Seharusnya aku merasa bahagia atas pernikahanmu yang akan dilaksanakan esok lusa. Namun, tetap saja hati ini tak bisa dibohongi. 

Benar kata orang, dunia akan terasa membeku saat kita benar-benar kehilangan sesuatu yang berharga. Terlebih perkara cinta. Entah, sekosong-kosongnya hatiku, mata ini tak kunjung jua mengucurkan air mata. Sepertinya kekosongan itulah batu raksasa yang menyendat aliran sungai kesedihan menuju muaranya tangis.

Salahku sendiri tak berani jujur padamu, Vi. Bagaimana mungkin aku mengungkapkan perasaanku padamu? 

Kau adalah anak ideologisku, telah kuasuh sejak duduk di bangku SMA. Aku ingat betul saat pertama kali terpesona oleh sikapmu. Kau bukanlah sosok pemurung ataupun penyendiri. Tetapi, dalam sorot matamu, terpancar kebencian terhadap kepalsuan dunia. Sejak saat itulah aku memiliki itikad untuk mengasuhmu.

Selisih umur kita memang amatlah jauh. Namun, kau memiliki nalar yang tajam, Vi. 

Ah, betapa berengseknya guru sepertiku. Tanpa rasa malu, kuajak kau untuk berkencan. Parahnya, aku tak memberitahu kita akan pergi ke mana. Kuyakini bahwa kau merasa terhina. Terlihat dari raut wajahmu. 

Tak apa. Aku memaklumi itu. Sebagai orang yang hidup dengan adat timur, akan terasa tabu jika berkencan di sebuah Bar. Bahkan bagi orang barat pun mungkin itu bukanlah hal yang lazim.

Sebenarnya aku merasa berdosa—bagaimana aku ini, dosa itu urusan belakangan—dengan membawamu ke bar pada malam itu. Berawal dari beberapa seloki anggur yang melahirkan keterbukaan. Dapat kutangkap benih-benih pemberontakan dari curahanmu itu. Akan sangat mubazir jika disia-siakan atau kau malah jatuh ke lubang pemberontakan yang salah. 

Jujur saja, aku menaruh harapan yang besar padamu. Setiap saat, entah itu bertemu atau hanya sekadar teringan bayangmu, aku selalu berdoa semoga engkau menjadi perempuan pemberontak yang sukses. Sungguh permulaan yang manis.

Waktu terus berjalan, kau pun mulai tertular cara berpikirku yang radikal. Akibatnya, beberapa nilaimu jadi jeblok: Sejarah dan PKN. Aku bisa memaklumi. 

Banyak guru membicarakanmu di kantor. Kata mereka, kau memiliki pemikiran yang berbahaya. Dengan lantang, mengkritisi film PKI yang penuh konspirasi salah satunya. Ah, entah kenapa saat itu aku malah merasa bangga.

Kenangan manis itu kini berubah menjadi pahit. Apakah karena selembar undangan resepsi yang saat ini kugenggam? 

Vi, aku sedang duduk di sini, berteman vodka di bar tempat kita kencan pertama, berharap semua rasa ini akan baik-baik saja. Namun, aku salah. Datang ke sini sama saja seperti percobaan bunuh diri. Ah, Vi, andaikan kau datang malam ini dan menemaniku.

Hari mulai larut, entah ini seloki ke berapa yang telah teguk. Dadaku terasa panas dan kepalaku mulai terasa sempoyongan. Samar-samar dari pintu masuk seorang perempuan berbaju kasual yang kemudian tiba-tiba duduk di sampingku. 

Di lengan kirinya terdapat tato yang menggambarkan kebebasan. Ah, tato yang sama sepertimu, Vi. Apakah sosok perempuan ini memang dirimu? Kuberanikan saja diri ini untuk menyapa terlebih dahulu.

“Alviani?”

“Iya, Mas.”

