4 minggu lalu · 121 view · 5 menit baca · Budaya 83085_36450.jpg

Grebeg Pancasila Sebuah Konteks Tradisi dan Budaya Kota Patria

Kebudayaan adalah segala sesuatu upaya dalam rangka memperbaiki kualitas hidup manusia. Sedangkan Seni Budaya adalah seni yang berkebudayaan dalam artian seni yang selalu berkembang. Kesenian itu terkait dengan estetika terikat dengan etika dan logika. 

Kesenian dibagi menjadi 5 macam yakni Seni Teater, Seni Sastra, Seni Tari, Seni Musik dan Seni Rupa. Di Kota Blitar, kota yang terletak di bagian selatan Provinsi Jawa Timur, sekitar 167 km sebelah barat daya Surabaya dan 80 km sebelah barat Malang, kelima seni tersebut berkembang dengan baik dan selalu memunculkan perkembangan ke arah yang positif.

Tradisi adalah segala sesuatu yang lahir dari masyarakat setempat. Pada wilayah Blitar sendiri khususnya pada daerah Kota Blitar tradisi yang ada dan melekat dijiwa masyarakat Blitar adalah dengan adanya Peringatan Hari Jadi Kota Blitar, Grebeg Pancasila dan Peringatan Hari Lahirnya Presiden pertama Republik Indonesia yang kini menjadi agenda rutin pada setiap tahunnya. Berbeda dari hari peringatan hari lahir Pancasila di setiap daerah di Indonesia, Blitar mengusung kata “Grebeg” yang berarti kebersamaan

Tradisi dan Kebudayaan Blitar bukanlah sekedar hal yang menarik namun merupakan sebuah tantangan atau cara menghadapi kehidupan yang serba global. Konsep globalisasi menggunakan teknologi dunia maya dengan menembus segala penjuru tanpa wilayah geopolitik dan geografi. 

Teknologi merupakan program negara besar untuk mempengaruhi kehidupan manusia di dunia agar konsep dan budaya negara besar tersebut bisa masuk ke negara-negara lain yang tidak sesuai dengan kehidupan setempat sehingga merusak kepribadian. 

Cara untuk mengatasi hal tersebut dengan misalnya pada bidang politik dengan memiliki budaya dengan nama “Rembug Desa” dengan nilai yang ditawarkan adalah musyawarah mufakat. Sedangkan teknologi politik sampai saat ini yang telah masuk dari luar Indonesia adalah “Voting”. 

Budaya pun tidak luput dari arus globalisasi yang kini mulai marak dan ditandai dengan munculnya budaya-budaya luar yang nyatanya mampu untuk menggeser budaya dan tradisi di masyarakat setempat. Berangkat dari nilai-nilai tradisi itu terdapat nilai luhur yang diturunkan oleh para leluhur untuk mempertahankan identitas budaya. 


Seperti halnya dengan tradisi “Grebeg Pancasila” yang nyatanya tetap mampu menjaga eksistensi nya di Kota Blitar dan akan terus dijaga oleh seluruh lapisan masyarakat wilayah Kota Blitar.

Grebeg Pancasila, 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila, menurut Bagus Putu Parto (seorang seniman) selama ini telah mengalami penganaktirian sejarah. Pada orde baru kesaktian Pancasila lebih diutamakan untuk diperingati. 

Sejarah bahkan telah dipelintir bahwa kelahiran Pancasila bukan saat Bung Karno menyampaikannya dalam pidato di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, namun dinyatakan tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang di sah kan pada tanggal 18 Agustus 1945. Pernyataan tersebut dapat diartikan tidak adanya pengakuan bahwa Pancasila adalah buah penggalian jati diri bangsanya oleh Bung Karno.

Kegelisahan atas ketiadaan penghargaan kepada Bung Karno ini, tersimpan lebih dari tiga puluh dua tahun di dada anak bangsa, terutama Wong Blitar. Kalangan seniman mudanya selalu memberontak oleh penganaktirian sejarah mengenai lahirnya Pancasila. 

Demikian pula yang dirasakan oleh Bagus Parto, sehingga gagasan yang terlahir, terbawa sampai ke Blitar yang langsung disampaikan kepada Drs. Suwardjo. Ide tersebut diolah untuk selanjutnya disepakati dalam forum pertemuan para seniman Blitar di depan Majelis Himpunan Insan Pecinta Bung Karno (HIPBK) di Jalan Aru 25 Blitar.  

Ki Susato Ws berujar bahwa istilah Grebeg Pancasila yang disampaikan oleh Bagus Putu Parto adalah istilah yang tepat karena istilah Grebeg memiliki makna kebersamaan.

Menurut Bagus Putu Parto dalam tulisannya “Membangun Tradisi Kesenian Baru” konsep awal Grebeg Pancasila dibagi menjadi 3 ritus budaya, yaitu Ritus I (Upacara Budaya), Ritus II (Kirab Gunungan Lima dari Istana Gebang menuju Makam Bung Karno) dan Ritus III (Kenduri Pancasila di Makam Bung Karno). 

Unsur lain yang harus ada adalah Gunungan Lima (bentuknya seperti di Yogyakarta) yang merupakan personifikasi dari ke lima sila Pancasila. Diiringi pula Prajurit Siji, Prajurit Enem (membawa Burung Garuda dan foto bung Karno) dan Prajurit Patang Puluh Lima (membawa Gunungan Lima). Para prajurit itu melambangkan hari lahirnya Pancasila 1 Juni 1945.

