Situasi politik Amerika Serikat (AS) makin panas. Pertarungan kali ini bukan Partai Demoktrat Vs. Republik, tapi Partai Demokrat Vs. Presiden Trump. Elite Partai Republik cenderung tiarap dan nyaris tak bersuara. Mereka membiarkan Trump maju sendirian dan menikmati hasil pada waktunya.

Ada banyak anomali yang terjadi sejak Trump menjadi Presiden, misalnya minoritas kulit berwarna bergabung ke Republik lewat gerbong Trump. Sebutlah Latino For Trump, Black for Trump, LGBT for Trump, Liberal for Trump. Mereka sebenarnya tidak suka partai Republik, hanya tertarik pada Trump. Tapi karena dia diusung Partai Republik, maka mereka pun tentunya akan memilih Republik.

Artis Hollywood dan penyanyi besar mayoritas libral dan bergabung di Partai Demokrat. Hanya segelintir dari mereka yang konservatif dan Republik. Kalaupun ada paling 10%. Ada yang terdaftar Republik tapi tidak memilih Trump. Mereka biasa menamakan dirinya #NeverTrump

Tapi akhir-akhir ini ada sedikit kehebohan. Mereka yang puluhan tahun jadi Demokrat memutuskan akan memilih Trump. Alasannya beragam, misalnya Kirstie Alley mengatakan memilih Trump karena dia bukan politikus. Dia pebisnis yang kalau bekerja langsung kelihatan hasilnya. Kalau politikus hanya jualan kata-kata.

Robert Davi, aktor yang akhirnya jadi pendukung Trump karena kelompok kiri (leftiest) merubuhkan patung Christopher Colombus. Karena baginya dan komunitas Italia, Colombus adalah figur terhormat dan teladan. Menyakitkan bagi mereka melihat Kolombus yang juga berasal dari Italia dihinakan seperti itu.

IceCube yang walaupun tidak mengatakan akan memilih Trump di November 3 nanti, tapi dia meyambut baik tawaran Presiden Trump untuk bekerja bersama membangun ekonomi komunitas kulit hitam. Manuver IceCube di ronde trakhir ini memicu banyak perdebatan dan hujatan di twitter.

Juga 50Cent yang karena melihat skema pajak di California yang akan diterapkan Joe Biden bila menang adalah 62,2%. Dia menyumpahi Blue State (Demokrat) yang memberlakukan pajak tinggi dan mengatakan akan memilih Trump.

Kabarnya banyak yang pro Trump tapi memilih diam karena takut akan berimbas pada pekerjaan dan pergaulan. Mereka disebut #silentmajority

Setiap saat ada keseruan baru. Yang saat ini lagi heboh adalah kasus Hunter Biden. Sudah tahu ceritanya?

Beberapa hari yang lalu New York Post, salah satu koran tertua tertua AS menurunkan berita tentang putra sang calon presiden Joe Biden. Pada April 2019, Hunter Biden memperbaiki laptopnya di sebuah service computer di Delaware milik John Paul Mac Isaac. Sejak itu laptop tersebut tidak pernah diambil kembali oleh Hunter.

John Paul sudah berusaha mengubungi Hunter tapi tidak berhasil.Ada perjanjian jika dalam 90 hari laptop tidak dibayar dan tidak diambil maka menjadi milik toko service. Akhirnya John Paul mengecek isi laptop dan menemukan banyak email dan foto yang membuatnya khawatir.

Dia ingin segera barang itu keluar dari tokonya sehingga dia menghubungi FBI dan menyerahkan harddisknya ke FBI sesudah menduplikasi isinya. Ditunggu beberapa bulan FBI tidak kunjung melakukan apa-apa. Kemudian John mendatangi beberapa anggota kongres tapi tidak ada yang merespon.

Akhirnya dia mendatangi pengacara Rudy Giuliani yang bernama Robert Costello. Giulani adalah kuasa hukum pribadi Donald Trump yang juga mantan Wali Kota New York. Data tersebut disambut baik oleh Giulani dan menyerahkannya ke New York Post, media yang condong ke Konservatif.

Data itu banyak berisi tentang email Hunter Biden yang berkolusi dengan perusahaan gas Burisma milik Ukraina, juga kolusi dengan China yang selalu membawa nama bapaknya dengan sebutan Big Guy sehingga orang mengatakan Joe Biden terlibat korupsi.

