Mencari guru bisa menulis, seperti berusaha menemukan jarum di tumpukan jerami. Rasa-rasanya, sangat sulit. Karena faktanya memang seperti itu. Maka, bagi guru yang bisa menulis, mereka masuk ke dalam golongan orang-orang keren. Bahkan, mereka memiliki kemampuan selangkah lebih maju dari guru yang tak bisa menulis. Penekanan guru dalam tulisan ini, adalah mereka yang berprofesi sebagai pendidik, entah secara formal ataupun non-formal.

Bagi guru yang bisa menulis, mereka mau meluangkan waktu menulis, tanpa memikirkan apakah dari tulisan tersebut bisa hasilkan finansial atau tidak. Karena bagi mereka, menulis bukan semata-mata untuk hasilkan finansial. Akan tetapi, menulis lebih kepada langkah untuk mengembangkan diri, agar menjadi guru dan pendidik yang profesional.

Semakin banyak mereka menulis, akan semakin nampak ruh profesionalisme dirinya sebagai guru dan pendidik. Hal tersebut nampak dari wawasan yang luas, logika berpikir yang terstruktur, serta cara komunikasi yang baik dan benar. Semua itu diperoleh dari pembelajaran yang berkelanjutan, melalui kegiatan menulis oleh guru itu sendiri. 

Jika saat ini, Anda sebagai guru dan belum bisa menulis, kemudian ingin bisa menulis agar masuk ke dalam golongan guru keren, setidaknya ada tiga hal yang harus dihadirkan dalam benak guru yang ingin belajar menulis. Sehingga dirinya bisa menjadi guru keren, yang bermanfaat bagi lainnya.

Pertama, Membersihkan Niat

Bagi guru yang ingin belajar menulis, membersihkan niat dari berbagai anasir perusak mental sangat penting. Karena, anasir perusak mental akan tumbuh layaknya benalu yang hidup di batang pohon. Awalnya hanya menempel di ranting, lama-lama merusak batang, dan akhirnya mematikan pohon itu sendiri.

Pun begitu dengan anasir jelek, yang akan mampu merusak mental guru yang hendak belajar menulis. Awalnya, hanya sebagai motivasi belajar menulis. Namun, lama-lama menjadi pola pikir yang dikedepankan oleh guru dalam melakukan kegiatan menulis. Dan ketika tujuan tak tercapai, akhirnya dirinya berhenti menulis. Itulah, jika niat awal belajar menulis tak dilandasi dengan niat baik. Maka dari itu, membersihkan niat itu penting, sebelum memulai belajar menulis.

Beberapa anasir niat yang harus dibersihkan dan diluruskan dalam diri guru yang ingin belajar menulis, misalnya niat ingin mendapatkan uang, jabatan, ketenaran, kewibawaan, dan lain sebagainya. Sebaiknya, niat tersebut dihilangkan bagi guru yang hendak belajar menulis. Karena, niat tersebut akan merusak kualitas tulisan yang dihasilkan oleh seorang guru di kemudian hari.

Mengapa demikian? Karena niat sangat berpengaruh erat terhadap kualitas tulisan yang akan dihasilkan oleh guru. Saya akan coba memberikan contoh, saya sebagai seorang guru misalnya, niat utama menulis untuk mencari uang melalui honor yang akan diterima dari setiap tulisan. Karena tujuan utama saya uang, maka saya akan berusaha keras menuntaskan tulisan itu dengan cepat. Tanpa memperhatikan sisi kualitas, ketepatan dan keakuratan data, hingga tata bahasa. Hasil akhirnya, ketika saya mengirimkan tulisan tersebut—entah ke media massa online ataupun cetak, pasti akan ditolak.

Contoh lain, teman saya yang juga seorang guru, niat awal menulis untuk menambah pendapatannya sebagai seorang guru. Awal-awal belajar menulis, tulisannya sering dimuat di media cetak, dan kemudian diberi imbalan berupa honor. Semakin lama, dirinya semakin terlena dengan uang yang didapatkan dari hasil menulis. Sehingga dirinya lupa terhadap kualitas tulisannya. Dan lama kelamaan, tulisannya sering ditolak. Karena sering ditolak, akhirnya ia memutuskan diri tak menulis lagi.

Dua contoh di atas cukup jelas, bahwa membersihkan niat awal belajar menulis sangat penting. Untuk menjaga eksistensi kita sebagai seoran guru yang penulis. Sehingga, kita akan menjadi guru yang penulis, dan menghasilkan tulisan sepanjang hayat. Kemudian tak lupa juga, menjaga kualitas tulisan agar tetap hasilkan tulisan yang  baik, berkualitas, dan bermanfaat bagi pembaca.

