Masihkah kau semesra dahulu? Memintaku minum susu dan tidur yang lelap, sambil meletakkan leher kemejaku. Kita begitu berbeda dalam semua. Kecuali dalam cinta. (Gie)

Penggalan puisi diatas seolah mengingatkan kita. Bahwa perbedaan itu tak perlu di persoalkan atau Dibuat ruwet, hingga jadi pembawa kehancuran. Karena semua akan indah jika hidup dalam satu cinta. Cinta kasih yang universal. Untuk alam, keadaan sekitar, bahkan untuk diri sendiri.

Namun, kaidah perbedaan pada penggalan puisi diatas kini sama rata. Tak ada pengecualian, karena tidak semua pencinta alam itu murni pencinta alam. Sudah mulai banyak Pencinta yang hanya cinta-cintaan, bahkan hanya Cinta monyet saja. dan kita tetap begitu berbeda dalam semua, bahkan dalam cinta sekalipun.

Seiring berjalannya waktu. Gunung saat ini  seperti  pasar malam. Serupa  saat pikiran kita kosong, naik gunung, lalu mendengar ribut-ribut seperti orang sedang bertransaksi, atau menawarkan dagangannya.

“Sayur sayur, cabai bu sekilo murah lho ini.” Atau ada juga yang berteriak “kantong plastik kantong.”
Tapi kalian hanya mendengar suara, tanpa melihat wujud. Seperti ada mahluk halus ya?
Ya tepat! Itu adalah fenomena “Pasar setan” yang ada di beberapa gunung di Jawa tengah.

Gunung Slamet, Gunung Merbabu, Gunung sumbing. Pasti para pendaki sering mendengar istilah ini. “Pasar Setan” memang tidak Nampak wujudnya. Namun bisa membuat kita kehilangan arah dan mungkin hilang, jika pikiran kita kosong saat melewati jalur yang sering disebut “Pasar Setan” di gunung-gunung tersebut.

Namun, pasca liburan kemarin. Fenomena “Pasar Setan” Pun berubah menjadi Pasar yang benar-benar ramai setan. (Ini setannya lebih bahaya)  Coba buat yang ngalamin pergi ke Rinjani, Papandayan, Pangrango dan gunung-gunung lain di Indonesia pasca libur panjang kemarin.

Apa kalian bisa menikmati alam dengan nikmat? Saat  anda harus mengejar lapak untuk dapat mendirikan tenda, atau bahasa gampangnya booking tempat lewat perantara porter yang membawa tenda juga peralatan. Rebutan spot yang bagus untuk mendirikan istana bongkar pasang kalian.

Tempat masih kosong pun sudah ditaroin tas, biar kalau ada yang baru datang langsung bilang.  “Maaf, ini udah ada yang nempatin.”  Padahal belum berdiri tendanya lho?  Tapi mereka bisa ya seperti itu?

Bahkan, kemarin rekan saya baru turun dari Rinjani sehabis Long weekend. Ia menjumpai banyak pendaki karbitan yang sangat jauh dari esensi murni pendaki. Dengan gaya khas Traveller sejati, menjaga keanggunan diri dengan luluran di camp Palawangan sebelum summit.  Sampai ada yang bawa drone juga Macbook ke sana. (Itu mau nongkrong di sevel apa naik gunung?) Luluran, tapi yang ngambil air porternya. Bukan dia sendiri. Ckckckck..

Pencinta alam pun kini makin jauh dari konteksnya. Kebanyakan dari mereka sebenarnya hanya mencintai background alam yang Indah. Tanpa memandang unsur-unsur lain. Padahal tindakan kita hampir selalu dituntut oleh sudut pandang yang Lokal-Partikular-Fragmentatif.

Ketika kita melihat pohon, kita melupakan unsur Air-Tanah-Udara-Matahari yang telah menumbuhkannya. Karena hanya berkepentingan pada  pohon, maka kita Cuma wajib berurusan dengan unsur yang langsung berkaitan seperti.  Akar-Batang-Ranting dan daun saja. Kita tak merasa berhutang pada topangan air-tanah-udara dan matahari.

Bisa juga kalau kesadaran kita sedikit lebih luas, kita masih merasa berhutang dengan air dan tanah tempat tumbuhnya. Tapi tetap abai akan peran udara juga matahari. Lebih buruk lagi saat kita hanya terpaku pada buah. Sehingga abai pada peran akar-batang-ranting dan daun yang menopangnya. Kita hanya perlu peduli dengan buah, jadi tak perlu perduli pada akar-batang-ranting dan daun. Apalagi membina kepedulian dengan air-tanah-udara dan matahari

Inilah tipe pendaki ala-ala, atau type orang yang hanya menggunakan pola “Kacamata Kuda”. Karena pola ini hanya berorientasikan pada kepentingan diri atau kelompok saja. Dan celakanya, sadar atau tidak . pola ini yang sering kita terapkan, sehingga kita nyaris buta terhadap banyak kerusakan langsung atau tak langsung dari setiap tindakan juga kebijakan yang kita buat.

Seperti saat anda hendak mengambil gambar dengan background bagus.  Mungkin anda senang dan berterimakasih pada situasi disana, tapi coba dilihat kembali. Apa cukup berterimakasih pada hal yang anda dapat dan fokuskan saja? Tanpa harus membaur dan berbagi rasa dengan lingkungan sekitar?

Membaur pun bukan berarti anda adalah tipikal orang yang supel lho. Alam sendiri bisa menjadi saksi bisu atas ketidak-supelan atau amat sangat tak bersahabat anda dengan dirinya. Coba saja lihat, banyak sampah di gunung, laut, dalam gua,sungai apalagi di Ibukota. Aduh, pecah kepala bisa kalau mikirin hal seperti itu.

Gunung riwayatmu kini…
Dulu saling sapa saat bersebelahan tenda, sekarang numpang foto di depan tenda orang saja nggak permisi.

Dulu uang tak ada artinya di atas, lebih berarti sebuah kebersamaan.  Sekarang naik gunung bawa duit semua beres, barang dibawain, masak dimasakin,  tenda disediain, air diambilin, cuma boker aja yg nggak dicebokin.  Mungkin, beberapa purnama nanti . Akan ada fasilitas pijat refleksi di atas sana. Atau bahkan sudah ada delivery makanan yang datang kesana. Entahlah, mudah-mudahan nggak ada.

Dulu ke gunung buat cari inspirasi, merenung, berdoa, bertapa, mencari arti hidup. Sekarang ke gunung buat menuh-menuhin instagram, dan mirisnya cuma buat nyampah sama buat corat-coret batu.
Gunung oh Gunung… Riwayatmu kini…