Gudeg adalah salah satu makanan yang mewakili ciri khas Yogyakarta. Gudeg merupakan makanan tradisional yang sudah ada sejak zaman kerajaan Mataram Kuno. Nama 'Gudeg' berasal dari cara orang-orang memasak lalu mengaduk semua bahan atau dalam bahasa Jawa disebut "angudeg-ngudeg". 

Kepopuleran gudeg memang tidak bisa lepas dari peran masyarakat dan juga pendatang baru di Yogyakarta. Banyak pedagang gudeg yang mengemasnya dengan berbagai cara: dibungkus dengan kertas, daun, besek, kendil dan sekarang gudeg telah dikemas langsung di dalam kaleng. 

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan masyarakat yang beragam, banyak budaya, suku, dan ras agama. Satu pulau dengan pulau lain yang memiliki budaya dan adat sendiri. 

Ciri khas masing-masing daerah tidak hanya pada budaya kesenian dan pakaian saja, tetapi juga kuliner atau makanan tradisional. Gudeg merupakan salah satu makanan kuliner yang terkenal dan banyak menjadi makanan favorit masyarakat Indonesia maupun para turis. 

Gudeg adalah makanan khas Yogyakarta dan Jawa Tengah yang terbuat dari nangka muda dan dimasak dengan santan. Butuh waktu yang lama untuk membuat makanan tersebut. Menurut Triwitono (1993), dikenal dua jenis gudeg, yaitu gudeg basah dan gudeg kering. 

Gudeg basah memiliki kadar air yang relatif tinggi, sedangkan gudeg kering digoreng dalam proses pengolahannya sampai benar-benar kering sehingga kadar airnya menjadi rendah. 

Perbedaan atribut produk antara kedua jenis gudeg tersebut mau tidak mau akan menimbulkan perbedaan pilihan konsumen terhadap setiap gudeg karena dalam pengambilan keputusan untuk membeli atau memilih produk, konsumen memperhitungkan perbedaan atribut yang melekat pada produk tersebut. 

Selain itu, perbedaan antara gudeg kering dan gudeg basah tentunya juga akan mempengaruhi kondisi ekonomi dan sosial pedagang gudeg. Popularitas gudeg tidak hanya karena rasa dan inovasi dalam penyajian hidangannya, namun kepopuleran gudeg juga didukung oleh warganya sendiri. 

Pembangunan kerajaan Mataram pada tahun 1500-an memiliki wilayah dengan banyak pohon nangka serta menghasilkan buah melimpah yang membuat masyarakat sekitar memikirkan cara mengolah berbagai macam sajian dengan bahan bahan dasar nangka khususnya gori atau nangka muda.

Sering kali nangka tidak terpakai karena pada saat itu penjajah mengincar banyak pertanian yang dihasilkan kecuali nangka, karena dianggap tidak memiliki nilai jual yang tinggi padahal nangka merupakan tanaman yang mudah didapati oleh seluruh rakyat. 

Dalam pengolahannya nangka muda direbus cukup lama untuk membuat kualitas yang bagus dan juga rasa bumbu manis mudah meresap dalam buah dan dicampur dengan kelapa. 

Suguhan seperti itu terbuat dari "limbah nangka" yaitu makanan yang biasa dimakan oleh para tentara dan pekerja dengan porsi yang berjumlah besar. Seiring perkembangan zaman, penjualan gudeg tidak hanya disajikan di tempat makan pinggir jalan, tetapi juga di restoran. 

Kemasan makanan ini juga bukan hanya menggunakan besek atau keranjang bambu tradisional, akan tetapi gudeg sekarang disajikan dengan kemasan modern seperti kaleng yang membuat makanan ini lebih tahan lama dan awet yang bisa di distribusikan ke daerah-daerah lain. 

Hal tersebut merupakan salah satu upaya masyarakat Yogyakarta untuk melestarikan kekayaan daerahnya melalui sektor wisata kuliner. Sajian gudeg khas Yogyakarta ini awalnya disajikan secara istimewa dengan nangka dan santan. 

Namun, dengan perkembangannya, bahan-bahan dari gudeg tersebut kini banyak dipasarkan. Gudeg juga dapat dinikmati tidak hanya pada pagi hari saja, tapi pada siang dan malam hari juga dapat kita nikmati, apalagi gudeg mempunyai beragam jenis berdasarkan pengelolaannya. 

Pertama dikenal gudeg basah, yaitu gudeg dengan kadar air tinggi yang disajikan dengan santan cair sehingga dapat menghasilkan tekstur basah dan menciptakan cita rasa santan cair yang gurih. 

Karena teksturnya yang basah, gudeg basah biasanya cepat basi dan sangat sulit dibawa pada saat perjalanan jauh.  Oleh karena itu, gudeg basah dibuat oleh masyarakat dengan membuatnya menjadi gudeg kering yang rasanya lebih manis dan tidak mudah basi. 

Menurut bahan bakunya, gudeg dibagi menjadi tiga jenis, yakni menggunakan gori (nangka muda), rebung, dan manggar. Penjual gudeg nangka mudah sekali ditemukan di seluruh wilayah Yogyakarta, sedangkan gudeg rebung hanya dapat ditemukan di restoran atau dibuat dirumah-rumah. 

Gudeg manggar adalah gudeg istimewa karena berbahan dasar bunga kelapa muda yang dengan bumbu rempah gudeg lainnya, namun yang berbeda adalah waktu pengelolaannya yang harus di atas tungku selama satu malam dan disuguhkan bagi acara khusus seperti pesta atau momentum lainnya. 

Membangun nasionalisme dalam ikut serta melestarikan warisan budaya Indonesia khususnya kuliner bukanlah hal yang mudah (Fernando dan Marta 2018).

Harus ada pembentukan pola pikir di tengah masyarakat untuk memberikan kesadaran mengenai pentingnya sikap nasionalisme (Irianto 2013), yang mampu mendorong generasi muda yang berminat melestarikan warisan budaya sebagai tanda cinta Tanah Air (Farady dan Sierjames 2018). 

Melihat secara jelas budaya dalam adat dan pengetahuan masyarakat berwujud tradisi, kebiasaan masyarakat setempat, peraturan, dan nilai norma yang berlaku di tengah daerah tersebut (Hasanah 2012). 

Dalam rangka menelisik sejarah kuliner gudeg, dimaksudkan agar tumbuh rasa nasionalisme dan minat melestarikan warisan budaya yang tengah menjadi kebiasaan di masyarakat khususnya Yogyakarta.