“Astaga!” batinku. Apakah aku sudah mabuk parah sampai-sampai tak sadar bahwa yang di sampingku ini Via, atau sebenarnya ini hanya halusinasiku saja!?

“Tidak, Mas, kamu tidak berhalusinasi.” Kata-katanya seperti menegaskan keraguanku yang terlihat dari raut wajah.

“Bukankah kamu sebentar lagi akan menikah? Kenapa kamu di sini!?” kataku, protes.

“Sudahlah, itu tidak penting,” sorot matanya mencoba meyakinkanku. “Bang, cocktail,” katanya kepada bar tender. Lalu ia kembali menatapku dan berkata sambil memberikan senyum, “biar lebih cair.”

Ah, Vi, sungguh senyummu itu sangat manis. Sampai aku sendiri lupa sedang bersedih.

“Maafkan aku, Mas. Pasti perasaanmu sangat tidak baik. Kau tiba-tiba menghilang dan tak bisa dihubungi setelah kuberikan undangan itu. Kucari kamu ke mana-mana. Tempat ini adalah tempat yang selalu kutuju untuk mencarimu di setiap malam. Akhirnya kita dapat bertemu.”

Mendengarnya, kembali teringat bahwa aku sedang bersedih, hanya senyum getir yang kulemparkan padanya sebagai jawaban. Suasana menjadi hening, yang terdengar hanya kocokan seorang bar tender, ah, ya, Budi namanya, sahabatku. 

Setelah siap, ia hanya menyodorkan seloki pada Alvi. Mungkin Budi menyadari perang dingin yang tengah berlangsung. Alvi pun hanya mengucapkan terima kasih padanya.

“Sudah lama ya, Mas. Ingin sekali rasanya kembali ke masa remaja dulu. Ternyata jadi dewasa itu menyebalkan."

"Ah, iya, aku jadi teringat saat sekolah kita akan diakreditasi, semua orang sibuk berbenah kepalsuan agar mendapat peringkat yang sempurna, kecuali dirimu, Mas. Bagimu, administrasi hanya omong kosong dalam dunia pendidikan, terlebih urusan penampilan. Mungkin kaulah satu-satunya guru di negeri ini yang berpenampilan serampangan dan berambut panjang saat mengajar.”

Jujur, hatiku merasa tersanjung. Tapi di lain sisi, kata-katamu sangat menyayat.

“Jangan kau putar kembali masa-masa itu, Vi. Cukup, aku tak sanggup mendengar dan mengingatnya, biarkan minuman ini pelipur gersang hatiku yang luka!” pekikku dalam hati.

Aku hanya bisa menunduk mendengarkan ucapanmu yang menderu. Ah, seperti bukan diriku saja!

“Seharusnya aku bersikap sepertimu dalam menghadapi permasalahan ini, Mas. Aku merasa tak berguna. Untuk apa selama ini kau mengasuhku menjadi sosok revolusioner, tapi aku malah tidak berdaya melawan perjodohan ini? Seakan aku menyia-nyiakan semua waktu dan kesabaranmu, Mas. Habis manis sepah dibuang, dan akulah si pembuang sepah darimu yang manis, Mas.”

Hatiku tersentak. Tak tega rasanya jika karena aku, Alvi jadi terus-menerus menyalahkan dirinya. 

“Tidak, Vi. Jangan kau terus-menerus menyalahkan dirimu. Tindakanmu sudah benar. Kondisi keluargamu sedang susah. Mungkin inilah jalannya untuk menolong mereka.” Aku mencoba menghibur.

“Tapi bagaimana dengan perasaanmu, Mas? Jangan membohongi perasaan. Kau sudah terlalu banyak berkorban untukku.”

“Tak apa-apa, Vi. Sungguh.” Aku mencoba meyakinkan.

Dia malah menarik napas panjang. Kemudian berkata lagi. “Sampai akhir kau tetaplah mementingkan orang lain, Mas. Sedari dulu aku bisa merasakan betapa besarnya cintamu padaku. Maka dari itu tak sampai hati jika aku harus meninggalkanmu.”

