empat puluhan siswa dengan nilai Matematika yang merah.

Untungnya, efek dari perkataan guruku saat itu tidak membuatku depresi, namun memacu diriku belajar dengan kakak perempuanku, belajar Matematika. Walau harus pakai acara menyiapkan kain untuk mengusap mata karena aku belajar sambil berurai air mata. Kakakku termasuk orang yang sangat pintar dan tegas. 

Selain itu, efek dari kata-kata guruku, karena tahu aku tidak punya bakat “bermatematika ria”, aku jadi rajin membaca. Aku membaca koran dan buku cerita walau bukan pelajaran yang membuatku bosan.

Dan efeknya sampai sekarang? Untung bukan trauma! Namun, bagusnya, aku tidak mau berhenti belajar, aku mau terus bersekolah, walau belum sampai S3 untuk saat ini. Jika ada S7, mungkin, aku akan menempuh pendidikan sampai pada titik itu biar otakku tidak buntu lagi.

Seperti halnya wali, yang dianugerahi karamah oleh Tuhan, yaitu semacam hal yang luar biasa yang dimiliki dan mendapat pengakuan dari orang lain akan “kekuatannya” tersebut. Seorang guru pasti juga memiliki hal-hal yang luar biasa, untuk menunjukkan “keberadaannya” sebagai seorang guru. Guru yang mempunyai "hati" yang sampai hati mengucapkan hal-hal baik dan buruk pada muridnya. 

Aku tidak tahu apakah ini “Karamahnya” guruku, atau “Amarahnya” guruku. Sehingga, aku yang dulu sewaktu duduk di Sekolah Dasar terlihat amat sangat biasa-biasa saja sekali, yang katanya otaknya buntu. Tapi, kini jadi seorang pendidik juga baik di sekolah maupun di kampus. Aku berubah, dan menjadi tidak percaya sendiri karena aku pada akhirnya, jadi guru dan dosen.

Kecerdasan yang Berbeda

Aku yakin, setiap anak didik mempunyai bakat dan minat yang berbeda. Ada yang pintar menyanyi, bermain bola, menggambar, menulis, tehnik mesin, bahasa Inggris, dan lain sebagainya. Mungkin istilah generasi sekarang, mereka punya passion-nya masing-masing.

Ketika anak nakal, atau malas belajar, bersekolah, anak itu mungkin mempunyai masalah di sekolah, baik dengan guru dan teman sekolahnya. Atau mungkin, anak belum menemukan passion-nya dalam belajar, bersekolah. 

Tugas orang tua dan guru memang sangat dibutuhkan dalam mencari solusi mengapa anak bermasalah. Bukan yang langsung memberikan penilaian negatif seperti kasus Tweet teman-teman di atas. Apalagi sampai membandingkan atau membully muridnya, siswanya, di depan teman-temannya. Sakitnya tuh disini!

Di sisi lain, guru menjadi pengajar, dan pendidik, sekaligus penyemangat muridnya untuk menjadi orang yang baik, berhasil, dan sukses. Walaupun ada juga beberapa kisah guru yang lain yang belum terungkap dan menjadi rahasia pribadi. 

Ketika kita merefleksi di tahun-tahun belakang, ketika guru bebas berbuat semaunya pada muridnya, memukul misalnya. Tapi, murid merasa gara-gara “tangan” gurunyalah dia menjadi orang. 

Atau guru juga tidak boleh dikritik, di zamanku, ketika ada seorang anak perempuan mengkritik gurunya lewat surat ketika dia takut untuk berbicara, namun ditanggapi dingin oleh gurunya, dan dia si anak perempuan tadi malah dimarahi oleh orang tuanya yang begitu berani mengkritisi gurunya.

Jika itu terjadi hari ini, guru memukul muridnya. Mungkin, guru akan terkena jerat pasal yang berhubungan dengan Hak Asasi Manusia (HAM) dan Undang-undang Perlindungan Anak. Jika guru marah ketika dikritik di kelas atau di sekolah, maka media sosial yang akan berbicara. 

Tantangan jalan guru mengajar ke depan makin berat dan terjal. Bagaimana menjadi guru yang siap menghadapi era “shifting” dengan kemajuan teknologi dan komunikasi yang harus siap "lebih cerdas dan pintar" dari muridnya. Maka, yang diperlukan adalah “deep understanding”, meminjam istilah Rhenaldy Kasali. Antara guru dan murid, anak didiknya, ada panduan untuk mendapat sikap mental baru yang menjadi bounding dan saling menghargai.

Terakhir, tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa-siapa, karena tidak semua “Guru” adalah "Dewa" ataupun "Dewi" yang selalu dipuja dan dipuji. Guru juga manusia punya keterbatasan. Walau menjadi guru adalah pekerjaan yang sangat mulia, hebat, dan bermartabat. Guru tetap guru yang merupakan pahlawan tanpa tanda jasa.

Terima kasih guru, dari (anak) guru, untuk (anak) guru, oleh (anak) guru.