Ritus prosesi Grebeg Pancasila di Kota Blitar berisi lima mata acara pokok sebagai berikut

1.Bedholan Pusaka

Ritus penyiapan ubu rampe untuk peringatan Grebeg Pancasila berupa kirab lambang negara dan perlengkapan upacara. Dari Rumah Dinas Walikota Blitar menuju Jalan Soedanco Supriyadi Blitar menuju kantor Walikota Blitar. Dilaksanakan oleh Bregeodo Siji, Bregodo Enem, dan Bregodo Patang Puluh Lima

2.Malam Tirakatan/Renungan

Kegiatan ritual menjelang tanggal 1 Juni, yang diselenggarakan dengan maksud untuk merenung dan menghayati pentingnya Pancasila sebagai nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Acara ini bertempat di Kantor Walikota Blitar diisi dengan Macapatan semalam suntuk.

3.Upacara Budaya Grebeg Pancasila

Sebuah peringatan Hari Lahirnya Pancasila, yang di desain sebagai peristiwa budaya. Dilaksanakan oleh seniman-seniman Blitar dengan sentuhan dan piranti etik dan estetika tanpa meninggalkan rasa khusyuk dan makna sebuah upacara di Aloon-Aloon Blitar pada tanggal 1 Juni. 

Rekaman Pidato Bung Karno berkumandang sayup-sayup bersama Ketawang Ibu Pertiwi, disusul masuknya Gunungan Lima yang dibawa Bregodo Siji, Bregodo Enem, dan Bregodo Patang Puluh Lima dalam iringan gendhing Lancaran Bela Pancasila. 


Dalang Ki Rudi Gareng mengawali narasi Anturan Goro-Goro. Janturan ditutup gendhing Mars Semangat Juang 45 yang ditulis sendiri oleh Bung Karno, yang dikumandangkan pesinden Kota Blitar dengan iringan karawitan pimpinan Ki Wandono dan Drs. Darwiyanto. 

Pembinan upacara naik ke mimbar, dijemput Suba Manggala, seluruh peserta upacara menyanyikan lagu Indonesia Raya kemudian dilanjutkan dengan lagu doa. Prosesi pembacaan naskah Pancasila dilakukan belasan siswa Kota Blitar. Pembirawa Pancasila dengan deklarasi Pancasila dalam gendhing Dhandang Gula Palaran Pancasila. 

Pagar ayu menyerahkan teks Pancasila yang kemudian dibacakan Walikota Blitar selaku pembina Upacara. Puncak acara berisi Sabda Kawedhar, berupa amanat Grebeg Pancasila oleh pembina upacara.

4.Kirab Gunungan Lima

Sebuah arak-arakan gunungan lima, sebagai penggambaran lima dasar Pancasila. Simbol itu dikawal Bregodo Siji, Bregodo Enem dan Bregodo Patang Puluh Lima menandai hari lahir Pancasila 1 Juni 1945. 

Simbolisme Gunungan Lima, berisi Ontong (jantung pisang), kacang panjang, wortel, bawang merah, bawang putih, jeruk dan cabai merah. Ontong dipuncak gunungan mengingatkan perlunya hati yang bersih, mengutamakan nurani. Tidak mengandalkan kemampuan otak dan kecakapan semata. 

Kacang panjang tumbuh mengikuti lanjaran atau rambu yang ada. Bawang merah bawang putih adalah pralambang eksistensi ayah dan ibu. Mengingatkan sangkan paraning dumadi, asal usul dan tujuan hidup kelak di kemudian hari. 

Sedangkan wortel sayuran asing bukan milik Indonesia dimaknai sebagai budaya asing yang bisa diterima Bangsa Indonesia. Prosesi ini berangkat dari Aloon-Aloon Kota Blitar menyusuri jalan utama memasuki Jalan Ir.Soekarno dan berakhir di Makam Bung Karno.

5.Kenduri Pancasila

Ritus terakhir ini berupa selamatan, pemberian doa bagi arwah Bung Karno penggali gagasan Pancasila. Kegiatan ini diselenggarakan di Area Perpustakaan Nasional Bung Karno yang terletak di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar untuk selanjutnya dilakukan pemberkahan doa. 

Puncak acara kenduri ini berupa ngalap berkah. Gunungan lima diberikan kepada masyarakat Blitar dan sekitarnya. Masyarakat yang menginginkan dipersilahkan menunggu giliran sayuran dan buah-buahan yang baru dipergunakan sebagai media pemberkahan doa kepada Bung Karno serta bangsa dan negara  Indonesia. 


Kenduri Pancasila mengandung makna penting. Pertama agar Bung karno mendapat tempat yang layak disisi-Nya atas jasanya menggali Pancasila sebagai dasar negara. Kedua, warga Blitar menemukan kesentosaan. Dan ketiga, kenduri ini adalah sebagai ajang “Manunggaling Kawula Pangarsa” bersatunya masyarakat dan aparat di Kota Blitar

Kelima rangkaian itulah yang menjadi ciri khas dan sekaligus menjadi identitas Kota Patria, dalam Peringatan Hari Lahirnya Pancasila. Bukan hanya masyarakat Blitar saja yang melestarikan serta menerapkan nilai-nilai dari Pancasila, melainkan menjadi tugas kita semua sebagai warga negara Indonesia.

Artikel Terkait