Saya sering memotivasi orang, agar tidak baper.  Tapi entah disambar apa, di hari itu... di ruang praktek seorang dokter, seketika saya baper.  Seketika itu juga, saya angkat kaki dengan perasaan terbakar.

Sudah sepekan lebih saya menemani suami bolak-balik rumah sakit untuk terapi. Hasil pemeriksaan, ia mengalami syaraf terjepit.  Hari itu hari terakhir terapi dan balik kontrol ke dokter spesialis syaraf di salah satu rumah sakit, di pinggiran ibukota.

Saya lebih banyak menyimak selama pemeriksaan dan mendengarkan apa nasihat dokter untuk suami.  Terakhir saya ikut komentar ketika sang dokter memberi anjuran berenang tiap hari.  “Semoga bisa tiap hari… karena selama ini kalau sudah capek di depan laptop, berenangnya di kasur alias bobok dok. Stretching pun tidak.”  Lalu saya mengucapkan terima kasih kepada dokter itu dengan senyuman.

Dan, gak ada angin gak ada hujan, sang dokter berkata… “Ibu juga ikut berenang dengan bapak.  Lihat badan ibu, kenapa bisa begitu? Bandingkan dengan badan bapak kan bagus.” 

Spontan saya merespon ucapannya, jujur banget terkejut dengan komentar dokter itu, “Ooh saya gak tau kenapa ya dok.  Mungkin karena usia metabolisme makin rendah.”

“Wah, ibu gak boleh gak tau.  Saya saja sedang diet dan hanya makan 1 kali, ini nih saya baru mau makan bubur sumsum.  Sejak malam pukul 21 baru ini mau makan.  Saya puasa 19 jam!  Ibu jangan excuse saja, berenang dong no excuse!” Lanjut sang dokter.

Seperti tersulut api unggun, saya segera berlalu dengan sedikit tergesa.  Bergegas meninggalkan suami yang masih melanjutkan chit chat dengan dokter itu.  Masih terdengar seloroh sang dokter, “Jangan marah ya buuuu!”  Baper sekali rasanya, you know kan bagi perempuan… apalagi emak-emak paruh baya seperti saya. Usia dan berat badan bisa jadi pembahasan tabu.

Saya memang imperfect.  Lebar setelah menikah dan sudah “turun mesin” 4x, melewati 3 x SC (operasi sesar) dan 1 x miscarriage.  Waktu gadis dulu cungkring banget dan baru menjadi ideal agak berisi setelah melahirkan 1 anak.  Setelah anak kedua, berat badan (BB) saya bertahan dengan usaha nge-gym.  Setelah anak ketiga lahir di usia 40an, mulai bergulat dengan masalah BB.

Santai? Gak juga, banyak upaya yang saya lakukan.  Saya pernah melakukan berbagai diet, mulai low carbo, high protein, intermittent fasting, dan lain-lain.  It just don’t work for me.  Mungkin saja saya tidak konsisten, hasilnya seperti yoyo, naik turun. 

Pernah juga mengkonsumsi produk diet harga jutaan, dikombinasikan dengan olahraga memang bisa turun hingga 10kg.  Saya merasa puas sesaat, namun berujung dengan gangguan pencernaan kronis. 

Kini, saya hanya menjaga asupan, berolahraga ringan jalan kaki dan sesekali berenang.  Yoyo gak? Gak lah. Di usia wanita seumur saya?  Memasuki pre menoupous dan metabolisme menurun… menjaga BB agar tetap stabil, menjadi sehat, meng-empower diri agar jauh dari mental crashed karena bahasan BB, itu lebih penting. That's good, no?

Bahkan saya sering membuat lelucon sendiri tentang body saya yang bahenol, kan belum masuk kategori gapura kecamatan atau stupa candi Borobudur.  Dua istilah yang saya ambil dari video lucu di Instagram dan istilah bikinan sendiri yang saya gunakan untuk berdamai dengan diri sendiri.

Dalam diri ini sejak dulu sudah saya tanamkan, saya harus selalu berpikiran positif dan terus bertumbuh.  Jangan sampai ocehan orang membuat minder.  Orang bijak bilang, “Dogs only bark to strangers”. Sayangnya, di luar sana banyak orang mengalami mental crashed dan mengakhiri hidupnya akibat tidak tahan dengan pembahasan itu. Istilah sekarang disebut body shaming.

Dan banyak orang juga yang tak paham atau tak mau tau.  Dalam persepsi mereka tertanam, cantik itu putih dan langsing.  Lalu ganteng itu harus six pax, dan stereotype lainnya.  Orang-orang yang di luar persepsi mereka, tak masuk dalam circle mereka. 

Saya tak peduli dan terus mengasah diri.  Tanggapi saja dengan tersenyum dan itu menumbuhkan empati terhadap orang lain yang memiliki masalah lebih besar.  At least yang memiliki masalah yang sama namun tak sanggup menghadapi persoalan mental.

Hari itu, mengapa saya baper?! Hadeuuh itu dokter, saya bukan pasiennya dan gak pernah tau habit saya sehari-hari.  Andai saat itu saya lepas dari etika diri… dan dengan lugas mengatakan kepadanya, “Dokter Obelix! Kenapa anda membandingkan saya dengan body suami saya? Gak salah? Gak apple to apple tauuuk!”

Bagaimana dengan anda? Anda saja sudah melakukan intermitten fasting namun BB anda belum turun juga! Rasanya anda lebih butuh nasihat daripada saya.”  Saya gak berniat body shaming lo yaa… tapi jika saya menyebutnya dr. Obelix, kebayang kan seperti apa tampilannya?

Apalagi katanya sedang menjalankan intermittent fasting dengan jendela makan 19:3 (puasa 19 jam, 3 jam berbuka).  Artinya ia mengalami masalah BB yang lebih parah.  Itu sebab mengapa saya baper dan tidak bisa melihat niat baik yang mungkin ingin disampaikan.  Cara penyampaiannya pun sinis seperti menyindir, sepertinya ia lupa bercermin terhadap diri sendiri.

Ia lupa bahwa dari cermin ia bisa melihat wujudnya sendiri, hingga bisa memastikan ia tidak sedang menghakimi dirinya.  Selain itu juga bisa mendapat banyak pelajaran dan bisa memberikan nasihat yang lebih baik sebagai seorang dokter.

Itu cerita saya.  Ada yang berani jujur dan berdamai dengan kondisi imperfect dengan diri sendiri? Gak apa-apa, dengan berlaku jujur artinya kita selalu menggunakan dua cermin.  Satu cermin untuk melihat kekurangan diri.  Dan satu lagi untuk melihat kelebihan orang lain.  Cermin gak pernah bohong dan tak bisa dibohongi.

Setidaknya, kita jadi mudah berempati dan tidak semena-mena memberikan stereotype pada orang lain. To stand on other people's shoes!  Bisa menyemangati dan memberi saran dan kritik yang membangun dan tidak menghancurkan perasaan orang lain, accept people without passing judgment!

Last but not least, jangan lupa permisi jika ingin membahas suatu yang terkait dengan diri orang lain.  Siapa tau mereka tidak berkenan.  Avoid bahas di depan publik, posisikan jika itu kita.  Saran dan kritik yang damai, tentu membahagiakan.

You don't encourage people to take care of their body by telling them to hate it. -Laci Green