Kenapa yah tiap-tiap orang dilahirkan berbeda ? Kenapa yah ada negara maju, ada negara berkembang ? Kenapa yah orang-orang Barat (identik) lebih rajin dibanding orang Timur ? Dulu, saya bertanya seperti itu.

Pada akhirnya, jawaban atas pertanyaan tersebut saya temukan pasca membaca “Gun, Germs, and Steel”, sebuah buku karangan professor Geografi University of California, Jared Diamond.

Pertanyaan saya di atas kiranya sama dengan apa yang ditanyakan oleh Yali, seorang Papua, yang pertanyaanya menjadi sebab musabab Diamond menulis buku ini. Suatu kali, Yali bertanya dengan sederhana,

“Kenapa kalian orang kulit putih membuat begitu banyak barang berharga dan membawanya ke Papua, tapi kami orang kulit hitam memiliki begitu sedikit barang berharga sendiri ?”

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas bisa kalian dapatkan dalam buku setebal 624 halaman ini. Jared Diamond membaginya dalam 19 bab, yang dibagi lagi menjadi lima bagian.

Bagian petama yang diberi nama “Dari Eden ke Cajamarca” membahas secara singkat evolusi manusia dari perpisahannya dengan garis evolusi kera, sekitar 7 juta tahun yang lalu, sampai era akhir zaman es terakhir, sekitar 13.000 tahun lalu.

Pada bagian dua, yang diberi judul “Kelahiran dan Penyebaran Produksi Pangan” menjabarkan kelahiran-kelahiran tanaman pangan pertama kali dalam sejarah berikut penyebarannya ke seluruh bagian dunia. Disini disebutkan bahwa penyebaran pangan bervariasi di setiap bagian dunia.

Ada wilayah yang mengembangkan tanaman pangannya secara mandiri, ada yang memperolehnya dari wilayah lain. Bagian tiga, “Dari Pangan ke Bedil, Kuman dan Baja”, membahas hubungan antara tanaman pangan dengan munculnya inovasi di bidang teknologi dan struktur masyarakat manusia.

Pada bagian ini dibahas sebab musabab muncunya tulisan, teknologi, bahasa, hingga stuktur politik masyarakat. 

Bagian empat bernama “Berkeliling Dunia ke dalam Lima Bab” menerapkan kesimpulan dari bagian dua dan tiga untuk dikorelasikan pada sejarah benua- benua di dunia dan beberapa pulau penting, seperti Australia, Papua, Afrika hingga Polinesia.

Kita akan melihat berdasarkan faktor yang dijabarkan pada bagian 2 & 3 tentang penyebab mendasar kenapa ada bangsa yang maju dan ada juga yang masih terbelakang.

Bagian terakhir, yaitu kelima berisi dua judul, pertama “Siapakah Bangsa Jepang Sebenarnya” dan kata penutup 2003 : Bedil, Kuman dan Baja saat ini.

Pada bagian ini kita akan dibawa menuju entitas bangsa Jepang yang unik, dimana menurut Diamond mereka ialah bangsa yang asal-usulnya paling “abu-abu” dibanding bangsa-bangsa kini di dunia.

Pada bagian penutup Diamond sedikit menyukil point-point penting yang ada di buku ini untuk bisa diterapkan dalam beberapa bidang lain di dunia, baik bisnis maupun pengembangan organisasi.

Saya yakin masih ada yang percaya bahwa penyebab manusia diciptakan berbeda-beda di belahan bumi yang berbeda-beda pula ialah karena faktor gen dan IQ. 

Termasuk dalam hal kemajuan suatu bangsa dan keterbelakangan di sisi lainnya, beberapa penjelasan bilang sebabnya ada pada dikotomi “pintar” dan “bodoh” yang ada di gen mereka masing-masing.

Penjelasan rasis itu kemudian dilembagakan melalui buku-buku sejarah, pemberitaan media, institusi pemerintahan hingga melalui layar kaca.

Asumsi itu ditolak keras oleh Jared Diamond. Diamond berpendapat bawa letak masalahnya bukan pada faktor genetik yang menyebabkan bangsa Eropa lebih maju dari Asia, misalnya, namun ada pada faktor lingkungan sebagai sebab mendasar munculnya perbedaan-perbedaan tersebut.

