Sebagai remaja yang beranjak dewasa, membuatku berpikir tentang kenangan masa lalu yang kini masih membekas di benakku. Aku pun merenung tentang segala hal yang telah aku lewati selama ini.

Sebagai anak tunggal perempuan, banyak hal membahagiakan yang telah saya dapatkan. Selain itu, banyak kesedihan juga yang saya alami sendiri dan bahkan saya tidak bisa membaginya dengan saudara. Hal ini karena saya sendiri anak tunggal yang tidak punya saudara kandung.

Menjadi anak perempuan satu-satunya adalah hal berat bila saya pikirkan. Namun, saya baru menyadarinya bila saya kuat menghadapinya hingga sekarang. Entah apa yang harus saya lakukan kelak.

Sebagai harapan satu-satunya dalam keluarga, saya terus berpikir keras bagaimana membahagiakan orang tua dan bagaimana caranya untuk mengangkat derajat keluarga.

Saya sendiri dengan kedua orang tua, tanpa saudara kandung. Saya tak punya adik dan tak punya kakak. Kesepian itulah yang saya rasakan. Tak ada canda tawa antar saudara yang pernah saya dapatkan.

Saya merasa hal yang dulu pernah saya katakan menjadi kenyataan. Dulu saya tidak ingin punya adik dan hingga sekarang saya pun tak punya adik.

Sebenarnya yang aku inginkan adalah mempunyai seorang kakak yang bisa menemaniku. Tapi, apalah daya ini semua sudah menjadi takdir Tuhan.

Namun, saya merasa bahagia karena ayah dan ibu melimpahkan kasih sayangnya hanya untukku. Mereka sangat menyayangi dan memperlakukanku layaknya permata kehidupan.

Dalam kehidupan keluarga, tentu tidak jauh dari rumitnya permasalahan ekonomi. Dulu, saya dan keluarga belum begitu mapan dalam hal ekonomi. Banyak hal yang orang tua saya lakukan demi menghidupi keluarga.

Setiap hari, orang tuaku selalu kerja keras banting tulang untuk membahagiakan diriku. Peluh yang menetes membasahi tubuhnya menyadarkanku akan kerasnya kehidupan di dunia ini.

Segala hal yang telah orang tuaku lakukan, sangat memotivasiku untuk membahagiakan mereka. Saya ingin selalu melihat orang tuaku tersenyum dan saya tidak ingin membuat orang tuaku bersedih.

Setiap kali belajar, saya selalu teringat akan perjuangan kedua orang tuaku yang sudah banting tulang menghidupi segala keperluanku. Semangatnya yang seolah-olah tak mengenal apa itu arti kata lelah, menjadi suatu alasan yang membuat saya terus termotivasi dan menjadi pribadi yang lebih kuat.

Sudah lama orang tuaku mengungkapkan keinginannya, mereka berharap aku sebagai putri semata wayangnya ini menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri. Oleh karena itu, support terbaik selalu mereka berikan padaku.

Berbagai fasilitas penunjang seperti buku, alat tulis, laptop dan akses internet sudah dipenuhi oleh orangtuaku. Segala fasilitas itu hanya ditujukan untukku, agar diriku merasa nyaman saat belajar. Namun, semangatku sempat terhambat karena masa pandemi.

Masih teringat jelas di benakku, kala itu aku siswa tingkat akhir yang masih berseragam putih abu. Seiring berjalannya waktu, banyak hal dan kebiasaan baru muncul tanpa aku duga sebelumnya.

Pembelajaran yang sebelumnya dilakukan secara tatap muka di sekolah menjadi tatap maya di rumah. Berbagai tugas sekolah yang cenderung dilakukan secara individu menambah poin beban di hidupku.

Aktivitasku di rumah selama pandemi  sangat monoton bahkan membuatku kelimpungan dan hampir gila. Aku cenderung menghabiskan waktuku di kamar untuk membaca buku dan menyelesaikan tugasku.

