Gotong royong pada umumnya dilandasi oleh kesadaran dan kerelaan untuk mengorbankan sebagian tenaga, materi, waktu, pikiran, demi kepentingan umum. Gotong royong dilakukan untuk kepentingan umum, digerakkan oleh rasa solidaritas bahwa aktivitas yang dilakukan untuk kemaslahatan bersama. 

Ada yang menarik bahwa secara inklusif kegiatan ini dilakukan tanpa pamrih. Dalam pemahaman umum yang biasanya berlaku di masyarakat, setiap individu telah lebih dahulu memiliki kesadaran untuk membantu orang lain yang membutuhkan bantuan.

Berbagai masyarakat atau daerah di Indonesia mengenal tradisi gotong royong dengan penamaan masing-masing. Dalam masyarakat Jawa, tradisi gotong royong telah mendarah daging sebab menjadi tradisi turun-temurun dari para leluhur. 

Kesadaran ini lahir karena kesadaran penuh dalam diri manusia Jawa selain sebagai makhluk individu, manusia Jawa sepenuhnya adalah makhluk sosial. 

Dalam masyarakat Banyumas misalnya, kesadaran semacam ini tergambar pada idiom “wong mati ora mangkat meng kuburan dhewek”. Kurang lebih mengandung pesan, bahwa orang yang meninggal tidak akan berangkat atau menguburkan jazadnya sendiri. Dalam arti lain, setiap orang pasti tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan dari manusia lain.

Manusia Jawa pada umumnya kental dengan rasa kebersamaan. Kesadaran semacam yang saya sebutkan di atas menunjukkan karakter asli manusia Jawa, bahwa wong Jawa sangat menyadari esensi diri, membaca diri sebagai pribadi yang menjadi bagian dari masyarakat. 

Tradisi gotong royong masyarakat Jawa seperti rewang atau sinoman, mbawon, kerigan, sambatan merupakan representasi dari kesadaran bersosial. Gotong royong diterjemahkan ke dalam beberapa dimensi kegiatan sosial.

Napas Kemanusiaan

Sambatan berasal dari kata sambat (Jawa) yang berarti meminta tolong. Sambatan artinya memberikan pertolongan. 

Sambatan memiliki pengertian kegiatan yang dilakukan bersama-sama dalam hal membangun, memindah serta merenovasi rumah. Ketika membuat rumah misalnya, kegiatan sambatan dilakukan ketika membuat fondasi menaikan penglari, mlapon, hingga mayu. Sambatan biasanya diikuti oleh warga yang masih satu rukun tetangga (RT), rukun warga (RW), satu dusun, hingga satu desa.

Tradisi rewang atau sinoman rewang adalah kegiatan membantu orang lain, biasanya saudara atau tetangga yang sedang punya hajat, seperti pernikahan, sunatan, masak besar, atau yang lainnya. Rewang biasanya dalam bentuk membantu memasak makanan yang akan disajikan atau kegiatan ibu-ibu lainnya dalam membantu tetangga yang punya hajat. 

Ibu-ibu dalam kegiatan ini ini lebih ditempatkan kepada kegiatan memasak di dapur (adang, njangan, dan sebagainya), sementara kaum laki-laki lebih ditempatkan ke hal-hal yang sifatnya di luar memasak seperti rikat-rikat, menyiapkan kayu bakar, dan lainnya. 

Tetangga yang membantu atau perewang biasanya dengan suka rela tanpa mengharap pamrih dari si empunya hajat. Hanya saja, jika suatu saat tetangga punya hajat, maka bergantian dibantu.

Tradisi mbawon merupakan bentuk tradisi gotong royong pada saat memanen padi. Secara umum tradisi mbawon ini bertujuan untuk membantu anggota masyarakat yang hendak memanen padi. 

Bagi masyarakat Jawa ketika masa panen tiba, para pemilik sawah tidak perlu merepotkan diri dalam memanen (ngentasna) padi dari sawah. Dengan tradisi ini, masyarakat atau tetangga yang mengetahui padi di sawah anggota masyarakat telah menguning, maka akan ada pembawon yang menawarkan diri untuk membantu memanen. Kegiatan mbawon ini ada pula yang dilakukan oleh anggota keluarga yang dilakukan secara bergantian.

