“ Goyangnya rusak sekali ya !! aneh bin ajaib, video promosi PON Papua Ke-XX Klaster Merauke menonjolkan goyang “Panta Bola” (Goyangan yang mirip dengan Goyang Ngebor ala Inul Daratista).” Ujar Paulus dengan nada penuh amarah. Ia nampak kesal setelah melihat sebuah konten video youtube dengan judul” PON Papua Torang Bisa.” Membuat darahnya mendidih, layaknya minyak goreng panas.

Informasi singkat dari si Paulus tersebut membuat saya penasaran sekaligus teringat dengan sala satu postingan di akun facebook yang menghujat panitia Subda Pon Papua Ke-XX Klaster Merauke beberapa hari yang lalu dengan logat Papua. “ Panitia Subda PON Klaster Merauke ini hanya basibuk posting foto-foto selfie di media sosial, tapi kerjanya rusak brat. Nomor satu bagaya, tapi kinerja nol besar.”

Kemungkinan omelan tersebut ada hubungannya dengan konten video youtube itu. Pikir ku, dalam hati. Karena bukannya Panitia Subda PON Papua Klaster Merauke menggandeng Budayawan Suku Malind untuk kemudian merumuskan sebuah tarian yang bernuansa kearifan lokal Merauke. Tetapi, mala menonjolkan tarian kontemporer dengan hiasan dan koreografi tidak jelas dari negeri entah beranta. Yang tidak ada hubungannya dengan budaya suku Malind (Pribumi Merauke). Seperti yang disodorkan di dalam video berdurasi 5 menit 21 detik tersebut.

Didalam video yang didominasi oleh “goyang panta bola” (goyang patola) tersebut, gerak tari, irama dan pakaian adat suku Malind tidak ditampilkan. Seperti tarian Nggatzi, hiasan bunga Anggin, dan lain sebagainya. Ciri khas yang identik dengan suku Malind, hilang ditelan bumi. Dikubur rapat-rapat.

Suku Malind Anim merupakan tuan tanah dan pemilik sah Bumi Merauke. Tetapi dalam ajang PON Papua Ke-XX Klaster Merauke ini, suku Malind tidak mendapatkan tempat yang utama layaknya seorang tuan rumah. Sangat disayangkan, Tuan rumah hanya menjadi penonton di atas tanah leluhurnya sendiri. Budaya Malind Anim tidak mendapatkan tempat yang spesial dalam ajang promosi Video-video PON Ke-XX Klaster Merauke. Sungguh ” terrlaalu ”.

PON Ke-XX Papua ini, seharusnya menjadi momentum berharga untuk mempromosikan budaya Malind Anim yang unik dan otentik kepada seluruh masyarakat Indonesia. Karena momentum langka ini tidak mungkin terulang kembali dalam 20 tahun kedepan. Apa lagi dengan situasai Papua yang seperti ini. Oleh karena itu, kesempatan emas ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mempromosikan budaya asli yang berbasis kearifan lokal Merauke (Malind Anim).

Tujuan diadakannya PON Ke-XX di Papua ini, bukan saja sebagai pesta olahraga nasional, Tetapi sekaligus ajang untuk mempromosikan adat istiadatbudaya, keaslian dan keunikan Orang Asli Papua. Khususnya Pribumi Asli Merauke (Malind Anim). Untuk bisa dikenal secara luas oleh masyarakat Nusantara. Terutama pada kota-kota penyelenggaraan. Seperti Jayapura, Mimika dan Merauke. Sebab ciri khas, keunikan, dan keberagaman budaya itulah yang menjadi kekuatan bangsa Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika. Dan nilai-nilai budaya itulah yang ingin dilihat oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Bukan goyang “Panta Bola” (Patola) yang tidak jelas asal muasalnya.

Melihat fenomena goyang tidak etis tersebut, membuat saya bertanya-tanya dalam hati kecil. Menari-nari diatas penderitaan orang lain itu, merupakan adat-istiadat dari suku bangsa yang mana ?

