Kebudayaan sosial merupakan salah satu kekayaan yang banyak sekali ditemukan di Indonesia, dan hanya di Indonesia saja hal tersebut dapat ditemukan. Kebudayaan sosial yang di dalamnya terdapat kebudayaan toleransi, gotong royong, dan lain-lain. Hal tersebut sudah menjadi karakter bangsa Indonesia sendiri, bahkan sudah terkenal hingga dimata dunia.

Ramah tamah dan sopan santunnya warga negara Indonesia menjadi ciri khas tersendiri yang dikenal oleh bangsa lain. Kearifan dan kebiasaan ini pula lah yang membuat founding fathers kita membentuk sebuah dasar atau landasan hidup bagi negara yang berdasarkan kebudayaan sosial ini, yang tertuang dalam alinea IV Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 yang dikenal dengan Pancasila.

Nilai-nilai kemanusiaan, persatuan, dan kerakyatan yang mempertegas bahwa kebudayaan sosial yang ada di Indonesia harus dijaga dan diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini, terutamanya adalah gotong royong. Gotong royong sendiri memiliki arti yaitu sebuah kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama dalam usaha mencapai suatu tujuan.

Budaya gotong royong ini menjadi sebuah bentuk penguatan ikatan tali persaudaraan yang sudah ada, bahkan sebelum bangsa ini berdiri sendiri.

Manusia sendiri sejatinya adalah seorang makhluk hidup yang tidak dapat hidup sendiri, manusia merupakan makhluk sosial yang mampu beradaptasi dengan keadaan dan lingkungannya, apalagi ketika ia hendak melakukan sesuatu untuk mencapai sebuah tujuan.

Perlu adanya bantuan beberapa manusia lain yang secara tidak langsung akan saling berhubungan dalam usahanya mencapai tujuan tersebut. Di sinilah peran gotong royong menjadi sangat penting, karena tanpa bantuan orang lain kita tidak akan mampu melakukannya sendiri. Lantas bagaimana membentuk pelajar Pancasila yang memiliki nilai gotong royong yang kuat?

Pancasila memiliki nilai historis yang kental dalam proses perumusannya, mengambil sari pati kehidupan bangsa ini jauh sebelum adanya beradaban. Pada masa pra sejarah, manusia di nusantara kala itu saling bahu membahu untuk mengumpulkan makanan untuk bertahan hidup di tengah kerasnya kehidupan di masa lalu.

Nenek moyang kita sudah mengena istilah gotong royong untuk bertahan hidup dengan saling mengumpulkan makanan dan membagikannya secara merata kepada kelompok-kelompok mereka. 

Pada zaman kerajaan juga budaya gotong royong sudah diterapkan pada masa itu, terutama dalam bekerja sama untuk mengusir penjajah, seperti contoh Kerajaan Gowa yang membantu Kerajaan Banten dalam memerangi prajurit VOC.

Mereka bersatu dengan alasan memiliki penderitaan yang sama dan nasib yang sama sebagai bangsa yang terjajah. Budaya gotong royong ini memiliki perjalanan panjang dalam bangsa Indonesia, tidak perlu memandang ras, suku, agama, dan budaya. Semuanya saling membantu satu sama lain atas dasar kemanusiaan dan persatuan.

Pancasila memiliki kedudukan yang sangat tinggi di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara rakyat Indonesia, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dibentuk berdasarkan identitas dan sejarah bangsa Indonesia itu sendiri, termasuk nilai sosial yang terkandung di dalamnya.

Sila kedua yang mengandung makna kemanusiaan, sila ketiga yang mengandung makna persatuan, dan sila keempat yang mengandung makna kerakyatan, nilai-nilai tersebut merupakan dasar terjadinya gotong royong yang sudah menjadi kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia. Budaya ini memiliki peranan penting dalam mencapai cita-cita bersama bangsa Indonesia.

Kesejahteraan bangsa ini dapat diwujudkan dengan sikap gotong royong seluruh warga Indonesia, bangsa Indonesia yang multikultural dengan keberagaman yang ada di dalamnya perlu disatukan dengan sikap adil, mementingkan kepentingan bersama dan mengembangkan kebudayaan persatuan yang mana semua itu dapat kita lakukan dalam kegiatan gotong royong.

Karakteristik dari perilaku gotong royong yang dapat dilakukan antara lain rasa kebersamaan dalam melakukan setiap pekerjaan, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dengan saling menolong tanpa memandang kedudukan seseorang, saling membantu demi kebahagiaan dan kerukunan hidup bermasyarakat  dan merupakan kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama tanpa mengharapkan  adanya imbalan, sehingga kegiatan dapat berjalan dengan lancar.

Di era modern ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sudah tidak dapat dibendung lagi, banyak kemajuan teknologi yang menjadikan komunikasi terhadap sesama manusia dibelahan bumi lainnya semakin sangat mudah. Hal tersebut merupakan arti dari globalisasi, tak dapat dipungkiri memang bahwasanya kita sebagai manusia perlu beradaptasi dengan hal-hal yang baru, seperti teknologi maju yang harus kita kuasai agar tidak ketinggalan zaman yang semakin canggih ini.

Akan tetapi hal tersebut dapat menjadi ancaman bagi kelangsungan budaya bangsa Indonesia itu sendiri. Di era globalisasi ini, banyak sekali kebudayaan baru yang masuk ke dalam bangsa Indonesia, hal tersebut bisa berbentuk positif dan bisa berbentuk negatif.

Dampak negatif tersebut antara lain adalah budaya individualisme yang berasal dari bangsa barat, yang mana budaya tersebut sangat bertentangan dengan budaya gotong royong yang sudah kental dibangsa ini, di sinilah peran generasi milenial sebagai pelajar Pancasila dapat menjawab tantangan tersebut dalam memperkuat kebudayaan gotong royong.

Seorang pelajar Pancasila harus menghadapi tantangan yang muncul dari globalisasi ini dengan kesadaran bersama dan bekerjasama secara suka rela dalam mengentas kebudayaan baru yang tidak sesuai dengan identitas bangsa Indonesia ini, bahkan dalam menghadapi budaya individualisme kita harus bergotong royong dan memperkuat tali persaudaraan untuk menolak kebudayaan tersebut.

Budaya gotong royong sudah menjadi identitas bangsa ini yang harus dipertahankan bagaimanapun juga, sejarah panjang dibalik budaya tersebut, dan bagaimana peran gotong royong dalam menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa besar merupakan alasan fundamental mengapa budaya ini harus dipertahankan.

Sebagai pelajar Pancasila, kita harus saling melakukan sesuatu dengan kerja sama yang baik atas dasar kepentingan bersama agar tujuan tersebut dapat dicapai dengan mudah seperti apa yang telah diajarkan para pendiri bangsa ini