Pustakawan
3 tahun lalu · 2122 view · 3 min baca · Politik corruption-feature.jpg

Google Translate dan Para Politikus di Indonesia

Anda barangkali tidak tahu bahwa fungsi terbaik Google Translate adalah menunjukkan misteri dunia politik praktis di Indonesia. Cara kerjanya sederhana , terutama jika Anda sudah terbiasa menggunakan perangkat tersebut.

Ambil secara acak beberapa kalimat dari koran, buku, atau artikel di media. Bisa juga dari catatan harian dan status Facebook anda, atau dari mana saja.

Saya, sebagai contoh, menggunakan kutipan ini: “Semoga kita senantiasa mau melihat harta benda kita, perabot di rumah kita, dan pakaian-pakaian kita. Dan, mencoba untuk menemukan apakah ada benih-benih di kekayaan yang kita miliki yang bisa jadi makanan bagi berkobarnya perang.”

Saya masukkan kutipan tersebut ke kotak yang tersedia di Google Translate. Saya menerjemahkannya ke bahasa lain. Anda boleh memilih bahasa apa saja yang tersedia. Tapi, saya ingin mencoba bahasa Jepang. Alasannya juga sederhana: saya pernah pacaran dengan mahasiswi jurusan Sastra Jepang. Dua kali.

Hasilnya tampak seperti ini:

我々は常に私たちの財産、私たちの家庭内の家具、そして私たちの衣服を見てみたいことがあります。そして、我々はそれが戦争のための食べ物かもしれない持っている富の種があるかどうかを見つけようと。

Saya lalu memindahkan teks berbahasa Jepang itu ke kotak di mana saya meletakkan kutipan tadi. Saya terjemahkan ke bahasa lain lagi. Saya menerjemahkannya, kali ini, ke bahasa Jawa.

Saya ingin memilih bahasa Bugis, sebetulnya, tetapi Google Translate tidak mengenal bahasa ibu saya.

Saya menemukan hasilnya jadi seperti ini:

Sampeyan bisa uga pengin njupuk dipikir ing sandhangan kita kita kagungan, lan prabot, ing daleme kita tansah. Lan nyoba kanggo nemokake apa utawa ora ana jenis kasugihan duwe sing bisa uga pangan kanggo kita perang.

Saya tidak paham bahasa Jawa. Namun, tanpa mengubah apa pun, saya menerjemahkan kalimat-kalimat tersebut kembali ke bahasa Indonesia.

Anda mungkin ingin mengambil melihat pakaian kami yang kami punya, dan furnitur, rumah kita. Dan mencoba untuk menemukan apakah atau tidak ada semacam kekayaan yang mungkin memiliki makanan untuk keluarga kita.

Apa yang terjadi di Google Translate sehingga teks pertama dan teks terakhir berubah begitu parah? Saya tidak tahu.

Tapi, saya pikir, begitulah umumnya yang terjadi di dunia politik praktis di Indonesia. Mereka yang masuk ke sana hampir selalu berubah menjadi lebih buruk — dan kian sulit dipahami. Sebelum terpilih menduduki satu jabatan, di mana-mana mereka terlihat amat baik dan tanpa cacat. Setelah terpilih, melulu kita membaca kabar buruk tentang mereka. Dari memukul pramugari hingga belanja mobil mewah dan pelesir ke luar negeri. Dari tidur di ruang sidang hingga merampok tanpa risih sama sekali.

Pula, seperti yang terjadi di Google Translate, mereka tidak bisa lagi kembali sebagaimana semula. Dan, tampaknya, kian lama mereka berada di dunia tersebut, akan kian buruk hasilnya. Cobalah menerjemahkan kutipan di atas tadi ke lebih banyak bahasa sebelum menerjemahkannya kembali ke bahasa Indonesia. Anda, saya yakin, akan menemukan hasil yang jauh lebih buruk.

*

Kutipan yang saya gunakan di tulisan ini saya ambil dari catatan harian John Woolman (1720–1772). Dia pedagang, penjahit, dan wartawan yang dikenal sebagai salah satu teladan terbaik orang hebat yang hidup sederhana. Kira-kira seperti Henry David Thoreau dan Mahatma Gandhi.

Saya menemukan kisah hidup Woolman di buku terakhir yang saya baca sebelum menulis catatan ini, The Wonderbox: Curious Histories of How to Live. Buku itu mengatakan bahwa salah satu persoalan terbesar kehidupan kita pada abad ke-21 ini adalah semakin hilangnya empati.

Roman Krznaric, penulisnya, menganggap manusia masa kini mencari pekerjaan semata demi mengejar sebanyak mungkin kekayaan, kekuasaan, dan status sosial. Dan, untuk tujuan itu, mereka bisa melakukan apa saja. Mereka rela menempuh cara-cara culas dan melanggar hukum. Korupsi — merampok, maksud saya — contohnya.

Orang yang mau meniru laku hidup sederhana Woolman, Thoreau, Tolstoy, dan Gandhi hampir mustahil lagi ditemukan.

Politikus, intelektual, selebritas, dan pengusaha adalah orang-orang yang terutama disorot Krznaric dalam buku tersebut. Mereka yang paling sering berlaku tidak jujur, miskin empati, dan menciptakan ketidakadilan di mana-mana.

Omong-omong soal Krznaric, beberapa kali saya menulis catatan di blog dan mengutip bukunya. Meskipun dia tidak bisa berbahasa Indonesia, ternyata dia membaca catatan-catatan saya. Dia menggunakan bantuan Google Translate.

Beberapa waktu lalu, seusai membaca catatan terakhir saya, Krznaric menghubungi saya di Twitter. Dia meminta alamat rumah saya. Dia ingin mengirim buku terakhirnya yang belum lama ini diluncurkan di London.

Setelah mengirim alamat — dan dengan cepat Krznaric mengatakan telah mengirim bukunya — saya ingat kalimat ibu saya. “Kau bukan hanya akan terhindar dari celaka, kau juga akan mendapat berkah lebih banyak," katanya, "jika berlaku jujur.” 

Artikel Terkait