Saya juga sebenarnya bingung, kok bisa-bisanya konten kreator Video itu memberikan porsi yang dominan kepada goyang berbau maksiat tersebut. Goyangan yang menonjolkan bagian-bagian sensitif dari tubuh manusia. Pria dan wanita. Dengan celana pendek diatas lutut dan sorotan kamera yang mengarah pada daerah-daerah tertentu dari lekukan tubuh. Mempertontonkan syahwat si penari. Herannya lagi, fenomena ini dianggap sebagai hal yang lumrah oleh panitia subda PON Papua Ke-XX klaster Merauke.

Apakah memang sengaja dipromosikan bahwa “ Goyang Panta Bola” adalah adat-istiadat budaya Orang Asli Papua ? sehingga dalam ajang PON Papua Ke-XX Klaster Merauke ini harus mendapatkan panggung utama. Aneh tapi nyata.

“ Poin pentingnya Cuma satu, koregrafer yang membuat koreografi tarian tersebut IQ-nya masih jauh dari pribahasa, “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”. Tidak bisa menempatkan momentum yang tepat untuk sebuah gerak tari. Kacau balau.” Ucap Paulus sambil memperlihatkan video tra jelas tersebut kepada saya.

Koreografer tari tersebut harus bisa melihat pesan nilai moral yang mau disampaikan kepada masyarakat Indonesia dari ajang  PON Papua ini seperti apa. Sehingga konten Video yang dibuat juga tidak menyimpang dari pesan moral tersebut. Kiblatnya harus jelas, terukur dan tetap berada pada jalan kebenaran yang sudah digariskan. Didalam kitab visi-misi PON Ke-XX Papua.

Seperti konten video resmi PON Ke-XX Papua dengan judul “ Torang Bisa”. Video yang diciptakan oleh panitia Provinsi Papua. Pesan moralnya jelas. Didalam video tersebut dimunculkan anak-anak asli Papua yang berkulit hitam manis dan berambut keriting. Sedang memerankan berbagai macam cabang olahraga dan juga tarian adat asli Papua. Beserta keindahan alam Bumi Cenderawasih. Konten video seperti ini yang sesuai dan sejalan dengan pesan nilai moral dari PON Ke-XX Papua.

Yaitu, pesan bernuansa olahraga, budaya asli, karakteristik dan kearifan lokal orang asli Papua. Tidak ada adegan “goyang panta bola” seperti versinya video Klaster Merauke. Goyang seronok yang mengumbar syahwat dan tidak pantas ditampilkan untuk ditonton dalam ajang resmi se-akbar Pekan Olahraga Nasional (PON). Seharusnya panitia Subda PON Klaster Merauke merasa malu dengan fenomena “goyang panta bola” ini. Karena tidak mewakili budaya dan kearifan lokal pribumi Merauke. Bagian tersebut harus diganti, dengan adegan kreasi yang lebih masuk akal, bermoral, berbudaya dan bermartabat. Sesuai pesan nilai moral PON Ke-XX Papua.

Kalau kemudian ada alasan menghindar yang mengatakan bahwa konten video “ goyang panta bola” ini dibuat untuk promosi perlombaan senam dalam rangka menyambut ivent PON di Kota Merauke pada bulan Oktober 2021 nanti. Pertanyaannya kemudian, kenapa goyang tersebut dibuat satu konten dengan vidoe promosi “PON Papua Torang Bisa” ? seharusnya video  senam “goyang panta bola” itu dibuat terpisah. Tidak digabungkan ke dalam video promosi PON tersebut. Sehingga tidak memicu polemik masyarakat Merauke di ruang publik.  

Jangan sampai, gagasan perlombaan senam merupakan akal-akalan dari Koregrafer dan Panitia PON Klaster Merauke. Yang dibuat karena adanya kritikan kripik pedas, kecaman dan hujatan yang datang dari seantero lapisan masyarakat Merauke. Terhadap konten video “goyang panta bola” tersebut.

Apa mau dikata, semua misteri ini hanya panitia PON Klaster Merauke, Koreografer dan penanggung jawab video tersebut yang tau jawabannya. Salam olah raga! PON Papua Kalaster Merauke, “ Torang Bisa K ? ”.