“Belajarlah hingga ke negeri China,” begitu ungkapan yang sangat terkenal yang tidak hanya di kalangan santri tapi juga sudah menjadi ungkapan umum.

Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor melalui Departemen Hubungan Internasional, pada Ahad (11/12) kemarin menyelenggarakan Seminar “Kiat Menembus Beasiswa Studi ke Tiongkok” di Hotel Acacia Jakarta. Acara tersebut menghadirkan dua pembicara alumni Tiongkok yakni Ahmad Syaifuddin Zuhri dan Fathan A Sembiring. Dan diikuti sekitar 60 peserta dengan begitu antusias.

Zuhri, alumni S2 jurusan Hubungan Internasional Nanchang University 2012-2015, menjelaskan kepada peserta bahwa saat ini dengan kemajuan Tiongkok di segala bidang juga memberi peluang cukup besar untuk beasiswa studi kesana. Apa lagi dengan banyaknya perguruan tinggi di sana yang didorong menjadi kampus global oleh Pemerintah Tiongkok.

Pria yang juga pengurus GP Ansor bidang Hubungan Internasional tersebut mengungkapkan bahwa Pemerintah Tiongkok, melalui China Scholarship Council (CSC), tiap tahun mengalokasikan sekitar seribu kursi beasiswa. Khususnya untuk pelajar dari negara-negara ASEAN. Beasiswa itu ada yang full scholarship atau partial scholarship dan kebanyakan untuk jenjang S2-S3.

“Saat ini peluang untuk pelajar Indonesia cukup besar dengan makin eratnya hubungan kedua negara sehingga alokasi khusus untuk Indonesia tiap tahun bertambah. Tahun 2016 ini saja ada sekitar 150-an pelajar yang mendapatkan beasiswa tersebut,” tambah mantan Wakil Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok 2013-2015 tersebut.

Ada beberapa jalur beasiswa ke Tiongkok. Pertama, jalur beasiswa Billateral Program, Program beasiswa pemerintah Tiongkok yang diberikan kepada negara mitra melalui kedutaan besarnya. Bagi pelajar Indonesia misalnya, beasiswa ini dapat diakses dengan mengirimkan seluruh berkas pengajuan beasiswa ke kedutaan besar Tiongkok di Jakarta.

Kedua, China University Program, jalur beasiswa penuh dengan langsung mendaftar melalui universitas yang ditunjuk dari CSC. Ada sekitar 279 kampus di Tiongkok yang masuk program ini.

Ketiga, AUN Program atau ASEAN UNIVERSITY PROGRAM merupakan jalur beasiswa bagi pelajar dan guru negara-negara anggota ASEAN untuk belajar di Tiongkok. Pelamar bisa mengakses di situs AUN langsung. Bagi pelajar yang ingin mendaftar beasiswa ini dapat mendaftar dengan mengirimkan berkas ke sekertariat AUN yang ada di Thailand.

Keempat, Ministry of Commercial (MOFCOM) Program. Jalur yang baru dibuka pada 2015 lalu ini melalui Kementrian Perdagangan Tiongkok dan pengiriman berkasnya ke Economic and Commercial Office di setiap Kedubes Tiongkok negara tujuan.

Sementara itu, pembicara kedua, Fathan A Sembiring, alumni S2 University International Business of Economics Beijing, mengungkapkan bahwa memilih Tiongkok sebagai negara tujuan belajar bagi pelajar Indonesia adalah pilihan yang tepat karena beberapa hal. Yang pertama adalah kemajuan teknologi Tiongkok, hal ini sudah tidak dipungkiri bahwa Tiongkok telah menjadi negara maju dengan teknologi yang dimiliki saat ini.

Munculnya Jack Ma sebagai pemilik E-commerce terbesar Tiongkok menjadi salah satu sampel bagaimana pelajar dunia saat ini berbondong-bondong belajar IT di Tiongkok. Alasan kedua adalah keamanan dan kenyamanan. Tiongkok menjadi negara besar namun tetap menjanjikan keamanan yang luar biasa.

“Tak hanya itu, walaupun misalnya Islam menjadi agama minoritas namun berbagai fasilitas khusus tersedia seperti kantin halal dan masjid yang cukup mudah ditemui,” imbuh mantan Sekretaris Jendral Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok 2013-2014 ITU.

Seminar ini adalah bagian awal dari program Gerakan Pemuda Ansor melalui Departemen Hubungan Internasional dalam Program Pendampingan Pelajar Indonesia-Tiongkok (P3IT) yang bertujuan untuk memberi akses, mendampingi sekaligus memotivasi bagi pelajar Indonesia untuk belajar di Tiongkok dengan menggandeng berbagai pihak.

Abdul Aziz Wahid LL.M, selaku Ketua Departemen Hubungan Internasional Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor mengatakan bahwa belajar ke luar negeri saat ini menjadi sangat penting untuk membuka wawasan global. Kalau dulu yang terkenal adalah studi ke Eropa, Australia atau AS.

“Saat ini Tiongkok, menjadi salah satu tujuan pendidikan global, terbukti dengan ribuan pelajar asing baik dari Asia, Afrika bahkan AS dan Eropa Barat yang berbondong-bondong datang ke sana. Apalagi saat ini cukup banyak perguruan tinggi di Tiongkok masuk 100 besar Asia dan Dunia,” imbuhnya.

“Saat ini kita sosialisasi terlebih dulu melalui seminar-seminar lalu kemudian akan dilakukan tahap selanjutnya bagi peserta yang telah mengikuti program akan diberikan pendampingan seperti pelatihan bahasa dan pendaftaran beasiswa,” jelasnya.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Pesahabatan Alumni Tiongkok (PERHATI), Sudjadi, yang turut hadir dalam acara tersebut mengatakan bahwa pihaknya sangat mendukung langkah Gerakan Pemuda Ansor dalam mensukseskan Program Pendampingan Pelajar Indonesia-Tiongkok.

“Bagi kami, ini sangat penting dan harus kami dukung, apalagi selain buat umum ini juga dikhususkan bagi santri. Kami siap mendukung,” ungkap pria keturunan Tionghoa ini.

Acara yang semula dijadwalkan digelar di Aula Gedung PP GP Ansor terpaksa dipindah ke Hotel Acacia karena di saat yang sama, Presiden Jokowi melakukan pertemuan dengan kiai-kiai sepuh di Gedung PP GP Ansor dalam acara maulid Nabi Muhammad SAW.

Acara yang didukung oleh lembaga konsultan pendidikan Tiongkok Great Wall, PERHATI dan PPI Dunia ini mendapatkan antusiasme peserta yang cukup besar. David Gautama, misalnya, peserta dari SMA Santa Ursula Jakarta ini mengatakan acara seminar ini sangat menarik dan konten-kontennya sangat penting dan langka.“Acaranya keren dan serius tapi tetep asyik,” tambahnya.

Ali Fathoni, peserta yang datang langsung dari Lamongan, Jawa Timur, mengungkapkan sengaja datang jauh-jauh khusus untuk mengikuti acara ini. “Saya tahu informasi ini awalnya dari medsos dan karena sangat ingin mendapatkan beasiswa studi ke Tiongkok, khususnya untuk jenjang S3 maka saya langsung datang ke sini,” ungkap pria yang berprofesi sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi di Lamongan ini.