Niat utama yang harus kita ke depankan sebelum belajar menulis ialah, memberikan manfaat melalui tulisan kepada orang lain sebagai ladang ibadah kita. Nilai manfaat dari setiap tulisan harus dikedepankan. Karena, untuk apa kita menulis, namun tak ada nilai manfaat dari tulisan tersebut. Dan bahkan, dari tulisan tersebut hanya timbul fitnah, adu domba, saling sangka, dan hingga berujung pada permusuhan antar golongan.    

Mengedepankan kemanfaatan ini penting. Sehingga, hal utama yang ada di kepala kita sebelum menulis ialah, apakah tulisan yang akan kita tulis itu bermanfaat bagi pembaca. Jika bermanfaat, maka kita harus menulisnya. Dan, jika tak bermanfaat, maka kita tak usah menulisnya. Karena mengedepankan kemanfaatan, tentunya kita akan berhati-hati dalam menuangkan kata per kata, mengatur alur logika, penempatan bahasa, hingga hal lainnya. Cara seperti itu, secara tidak langsung, akan mampu hasilkan tulisan yang berkualitas tinggi.

Tulisan yang berkualitas, akan membuat guru gampang mengirimkan tulisan tersebut ke mana media massa (online ataupun cetak) hingga dimuat dan diterbitkan, jika tulisan tersebut berbentuk tulisan pendek seperti opini, resensi, dan esai. Juga akan mempermudah diterbitkan di penerbit buku, jika tulisan tersebut berbentuk naskah buku.

Dari keterangan panjang di atas, alur logika sederhananya seperti ini. Jangan sampai terbersit dalam hati kita sebagai niat utama, bahwa menulis untuk mencari uang, mencari ketenaran, menambah wibawa, mencari pengaruh dan lain sebagainya. Akan tetapi, jadikan kegiatan menulis sebagai nilai ibadah menebar kemanfaatan kepada orang lain. Karena dengan memiliki niat utama beribadah, kita akan termotivasi untuk terus menulis dan menulis sepanjang hayat.

Kita sebagai guru, akan terus menghasilkan tulisan, tanpa harus berpikir apakah tulisan dirinya bisa dimuat di media massa (online atau cetak), bisa diterbitkan menjadi buku, dan lain sebagainya. Dan kita akan tetap berpikir, bahwa dengan menulis kita telah beribadah dengan cara menebar kemanfaatan kepada yang lainnya.

Artinya, dengan kita mengedepankan niat ibadah, dan kita terus berkarya dengan menulis, tanpa kita sadari juga honor berbentuk uang akan datang pada diri kita, ketenaran tanpa diminta akan kita dapatkan, kewibawaan juga bisa kita dapatkan, dan kita akan menjadi guru keren melalui media tulisan.

Maka dari itu, kita harus tetap mengutamakan niat kita belajar menulis semata-mata untuk beribadah dengan cara menebar manfaat pada para pembaca. Dan bila kita mendapatkan buah dari nilai ibadah tersebut seperti honor, kewibawaan, ketenaran, anggap saja sebagai penghargaan atau bonus bagi kita yang diberikan oleh Allah Swt, dari usaha kita ibadah dan keikhlasan yang kita miliki. 

Kedua, Penulis Pendidik Sejati

Penulis merupakan pendidik sejati, karena dirinya telah melakukan pendidikan sepanjang hayat. Walaupun raga telah tiada dan dipanggil oleh-Nya kelak. Tetapi, proses pendidikan akan terus berlangsung selama tulisan-tulisannya masih utuh, tersebar dan dapat dibaca oleh masyarakat luas.

Artinya, seorang guru yang bisa menulis dan hasilkan tulisan yang berkualitas, maka melalui tulisan tersebut dirinya telah berusaha mendidik masyarakat secara tidak langsung, dan melakukan proses pendidikan secara kontinyu. Bukan hanya satu atau dua orang saja, atau bahkan satu atau dua kelas saja yang bisa didik, akan tetapi masyarakat luas yang akan merasakan didikan dari guru yang bisa menulis.

Sebagai contoh, masyarakat saat ini masih merasakan didikan dari Imam Ghazali walaupun beliau telah wafat ratusan tahun silam. Masyarakat luas bisa merasakan bagaimana manfaat dari pemikiran beliau, yang coba mengawinkan antara tasawuf dengan fiqih, sehingga kemanfaatannya tetap bisa dirasakan hingga saat ini. Walaupun beliau telah wafat, proses pendidikan dari beliau akan terus berlangsung, selama tulisan-tulisan beliau dibaca, dikaji, dan bahkan dikembangkan oleh para pengikutnya.

Contoh lain, Gus Dur merupakan seorang Kyai yang rajin menulis. Tulisannya berbentuk buku tersebar di mana-mana. Berpuluh-puluh buku telah dihasilkan oleh beliau selama hidup. Dan hingga sekarang, masyarakat masih ramai membincangkan pemikiran beliau. Bahkan, pemikiran beliau banyak dijadikan kajian desertasi oleh mahasiswa S-3, baik di dalam negeri ataupun di luar negeri. Walaupun beliau telah wafat beberapa tahun silam, masyarakat masih tetap merasakan proses pendidikan dari tulisan-tulisan yang dihasilkan oleh beliau.