Wilayah-wilayah yang kaya akan tanaman dan hewan pangan hasil domestikasi akan mengembangkan peradaban yang lebih awal dibanding wilayah yang miskin atau tak bisa mendomestikasi. Namun, diantara banyak daerah di sudut-sudut bumi, hanya sedikit yang mendomestikasi pangannya secara mandiri.

Para arkeolog mencatat hanya ada 9 wilayah yang memunculkan tanaman pangan awal secara mandiri. Sembilan itu ialah Bulan Sabit Subur, China, Mesoamerika, Andes, Afrika Barat dan Sahel, India, Ethiopia. Amerika Serikat bagian timur dan Papua.

Namun diantara sembilan daerah itu, hanya segelintir atau bisa dikatakan cuma 3 yang tanaman pangannya kaya akan karbohirat (sumber energi utama manusia). Tiga itu antara lain : Bulan Sabit Subur (Gandum Emmer dan jelai), China (Jewawut dan Padi), dan Mesoamerika (Jagung).

Pun dengan proses domestikasi hewan.  Sebagian mamalia besar berdaging yang lazim menjadi santapan masa kini ; Sapi, kerbau, domba dan babi, leluhur pertamanya berasal dari Asia Barat Daya. Sedangkan di wilayah Andes, kita bisa menemukan leluhur alpaka disana.

Wilayah-wilayah di dunia yang kaya dan bisa mendomestikasi makanannya secara mandiri akan lebih cepat menciptakan peradaban dibanding wilayah lainnya. Dimulai dari lebih banyak makanan artinya lebih banyak mulut yang bisa disuapi dan memungkinkan untuk hidup menetap.

Juga lebih banyak orang yang tinggal di satu wilayah artinya akan ada pembagian kerja yang berujung pada pengadaan struktur masyarakat, dari suku, kedatuan, hingga negara, lalu menciptakan bahasa dan tulisan untuk berkomunikasi. Terakhir, hal ini dapat mendorong inovasi di bidang teknologi.

Proses ini, kata Diamond, berbeda di bagian dunia yang berbeda. Jika makanan domestikasnya berkarbohidrat tinggi, maka prosesnya akan lebih mudah dan cepat. Sebaliknya, jika makanan domestikasinya miskin akan karbohidrat, maka proses menuju pembentukan peradaban bakal sebih sulit untuk dilakukan.

Dalam penyebarannya dari satu wilayah ke wilayah lain pun, hal ini amat bergantung pada kondisi geografis. 

Benua yang bentuknya dominan horisontal, berdasarkan garis lintang, seperti Eurasia, akan lebih mudah menyebarkan makanan, bahasa dan teknologinya ke wilayah lain, sebab, tak ada perbedaan iklim, ataupun topografi yang berarti.

Sedangkan bagi benua yang bentuknya condong vertikal, berdasarkan garis bujur, seperti Amerika, akan lebih sulit menyebarkan kebudayaannya sebab terhalang oleh iklim yang berbeda (semakin menjauhi garis khatulistiwa maka semakin dingin) dan topografi yang sulit untuk dilalui.

Oleh karena itulah peradaban manusia pertama muncul di wilayah-wilayah yang bisa mendomestikasi makannya secara mandiri, seperti Asia Barat Daya dan Mesoamerika.

***

Saya merekomendasikan buku ini pada siapapun yang suka akan sejarah, khususnya sejarah hidup manusia. Bahasanya ringan, tapi data-data yang dipaparkan agak njlimet dan mudah bingung karena banyaknya nama-nama dan tanggal yang disebutkan.

Tapi amat menarik jika kalian kepengin punya perspektif baru tentang sejarah manusia. Perbedaan pada proses peradaban manusai bukan disebabkan oleh faktor genetik, melainkan faktor lingkungan yang berbeda di setiap bagian dunia masing-masing.

Tapi seperti pepatah kuno yang kita temukan dalam setiap karya, buku ini pun, tak luput dari asumsi-asumsi dan bias individu. Saya kira masih diperlukan pembacaan kritis bagi siapapun yang ingin menggerayangi buku ini, baik untuk kegiatan akademis atau sekadar memuaskan nafsu intelektual.

Selamat membaca.