Seniman
3 tahun lalu · 639 view · 3 menit baca · Seni garis_keras.jpg
Musisi Garis Keras

Grup Musik dan Musisi Garis Keras, Bertahanlah!

Suatu hari seorang teman berkata, “Kenapa musik dari band Indonesia jadi menye-menye begini? Beda banget sama band-band di tahun 90-an. Musik sekarang liriknya tak lepas dari selingkuh, pacar-pacir, imbauan untuk bersikap apatis dan segala kebobrokan lainnya.”  Secepat kilat saya menanggapi, “Kata siapa? Band garis keras masih ada dan masih terus berkarya!”

Mungkin teman saya ini memantau perkembangan musik tanah air dari sejumlah tayangan musik di  TV swasta. Kalau demikian, pantaslah. Mau bagaimana lagi? Toh sekarang yang laku masuk TV ya musisi yang guanteng dan cantik-seksi, ramuan musik sekadarnya, lirik cinta murahan, berani tampil lipsinc dan mampu membuat sedikit percikan sensasi yang tak kalah murahan agar diburu infotainment.

Jangan salah, band garis keras yang berani memberontak sistem, kebijakan, mengecam, mengkritik, bersuara lantang dan tajam tentang kehidupan pun masih banyak. Mereka menyebar di seluruh wilayah negeri.

Misal, Iwan Fals, Dik Doang, Navicula yang lantang bersuara tentang perlindungan terhadap satwa langka dan lingkungan, Marjinal yang bersuara tentang tindak penindasan kaum pinggiran, Seringai, Efek Rumah Kaca, Superman Is Dead, Koil, Mata Jiwa dan masih banyak lagi.

Lalu kenapa suara lantang mereka hanya terdengar sayup-sayup? Mereka itu minoritas. Minoritas memang acap kali tertindas. Mereka tak laku di TV. Pada umumnya TV lebih memilih musisi-musisi yang sedia untuk menjadi badut. Apalagi band garis keras ini liriknya begitu, ya bahayalah. Padahal mereka ngomongin cinta juga. Cinta yang lebih universal. Bukan tentang selingkuh-selingkuh itu!

Apakah sikap untuk mengubur musisi atau band garis keras itu adalah cara memperlancarkan misi untuk menggiatkan pembodohan di negeri ini? Istilahnya, masyarakat (terutama generasi muda) dibuat terlena dengan lagu-lagu cengeng, sehingga lupa tentang hakikat kehidupan, semangat nasionalisme dan perjuangan untuk lebih berisi dan berarti bagi negara. Begitu?

Kalau demikian, ini jelas sebuah pergerakan mafia busuk. Sehingga ilmu dan pengetahuan, kepekaan jiwa, kepekaan nurani serta upaya untuk mengasah sikap kritis generasi muda dibiarkan tergerus, hangus dan terhapus. Ujung-ujungnya, generasi muda hanya tahu tentang asmara dangkal, dan semakin liar untuk bersikap hedonis dan konsumtif. Begitu?

Hati-hati! Musik adalah seni yang mampu dengan kuat mendoktrin jiwa. Coba saja kalau tidak percaya. Saat anda sedang galau, dengarkan lagu cengeng itu. Bagaimana? Apakah sukses membuat anda makin larut dalam kesedihan hingga menimbulkan niat untuk bunuh diri?

Sama halnya dengan tulisan, seyogyanya musik pun juga merupakan media yang ampuh untuk bersuara. Terserah, mau bicara tentang lingkungan, kehidupan, kritik sosial, kecaman terhadap politik dan lain sebagainya, musik pun sangat mumpuni.

Tapi kenapa musisi dan band garis keras semakin kehilangan tempat untuk bersuara? Apalagi sebagian dari mereka telah berhasil dirayu agar mau bergabung produser-produser otak uang. Sehingga pola pikir kritis musisi dan band itu dengan mudahnya dibeli dengan uang dan popularitas. Miris!

Saya teringat perkembangan musik di tahun 70-an. Saat itu adalah pergerakan anak muda yang menamakan diri mereka sebagai kaum hippies. Musik pun menjadi media yang ampuh untuk menggerakkan hippies dan kaum muda lainnya untuk mau bersatu menentang perang. Banyak musisi dan band yang ikut serta dalam pergerakan itu, seperti Jimi Hendrix, The Doors, Pink Floyd, Jhon Lennon dan lainnya.

Satu hal sepertinya yang menimbulkan stigma buruk terhadap musisi, band serta penikmat musik garis keras, yakni dengan melancarkan isu tentang pemakaian obat-obatan terlarang, suka membuat onar, begajulan, preman, anak muda tak punya masa depan dan penghakiman lainnya. Hal tersebut sukses. Musisi dan band garis keras kian terpinggirkan.

Anda mungkin bilang, “Kan masih banyak band yang keras, rock dan sebagainya?” Bukan itu! Ini tentang suara lantang dengan lirik yang tajam untuk menentang segala kebobrokan, penindasan dan ketimpang kehidupan lainnya. Ini bukan tentang pemakaian distorsi gitar yang tebal, drum bertempo cepat, bass pletat-pletot atau suara vokalis yang melengking ke langit ke tujuh. Bukan itu!

Percuma mereka mengaku-ngaku band rock dengan pakaian panggung yang selalu hitam-hitam, tapi liriknya masih menye-menye begitu. Buat musisi dan band garis keras, bertahanlah! Kalian memang akan selalu berada di posisi minoritas. Jangan sedih, seseorang yang mau melawan dan bicara tentang kehidupan memang akan selalu ditindas hingga tandas.

Memang musisi dan band garis keras adalah minoritas. Tapi ingat, mereka punya gengsi yang tak bisa dibeli dengan bertumpuk-tumpuk uang. Mereka berkarya untuk negeri, untuk manusia dan untuk peradaban yang kian sekarat.

Bertahanlah! Walau suara perlawanan itu hanya mampu untuk berbisik, tetaplah bicara. Jangan sampai punah. Siapa lagi yang akan mengingatkan kami kalau bumi telah banyak kehilangan hutan, daerah kutub yang makin mencair, konsumtif masyarakat yang kian menjadi, politik yang semakin nggak asik atau tentang kehidupan manusia yang tak lagi sesuai hakikatnya?

Musisi dan band garis keras, bertahanlah! Setidaknya pendengar setiamu akan tetap setia sampai mati!

Artikel Terkait