Sama halnya dengan gotong royong pada tradisi sambatan, rewang, serta kerigan, esensinya adalah membantu sesama. Namun sedikit yang membedakan adalah adanya imbalan berupa padi hasil panen atau bisa pula uang yang diberi oleh si empunya sawah untuk si pembawon

Akan tetapi, imbalan yang diberikan bukanlah sebagai wujud kepragmatisan pembawon. Namun imbalan ini lebih diarahkan kepada bentuk terima kasih dari si empunya sawah. Dalam tradisi mbawon terdapat nilai sosial dan solidaritas sosial. Kegiatan ini pun mampu membangun kesadaran saling membutuhkan sesama manusia.

Tradisi kerigan atau kerja bakti yang dalam masyarakat Jawa diwujudkan satu kegiatan bersama untuk membersihkan lingkungan, mengerjakan fasilitas yang sifatnya untuk kepentingan umum. 

Kerigan bukanlah hanya sekadar membersihkan lingkungan agar menjadi bersih, asri, sehat dan rapi, sehingga kalau lingkungan selalu bersih dan indah maka secara langsung maupun tidak langsung akan menambah kenyamanan dan semangat warga. Kerigan juga menyimpan pesan yang sarat akan nilai edukasi pada satu proses pembelajaran ikhwal kebersamaan dan kerukunan.

Menyongsong Adaptasi Baru

Gotong royong bersifat melibatkan banyak orang, tidak berorientasi pada keuntungan atau kepentingan pribadi, tetapi demi kepentingan bersama. Seiring dengan kemodernan zaman, tradisi adilihung ini makin luntur. Orang lebih sering berpikir untung rugi. 

Tradisi luhur gotong royong berbenturan dengan masyarakat kita saat ini yang cenderung individualis, pragmatis, dan materialistis. Maka itu, sangat perlu diperhatikan revitalisasi serta menggairahkan tradisi gotong royong di masyarakat melalui pembiasaan. Sangat memungkinkan kiranya untuk menggemakan kembali tradisi yang mulai terkikis ini.

Tradisi gotong royong sesungguhnya merupakan obat mujarab dalam menangkal kehidupan manusia yang cenderung makin antiempatik. Kehidupan tetap butuh gotong royong. 

Di masa pandemik seperti sekarang ini misalnya, gaung berbagi terhadap sesama makin nyaring bunyinya. Hiruk pikuk ajakan untuk membantu saudara-saudara yang terdampak pandemi kian banyak. 

Berbagai even donasi dilakukan oleh perorangan atau kelompok untuk mendonasikan Sebagian rezekinya untuk kemudian disalurkan kepada orang lain yang sangat membutuhkan. Hal sederhana namun empatik dan banyak dilakukan adalah berbagi kepada tetangga terdekat. Di berita televisi, media massa, dan media sosial sering saya melihat momen-momen tersebut.

Hal lain yang tak kalah menarik adalah gotong royong untuk saling menjaga diri. Masyarakat di masa pandemi dan adaptasi baru (new normal) ini diajak buat disiplin menjaga protocol kesehatan. Setiap orang wajib menjaga jarak, rajin cuci tangan, dan memakai masker. Tujuannya adalah bersama-sama memerangi wabah korona yang belum ada ujung ini.

Saya sering mendengar nasihat baik dalam menanggulangi pandemi ini. Konon kuncinya adalah gotong royong menjaga kesehatan orang lain dengan cara menjaga kesehatan diri masing-masing agar tidak jatuh sakit. Jika kita sehat, maka orang lain sehat. Hal yang tidak kalah penting yaitu budaya saling memberi sebagian rezeki dan makanan kita buat mereka yang terdampak secara ekonominya. 

Jangan biarkan, minimal tetangga kita ada yang kelaparan. Jangan biarkan kita seenaknya sendiri tidak menghiraukan protokol kesehatan di tengah keramaian. Tak mungkin pemerintah bekerja sendiri, maka mari kita ulurkan solidaritas memerangi wabah korona ini.