Lagi-lagi kami saling terdiam. Ingatan dan perasaanku jadi campur aduk. Ternyata ia sudah menyadari perasaanku. 

Harus bagaimana ini? Dia sebentar lagi akan menjadi istri orang lain. Sekonyong-konyong, dalam keheningan ini, ia menggenggam kedua tanganku. Aku yang terkaget mencoba menatap matanya yang mulai berkaca-kaca.

“Mas. Ini pertama kali kita berpegangan tangan. Betapa hangat dan perkasa tanganmu ini, Mas, sama seperti sikapmu."

Mas, lihatlah tato di lengan kiriku. Perlambang kebebasan. Jika aku harus menikah dengannya, tato ini harus dihapus. Bukankah itu juga perlambang terhapusnya kebebasanku, Mas? Mas, tolong bawa aku lari dan menikahlah denganku.”

Perkataannya sungguh menyambar kesadaranku. 

“Apa katamu, apa kau sudah gila? Aku tak mau, Vi!” Ah, aku kelepasan. Intonasiku jadi meninggi. 

Mendengarku yang seperti membentaknya, Alvi jadi tersendu. Aku palingkan wajah dan badan. Sebenarnya bukan untuk bersikap tak acuh, tetapi karena aku tak sanggup melihatnya menangis.

“Mas,” katanya meratap. Aku tetap bergeming.

“Mas,” katanya lagi.

“Terima saja takdirmu. Mungkin ini yang terbaik.”

“Persetan dengan takdir, Mas! Lantas di manakah letaknya kemerdekaan jika menentukan hidup dengan siapa saja aku tak bisa?”

“Itu adalah sebuah keniscayaan, Vi. Di mana ada yang merdeka, pasti ada yang tertindas.”

“Dan kita sebagai orang yang sama-sama tertindas hanya diam saja!? Di manakah sosok Fana Sastra Atmaja yang seorang revolusioner sejati itu?”

Kata-katamu itu sebuah tamparan bagiku, Vi. Terima kasih telah membuatku sadar bahwa sebenarnya aku hanya seorang pengecut. 

Kau malah menangis sejadi-jadinya. Kucoba mengelus punggungmu, tapi kau menepisnya secara langsung. Aku jadi serba-kebingungan, Vi.

Kulihat sekeliling, ternyata bar ini sudah sepi. Wajar saja, waktu sudah subuh. Seharusnya bar ini sebentar lagi tutup. Kutatap Budi, ia memberikan isyarat menyilakanku untuk melanjutkan.

“Vi, sudahlah. Dengarkan kata-kataku, cinta yang tulus tak akan pernah putus. Sudah kukatakan padamu dulu, cinta dan seks itu perkara yang berbeda. Vi, kuterima ini sebagai jalan untuk tetap menjaga kesucian cintaku padamu.”

Mendengar kata-kataku, Alvi menengadah. Tanpa basa-basi, kukecup keningnya, sambil mengucapkan salam perpisahan dan kemudian pergi.

*

Ini adalah hari pernikahannya Alvi. Sengaja aku tak datang. Di depan teras, ditemani keretek, koran, dan gawai yang sedang memutar musik jazz.

“Ah, genre kesukaan, kami,” batinku.

Tiba-tiba gawaiku berdering. Kulihat nomor tak dikenal. Kuabaikan saja. Tak berselang lama, untuk kedua kalinya nomor itu menelepon lagi. Kuangkat agar tidak mengganggu konsentrasiku.

“Halo, dengan Bapak Fana? Kami dari keluarga Alviani ingin mengabarkan kabar duka. Ia bunuh diri dengan tusuk konde di kamar mempelai sebelum akad pernikahan berlangsung.”

Hatiku yang tak terima kabar itu segera menutup teleponnya. Tanpa sadar tanganku sudah menampari wajah, entah sudah berapa kali. Alviani, ternyata kau lebih memilih mati daripada tidak merdeka.