Seolah-olah tak pernah teratasi persoalan banjir Jakarta di musim hujan. Apalagi terjadi pada malam pergantian tahun baru 2020 ketika resolusi direncanakan bagi perubahan diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.

Banjir yang melanda ibu kota itu adalah pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai dari tahun ke tahun. Bahkan dapat kita pastikan pindahnya ibu kota tidak mungkin membawa air bah yang banyak itu ke tempat baru.

Artinya, persoalan banjir Jakarta merupakan fenomena alam yang harus kita lihat, hadapi, dan rasakan dampaknya bagi kehidupan sosial di masa depan. Tentu, warga Jakarta mesti waspada menyelamatkan nyawa dan barang-barang berharga bila hujan tak kunjung reda. Karena pemerintah ternyata masih terlambat juga menjamin keselamatan hidup warganya dari bahaya banjir di ibu kota tersebut.

Membaca komentar publik yang menjadi viral di berbagai media massa akhir-akhir ini, dari Anies Baswedan, Ahok, dan Jokowi, tentang penanganan banjir Jakarta. Harus diakui, publik menjadi makin bingung dengan sikap petinggi-petinggi itu mengatasi banjir Jakarta.

Silang sengkarut perbedaan pendapat menjadi benang kusut krisis ekologi berkepanjangan yang tak mungkin teratasi. Padahal komentar-komentar yang mereka utarakan sudah dapat ditebak asumsinya mengenai komitmen mereka terhadap pembangunan infrastruktur dan iklim investasi di negeri ini.

Ketika Anies berkomentar sampai kapan pun Jakarta akan mendapat kiriman banjir kalau tak ada upaya mengatasi di asalnya. Kemudian ditanggapi Basuki Hadimuljo (Menteri PUPR) pemerintah pusat kini sedang membangun bendungan Ciawi dan Sukamahi di kawasan Puncak-Bogor. Tujuannya untuk mengendalikan banjir yang akan datang ke Jakarta.

Jokowi di tempat lain juga telah menginstruksikan Menteri PUPR itu berdalih menangani banjir Jakarta, dengan tambahan komentar beban ekologis pulau Jawa sudah tidak mampu menanggung kepadatan penduduk. Komentar Ahok di tengah-tengah banjir Jakarta tentang normalisasi sungai Ciliwung makin membuat kebanjiran informasi itu meluap-luap di kepala warga.

Dilihat dari perspektif ekologi, komentar-komentar mereka itu sesungguhnya merupakan faktor penyebab banjir Jakarta dan penanggulangannya yang muncul dari logika melawan siklus air. Hal ini dapat dibuktikan dengan merusak integritas aliran air yang memungkinkan sungai Ciliwung memperbarui diri sendiri. 

Kepongahan cara berpikir demikian itu terletak pada keyakinan mereka bahwa mereka menciptakan air dan mempunyai kekuatan untuk mengaturnya. Itulah sebabnya, komentar-komentar mereka dalam mengatasi banjir Jakarta penting bagi kita berpikir dan bertindak ekologis seperti sebuah sungai yang mengalir mengikuti sifat air.

Kutukan Greta

Adalah Greta Thunberg mungkin yang pertama kali mengutuk pemimpin-pemimpin Indonesia itu dengan cara pikir ekologis. Mengingat pidato-pidato Greta di depan pemimpin-pemimpin dunia menggugah kesadaran publik tentang krisis iklim dan bahaya kerusakan lingkungan.

Pidato Greta dalam KTT Perubahan Iklim di AS mungkin dapat menyegarkan ingatan kita tentang komitmen pemimpin dunia ini melawan logika alam. Pidato itu berisi:

“This is all wrong. I should not be up here. I should be back in school on the other side of the ocean, yet you all come to us young people for hope. How dare you! You have stolen my dream and my childhood with your empty words and yet i am one of the lucky ones. People are suffering. People are dying. Entire ecosystems are collapsing. We are in the beginning of a mass extinction and all you can talk about is money and fairy tales of eternal economic growth.”

Sepintas mendengar dan membaca gugatan Greta dari berbagai media itu, mungkin tidak akan pernah masuk ke dalam relung ekologi umat manusia. Apalagi pidato itu diucapkan anak berusia 16 tahun yang sok moralis setelah menonton kebakaran hutan di televisi dan membaca buku di perpustakaan orang tuanya. 

Pemimpin-pemimpin dunia tidak akan mudah terhasut dengan propaganda anak kecil berbicara perubahan iklim yang mengancam bumi.

Tetapi siapa sangka, aksinya di depan parlemen Swedia yang menginspirasi gerakan ekologi di seluruh dunia itu mampu mengubah cara pandang seseorang merasakan krisis iklim.

Tuntutan Greta kepada pemimpin dunia untuk menurunkan suhu 2 derajat celsius sesuai dengan Kesepakatan Paris bagi kebijakan pemerintah nasional yang business as usual. Justru ditanggapi pemimpin negara-negara maju seperti Donald Trump dengan melakukan tindakan bullying terhadap Greta.

Jika pemimpin negara adikuasa sekelas Trump dibuat Greta harus berkomentar dengan penobatannya sebagai Person of the Year 2019 karena ucapan dan tindakannya memengaruhi peristiwa global dalam setahun.

Bagaimana dengan pemimpin Indonesia yang memperoleh Asian of the Year 2019? Mengingat banjir Jabodetabek menelan korban per Sabtu (4/1/2020) 53 orang meninggal dunia dan 1 orang hilang. 

Seperti memang tidak bisa dibandingkan pengaruh keduanya bagi perubahan iklim yang berdampak besar bagi kemanusiaan. Kecuali kutukan Greta tentang pemogokan iklim itu sendiri bagi negara-negara berkembang terbukti kenyataannya membawa petaka.

Meskipun pemerintah Indonesia merupakan salah satu negara penandatangan Kesepakatan Paris. Sedangkan kutukan Greta disumpahkan kepada negara-negara maju seperti Inggris yang tetap mendanai proyek pengelolaan bahan bakar fosil di negara-negara berkembang. 

Tapi apa daya negara-negara berkembanglah yang menanggung risiko lebih besar kutukan Greta itu. Terlebih jika pemerintahnya tidak berkomitmen dengan Kesepakatan Paris melalui kebijakan pembangunan yang anti-alam.

Komentar-komentar pemimpin Indonesia mengenai banjir Jakarta di atas menunjukkan kebenarannya atas kebijakan pemerintah. Ketika bendungan dibangun dengan menenggelamkan hutan-hutan tangkapan air luas dan air sungai dialihkan dari alirannya ke kanal-kanal, kemudian terjadilah perusakan siklus air yang tidak dapat diperbarui.

Di sisi lain, pemanasan global memicu pergantian musim tak pasti dan cuaca ekstrem tak tentu yang berpengaruh besar terhadap krisis iklim di berbagai wilayah dunia. Banjir Jakarta adalah jawaban atas fenomena alam yang diakibatkan ulah manusia daripada akibat bencana alam yang dikutuk Greta.

Setelah Greta mengutuk banjir Jakarta dengan segala komentar-komentar pemimpinnya di headline media massa. Melalui akun media sosialnya, kini ia mengutuk kebakaran Australia yang menewaskan 20 orang dan ribuan rumah terbakar.

Kutukan Greta kali ini tidak ada bedanya dengan banjir Jakarta. Ia bersama dengan orang-orang Australia terdampak kebakaran hutan yang menghancurkan itu mengutuk politisi-politisi yang masih belum menghasilkan tindakan politik apa pun demi masa depan bumi lebih baik bagi generasi mendatang.