Banjir di Jakarta bukan barang baru. Sejak zaman Belanda sudah terjadi. Rutin tiap tahun seperti perayaan keagamaan. Jadi bila ada yang tidak siap-siap atas perhelatan tahunan ini berarti terlalu cuek atau terlalu bodoh.

Sebagian lahan di Jakarta adalah hasil dari menutup daerah rawa. Hal ini dilakukan karena kebutuhan lahan permukiman yang meningkat. Sayangnya, tak hanya rawa yang ditutup, bantaran kali pun dipenuhi rumah dengan tiang menjulur panjang menujam dasar sungai.

Sejak dilantik 15 Oktober 2012 sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, mengurangi banjir ibu kota menjadi program unggulan Jokowi-Ahok. Mereka langsung mengerjakan programnya di tahun pertama walaupun tidak ada dana untuk itu karena bukan mereka yang membuat anggaran di tahun sebelumnya.

Tidak pernah kita dengar mereka mengeluh belum ada anggaran dan mencari alasan untuk tidak melakukan program kerjanya. Segala upaya mereka lakukan, berinovasi dan berkreasi. Lengan baju disingsingkan. Hasilnya: pembenahan Waduk Pluit berhasil dilakukan di tahun pertama.

Waduk Pluit kembali ke fungsi awal sebagai tempat penampungan air supaya daerah sekitar tidak banjir. Sekitar 1.600 orang pemukim liar di pinggir waduk dipindahkan ke sejumlah rumah susun. Waduk kembali dibersihkan dan dikeruk sehingga kapasitas tampungnya makin besar.

Waduk Pluit adalah landmark gebrakan Jokowi yang fenomenal. Waduk itu mejadi rapi dan indah. Warga sekitar berkunjung ke sana untuk melepaskan lelah atau berolahraga. Tak heran bila setelah banjir pada 1 Januari kemarin, Jokowi mengunjungi waduk itu, yang merupakan karya pertamanya dalam penanganan banjir di Jakarta.

Setelah Jokowi menjadi Presiden RI di tahun 2014, Ahok melanjutkan kerja-kerja mengurangi daerah terdampak banjir dengan melakukan normalisasi sungai, yakni dengan memindahkan para pemukim di bantaran kali ke rumah-rumah susun sehingga sungai bisa dilebarkan dan diperdalam. Karya Ahok yang fenomenal untuk banjir adalah pemasangan turap beton di Kampung Pulo.

Saat Ahok menjadi Gubernur DKI, dia selalu menjelaskan jumlah titik-titik banjir yang sudah tertangani. Dia selalu mengatakan masih ada daerah yang akan terkena banjir bila hujan karena sungainya belum dinormalisasi. Walaupun demikian, dia selalu berjanji mempercepat turunnya genangan atau menghilangkan genangan secepat mungkin.

Untuk antisipasi banjir itu, Ahok merekrut ribuan tenaga kerja sebagai PPSU dan pengendali banjir dengan baju warna-warni sesuai bidang tugas mereka. Pasukan biru dan orange sangat berjasa mempercepat menghilangkan genangan saat turun hujan. Dalam hitungan di bawah 3 jam, genangan sering kali sudah hilang. Warga Jakarta sangat mengapresiasi kerja Ahok dan pasukannya.

Pekerjaan penanganan banjir belum selesai, tapi Ahok harus melepaskan Jakarta setelah kalah di Pilgub DKI di 2017. Dan kini sudah dua tahun lebih Anies Baswedan mengomandani Jakarta. Warga Jakarta menunggu gebrakan Anies untuk mengurangi banjir, tapi tak pernah ada terlihat.

Alat berat di sungai untuk mengeruk lumpur endapan tidak seintens ketika zaman Ahok. Pekerjaan normalisasi pun tidak tampak. Dari 33 km sungai yang sudah ditetapkan sebagai proyek normalisasi, yang selesai baru 16 km, itu pun dilakukan ketika zaman Ahok dan terhenti saat Anies menjabat.

Anies banyak beralasan karena dia hanya ingin melakukan naturalisasi, bukan normalisasi. Tapi naturalisasi pun tak dia lakukan dengan banyak alasan. Pembebasan lahan di kawasan Bidara Cina untuk melanjutkan pembangunan sodetan Sungai Ciliwung pun tidak dia lakukan.

Banyak hal yang dia salahkan mengapa naturalisasi belum berjalan. Bahwa ini dan itu bukan tanggung jawabnya, bahwa ini dan itu sedang digodok di DPR, bahwa ini dan itu sedang dipikirkan, bahwa air itu kiriman dari Bogor dan meminta Bogor membenahi daerah mereka.

Ya Tuhan, azab Jakarta itu ternyata bukan hanya air, tapi juga pemimpinnya yang cuma bisa ngeles dan menyalahkan orang lain. Bahkan di saat banjir pun dia masih sempat-sempatnya melakukan pencitraan norak. Pantas saja search engine Google menggelarinya Gubernur terbo… duh, tak sampai hati aku melanjutkannya.

Setelah mempunyai Gubernur Jokowi dan Ahok yang kreatif dan inovatif, banyak kerja sedikit bicara dan tidak mengeluh, kemudian memiliki gubernur seperti Anies, rasanya bikin pusing kepala. Di atas tadi sudah saya jelaskan bahwa di tahun pertama Jokowi membenahi Waduk Pluit walaupun tak ada anggaran untuk pekerjaan tersebut.

Ahok bahkan lebih kreatif dengan mengundang pengusaha ikut serta dalam kegiatannya. Membangun RPTRA dan jembatan susun Semanggi tanpa merecoki dana dari APBD. Membangun banyak rumah susun tanpa membuat DKI kekurangan dana. Itulah kelebihan Ahok yang tidak dimiliki Anies.

Anies malah menyunat anggaran penanggulangan banjir untuk kegiatan lain. Masyaallahhh… Saat banjir datang, dengan wajah tanpa dosa dia mengatakan semua pompa sudah bekerja baik. Beberapa hari kemudian, diketahui ada beberapa pompa yang tidak bisa berfungsi. Nasibmu buruk nian, Jakarta!

Menteri PUPR Basuki pun tampak kesal dengan cara kerja Anies sehingga Pusat mengambil tanggung jawab terbesar untuk penanggulangan Banjir di DKI. Dari minggu lalu Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sudah mengumumkan akan ada hujan besar di sekitar 11 – 15 Januari 2020. Aku penasaran apa yang telah dilakukan Anies untuk antisipasi yang mumpuni?

Menurut Bhima Yudhistira, peneliti di Institute for Development of Economic and Finance (INDEF), estimasi sementara kerugian banjir Jakarta dan sekitarnya melebihi Rp10 triliun.  Aku berharap semoga hujan berikutnya dan kiriman air dari Bogor tidak lagi sebesar awal tahun kemarin. Sudah banyak kerugian akibat banjir yang ditanggung warga.

Sekiranya pengendalian banjir ditangani dengan serius jauh-jauh bulan sebelumnya, tentu warga tak perlu mengalami kerugian sebanyak itu. Masa mobil sampai tumpang tindih seperti itu? Ada apartemen dan mall yang gelap gulita akibat kebanjiran tersebut.

Akhir kata aku mau katakan, banjir itu adalah petaka yang bisa diantisipasi dan bisa ditanggulangi. Tapi petaka yang sesungguhnya adalah memiliki pemimpin yang bodoh, tak tahu kerja, dan HANYA bisa ngeles. Terlalu banyak cincong!