Tak aku sangka jika masa-masa akhir aku di SMA tak seindah yang aku bayangkan dan bukanlah suatu hal mudah yang mampu aku jalankan. Hal ini memaksaku untuk pandai dan lihai dalam mengatur waktu. 

Banyaknya tugas yang menumpuk, banyaknya ujian dalam waktu yang berdekatan, dan semua materi ujian masuk perguruan tinggi yang harus ku kejar dalam waktu bersamaan membuat batinku terdesak dan diriku pun tersiksa.

Namun, hal itu tidak menyurutkan semangatku agar bisa masuk ke perguruan tinggi negeri. Untuk itu, dalam mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi, telah banyak upaya yang aku persiapkan dan sudah banyak juga dukungan yang orang tuaku berikan. 

Dukungan secara fisik atau finansial seperti bimbingan belajar dan tryout-tryout berbayar yang telah disediakan orang tuaku selalu aku jalani dan tak pernah aku lewati. Dan segala doa yang mereka panjatkan di setiap sujudnya selalu mengiriku di setiap langkah perjuanganku.

Selain itu, aku juga mengikuti beberapa webinar, seminar, sharing-sharing tips and trick masuk perguruan tinggi. Yang mana hal itu cukup dan sangat membantuku menentukan arah jurusan sesuai dengan keinginanku.

Segala peluang masuk perguruan tinggi telah aku coba. Jalur pertama yang aku lalui adalah seleksi perguruan tinggi yang menggunakan nilai rapor. 

Melalui seleksi tersebut aku mencoba pada tingkat diploma. Namun apalah daya aku belum diterima. Walaupun gagal aku tidak peduli karena aku hanya ingin coba-coba saja.

Berikutnya, seleksi yang aku ikuti adalah seleksi perguruan tinggi dengan jalur prestasi yakni menggunakan beberapa sertifikat perlombaan. 

Dalam seleksi ini aku mencoba ke dua perguruan tinggi negeri yang berbeda sekaligus. Namun nasib buruk kembali menimpaku. Kali ini aku gagal lagi.

Meskipun gagal, aku masih bersemangat untuk bisa masuk ke perguruan tinggi negeri. Oleh karena itu, aku mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). 

Aku sangat yakin jika aku bisa lolos seleksi ini. Namun, apalah daya ternyata lolos SBMPTN bukanlah takdirku. Aku kecewa dan sedikit trauma karena selalu gagal.

Overthinking, merasa lelah dan putus asa hari-hari kurasakan. Takut akan bayangan kegagalan yang seolah-olah hadir di depan mataku. Namun hal itu sirna bila aku melihat kawan-kawanku yang sama-sama lagi berjuang. Tak henti-hentinya saling memberikan semangat.

Meskipun begitu, jauh-jauh hari sebelum pengumuman hasil SBMPTN, aku telah mempersiapkan diri untuk menerima kemungkinan buruk yang akan terjadi. Beberapa plan list ujian mandiri telah aku siapkan sebagai cadangan jalur masuk perguruan tinggi.

Pada akhirnya aku mendaftarkan diri untuk ikut seleksi mandiri masuk ke perguruan tinggi negeri di Solo. Kesungguhan dan kegigihan yang aku punya,  membuatku sangat percaya akan hasilnya nanti.

Dan tak aku sangka, perjuanganku selama ini telah terbayarkan dengan kelulusan masuk perguruan tinggi negeri jalur ujian mandiri. 

Bahagia dan haru yang aku rasakan di malam hari waktu pengumuman kelulusan itu. Rasa syukur tak henti terucap dalam hatiku, dan butir-butir air mataku tak henti menetes membasahi pipiku. 

Bahagiaku ini, adalah bahagia orang tuaku juga. Senang rasanya akhirnya mampu mewujudkan salah satu keinginan orang tua.

Dari pengalamanku ini, aku belajar untuk selalu ikhlas dan bersyukur menerima keadaan. Selalu bersabar dalam menjalani pahitnya kehidupan, serta pantang menyerah untuk meraih impian. Usaha, doa, dan restu orang tuaku adalah kunci utama dalam hidupku.