Dan masih banyak lagi contoh lainnya, yang intinya walaupun dirinya telah wafat, tulisanya tetap diperbincangkan oleh masyarakat saat ini. Karena masyarakat merasakan manfaat dari tulisan yang dihasilkan sang penulis. Hal yang perlu ditegaskan, walaupun dirinya telah wafat, proses pendidikan terus berjalan, melalui tulisan yang dihasilkan oleh dirinya.    

Nah, jika Anda sebagai guru tertarik untuk menjadi pendidik sejati, maka mulailah untuk belajar menulis. Dan belajar menulis itu gampang-gampang susah. Gampang karena bisa dilakukan oleh siapa saja. Dan susah, karena menulis membutuhkan proses latihan yang cukup panjang, serta ketekunan dari calon penulis itu sendiri.

Bagi Anda yang berniat menjadi pendidik sejati, maka jangan banyak pertimbangan. Ambil leptop, dan mulailah berlatih menulis dengan menulis apa saja yang bisa ditulis. Mulai dari topik remeh-temeh hingga topik yang mengharuskan pembaca mengerutkan kening.    

Ketiga, Menulis Sebagai Media Pengembangan

Guru yang memiliki keahlian menulis dan melakukan kegiatan menulis setiap harinya, secara tidak langsung dirinya telah melakukan pengembangan diri secara non-formal. Mengapa bisa demikian? Karena satu tulisan yang dihasilkan oleh penulis, biasanya hasil saripati dari beberapa bacaan yang telah dibacanya, entah dari buku, jurnal ilmiah, media online atau cetak, hingga isu-isu kontemporer dan teranyar.

Artinya, bagi guru yang memiliki keahlian menulis, dirinya masuk ke dalam pengembangan diri secara penuh kesadaran dan tanpa paksaan oleh siapapun. Dirinya menulis bukan lagi karena ingin kenaikan pangkat, bukan lagi karena ingin mendapatkan penilaian oleh atasan, dan lain sebagainya. Yang ada dalam benaknya, menulis hanya sebagai media pengembangan diri, agar dirinya bisa menjadi guru profesional yang kehadirannya dapat dirasakan oleh peserta didik dan masyarakat luas.

Saya akan memberikan analog pengembangan diri seorang guru melalui kegiatan menulis. Seorang guru yang penulis, tidak akan bisa hasilkan tulisan tanpa dirinya banyak membaca, entah buku, media online atau cetak, jurnal ilmiah, koran, dan lain sebagainya. Proses membaca yang berkesinambungan, akan hasilkan tulisan yang berkualitas. Semakin baik tulisan yang dihasilkan, akan semakin berkembang diri sang guru.

Hal yang perlu diingat, pengembangan melalui kegiatan menulis itu cukup berat. Karena tak semua guru bisa melaluinya. Bahkan, kadang ada yang menyerah di tengah jalan, karena tak mampu menahan kemalasan yang datang bertubi-tubi. Apalagi, bagi guru dengan tingkat kesibukan yang cukup tinggi. Sehingga membuat laju kemalasan dalam dirinya semakin terakumulasi.

Intinya, bagi Anda yang saat ini berprofesi sebagai guru, dan ingin mengembangkan diri melalui kegiatan menulis, langkah utama yang harus ditempuh ialah menguatkan mental dan daya tahan agar kita bisa berlatih menjadi seoran guru yang penulis.

Penutup

Rasa-rasanya, tiga hal tersebut cukup menjadi modal utama bagi seorang guru yang ingin belajar menulis. Seperti yang telah disampaikan, belajar menulis itu gampang-gampang susah. Syarat utama agar kita berhasil menjadi guru yang bisa menulis ialah, ketekunan dan keseriusan kita berlatih menulis. Karena menulis merupakan kegiatan yang bisa karena terbiasa.

Untuk membiasakan kegiatan menulis, maka ketekunan menjadi kata kunci utama yang harus dimiliki oleh seorang guru yang bercita-cita menjadi penulis. Ketekunan, diterapkan dengan cara meluangkan waktu menulis setiap harinya.

Bisa dengan meluangkan waktu di pagi hari, siang hari, sore hari, ataupun malam hari. Bisa juga berbentuk jam, misalnya satu jam sehari, dua jam sehari, ataupun tiga jam sehari.

Dan ketekunan harus ditambah dengan keseriusan. Keseriusan diaktualisasikan dengan cara banyak belajar dari tulisan penulis senior, banyak ikut kegiatan seminar ataupun pelatihan kepenulisan, kemudian ditambah dengan belajar teori-teori kepenulisan.

Singkat kata, jika Anda ingin menjadi guru yang bisa menulis, jangan banyak alasan, yuk mulai dari sekarang untuk berlatih menulis. Selamat berlatih menulis ya...!