1. Dee

Dee....
Setelah merantau menjadi pilihanmu
Ingin menimba ilmu dan berguru
Bayangmu begitu menancap rindu
Yang kau balas dengan kata tunggu. 

Dee..
Kampung halamanmu penuh dengan tangisan
Dari mereka yang tertindas, juga kelaparan.
Langka rasanya melihat keadilan
Oleh penguasa yang tamak juga arogan. 

Dee...
Disudut kota aku di asingkan
Perlawanan padam bahkan terlupakan
Banyak rekan juang yang pindah haluan
Semua tunduk pada birokkrasi kepemimpinan . 

Dee...
Besok mentari tak lagi kupandang
Kumau kau pulang dan setia berjuang
Kembalikan hak mereka yang busung
Jangan pindah ,apalagi menghilang.

2.Sepercik kenangan

Dimasa yang benar benar lampau
Kamu pernah bertanya kepadaku
Siapakah aku dan kamu?
Aku penuh keyakinan menjawab mu. 

Kita adalah keseimbangan
Yang berjalan di satu tujuan
Satu ritme dan melodi perjuangan
Untuk menyatukan perbedaan. 

Semesta enggan membantah
Meski akhirnya aku dan kau patah
Sesak dada hati merekah
Menghibur diri dengan kata tabah. 

3.Serupa dengan angin

Cinta bagaikan angin
Tidak dapat di pandang
Namun bisa dirasakan. 

Membawa sejuk di kala terik
Menambah rasa dingin dikala hujan
Ia dapat membantumu berlayar mengarungi lautan. 

Dapat pula menghancurkan badai yang tak dapat ku lawan
Kamu tak bisa memaksa
Agar cinta mengikuti pilihanmu. 

Ataupun tetap betah dan sepadan denganmu
Sebab ia mempunyai seni sendiri
Untuk datang dan pergi.  

4.Kritik

Saya paham bahwa kritik bukanlah suatu alat untuk menjatuhkan.Saya juga paham bahwa menguji tidak selamanya menjatuhkan. 

Ini bukan perkara siapa yang kalah dan menang dalam sebuah perdebatan argumentasi. Melainkan kemenangan yang relevan. 

Dan di balik itu semua kritik harus di sampaikan dengan sebab akibat dan juga teori yang relevan sesuai ekstensi yang terjadi. 

Dan tidak jarangpula seorang pengkritik tidaklah paham bahwa sesuatu bisa di ubah tidak harus di kritik secara mendasar tanpa harus menjatuhkan mental seorang. 

Melainkan harus memahami kondisi karakter yang akan di kritik, jika kritik itu bertujuan untuk mengubah bukan untuk menjatuhkan. 

Sebuah omong belaka jika seorang banyak berkata aku mengkritik mu karena aku menyayangimu. Menurutku itu tidaklah selamanya benar. 

Olehkarena itu tergantung pada kritik yang di sampaikan. Karena banyak orang mengkritik hanya untuk  menyampaikan apa yang dia suku tapi bertolak belakang dengan kebenaran. 

5.Ayah

Ketika usiaku masih remaja
Engkau telah tiada
Melihatku hingga lulus sarjana
Itulah janji yang ditolak mahakuasa. 

Aku yang tertusuk kekosongan
Langkah terhenti sulit untuk di lanjutkan
Prihal belum matangnya pemikiran
Akan arti dari sebuah kedewasaan. 

Kemarau hujan shilih berganti
Rupa wajahmu terus merasuki mimpi
Kesedihan yang menyelimuti
Aku yang lelah dengan kondisi ini. 

Tenggelam di tengah lautan
Hilang akan arah dan tujuan
Bertanya akan awan dan rembulan
Tidak ada jawaban meski itu satu bisikan. 

Kehidupan yang tidak memiliki peta
Kemana anakmu harus berkelana?
Haruskah aku menemuimu di surga
Agar menjadi pria yang benar dewasa. 

6.Retorika tanpa bukti

Bersenjatakan menegakkan Demokrasi
Amunisi yang kau sebut revolusi
Untuk tipu daya memperoleh simpati
Dari kaum yang merindukan sesuap nasi
Berambisi menghilangkan korupsi. 

Nyatanya hanya opini untuk kepentingan pribadi
Dari para petingi petingi
Kejam bagaikan eksekusi mati
Menghancurkan seperti thu sunami
Lgimitasi yang salah di pergunakan
Bertopeng bagai wajah seperti pahlawan
Berjanji Menjung-jung tinggi kemanusian persatuan dan kemanusiaan
Namun masih banyak kaum yang kelaparan. 

Sudah waktunya untuk kaum muda
Yang sering disebut jantung negara
Mengguncang satu tindakan nyata
Yang berlandaskan pancasila. 

Jangan mau terbungkam akan kebenaran
Oleh rasa takut akan permasalahan
Bukankah masamu membongkar keadilan dari mereka yang mengaku .

7.Maaf yang usang

Ada banyak hari bersama
Tapi tidaklah bahagia
Melainkan luka yang di Terima
Dan membuat rasa menjadi hampa. 

Namun semua itu akan senyap
Hanya dengan kata maaf yang kau ucap
Terlihat seakan semua baik-baik saja
Dan segalanya tampak biasa. 

Pahamilah.......
Bahwa maaf tanpa pembuktian
Sama ibarat sayur tanpa garam
Cinta yang kau katakan
Namun luka yang kau berikan. 

Kesalahan yang sama selalu terulang
Kau tutupi dengan kata maaf yang usang
Hatiku telah lelah berjuang
Dengan semua waktu yang telah terbuang. 

Sudahlah......
Biar kamu seperti itu
Tidak ada lagi rindu
Dan kata menunggu
Yang akan ku ucap untukmu. 

8.Lihat kampus itu

Lihat kampus itu, berdiri gagah di atas pondasi yg  kuat, memancarkan cahaya Damai sejahtera.Lihat kampus itu, berdiri tanpa warna yg  berlandaskan PRO DEO ET PATRIA. 

Tapi lihat kedalam kampus itu
Apa yg terjadi?
Semua penuh ke bohongan
Semua penuh penindasan
Semua penuh ke munafikan. 

Kampus itu tidak suka ke bohongan
Kampus itu tidak suka penindasan
Apalagi ke munafikan
Kampus itu pengen kebebasan
Kampus itu pengen ke jujuran tidak ke munafikan. 

Ya.. Ya.. Ya...
Kampus itu menagis! Sudah jelas menangis, menangis melihat orang orang di dalamnya yg sedang berjuang. 

Lihat... Lihat...
Mereka di larang bergerak ,di larang bebas di rumah sendiri, mereka ingin berkarya knp kau halangi?
Apakah penampilan itu menganggu mu?
Kau tak tahu, kau pernah bagian dari mereka. 

Lihat... Lihat...
Kampus itu menagis, bahkan menjerit
Melihat dewa dewa yg sedang berkuasa
Dewa itu penuh ke munafikan
Dewa itu penuh ke bohongan. 

Lihat... Lihat..
Kampus itu semakin gersang, kampus itu kumuh.
Kampus itu semakin menjerit
Kemana BOP selama ini kau buat?
Kok gak transparan?
Fasilitas juga gak memadai
Ruangan itu panas
Ruangan itu berisik
Infokus itu buram. 

Tapi kau tak melihat itu
Kau asik bersandar gurau dengan istri istri mu disana.
Lihat, buka matamu wahai dewa
Kampus itu menjerit jerit.