Tentu pendukung Demokrat mengatakan info itu adalah hoax dan konspirasi teori. Penyebaran berita tentang Hunter Biden tak terkendali walaupun FB dan Twitter sudah menyensornya sedemikian rupa.

Bahkan saat acara Town Hall pewawancara Biden pun tidak menyinggung sedikit pun tentang isu email tersebut. Biden diperlakukan teramat baik, ditanya dengan sangat sopan dan hati-hati. Sangat berbeda dengan wartawan yang bertanya pada Trump.

Tepat kata orang-orang bahwa nonton Town Hall, wawancara Trump seperti di ruang sidang yang mengintrogasi penjahat, tapi nonton wawancara Biden seperti menonto fans menginterview idolanya. J

Coba sekali-kali nonton video Trump saat melakukan konprensi pers. Kelakuan wartawan yang tidak beretika saat bertanya pada Presiden itu luar biasa. Apakah Trump kesal dengan tindakan para wartawan yang kasar-kasar itu? Tidak. Dia cuek saja. Tetap mengatakan AWESOME! Hahaha.

Satu hal yang kupelajari dari Trump, dia adalah tipe orang yang BOMBASTIS: sangat memuji orang yang baik padanya dan membully orang-orang yang membencinya. Dia terkenal pemberi julukan yang merendahkan pada musuhnya, seperti sleepy/creepy Joe, Croocked Hillary, Mini Mike (Bloomberg), Nancy “Antoinette” pelosi, dan banyak lagi.

Tapi pembenci Trump juga memberikan bejibun sebutan padanya. Impaslah.  Sepanjang sejarah, mungkin Trump adalah presiden yang paling dibenci oleh mayoritas media massa dan big tech company.

Tipe pemilih di AS itu ada 2 group terbesar: pemuja Trump dan pembenci Trump. Tidak ada yang pemuja Biden. Siapapun asal Demokrat atau yang penting bukan Trump, jenis itu yang paling banyak dari kelompok Demokrat.

Sekitar 90% mainstream media (MSM) adalah musuh Trump. Lebih dari separoh di Fox network anti Trump. Mungkin hanya AON yang 100% berpihak padanya, tapi AON adalah network yang sangat kecil dibanding CNN, MSNBC, NBC, ABC, CBS dan lain-lain.

2016 akan terulang kembali. Media massa selalu mengeluarkan poll survey calon presiden. Empat tahun lalu nyaris semua poll MSM memenangkan Hillary, bahkan ada yang memprediksi 90% kemenangan Hillary.

2020 mirip 2016. Di semua survey MSM Biden unggul dibanding Trump. Padahal bila kampanye, pengunjung Trump selalu membludak dan pengunjung biden hanya hitungan jari.

Poll terbaru mengatakan Biden unggul 11% dari Trump. Tapi kemudian Kampanye manager Biden, Jen Dillon mengingatkan pendukung Biden supaya tidak berpuas diri. Dia meminta supaya segera memberikan suaranya ke Biden.

Sepertinya Dillon belajar dari kesalahan team Hillary bahwa memberitakan keunggulan secara terus menerus membuat pendukung Demokrat malas datang ke TPS karena menganggap sudah menang.

Emapat tahun lalu pihak Hillary menuduh team kampanye Trump memanfaatkan Facebook untuk kemenangannya. Tapi tahun ini FB terang-terangan condong pada Demokrat. Bahkan Facebook pun akan mensensor berita tentang kemenangan Trump lewat quick count karena Demokrat menganjurkan memilih dengan cara mengirimkan surat suara lewat pos.

Jadi tidak akan ada namanya Malam Kemenangan hasil dari hitung cepat seperti biasanya. Alasan Demokrat adalah karena sedang pandemik. Pendukung demokrat takut datang ke TPS sehingga mereka lebih memilih mengirimkan surat suara via kantor pos. Dengan demikian tidak bisa dijamin tanggal 3 November 2020 semua surat suara sudah sampai dan selesai dihitung.

Berbeda dengan Demokrat, pendukung Republik biasanya tidak takut pada Covid dan mereka pun umumnya anti pakai masker. Jadi pendukung Republik tidak mengirimkan surat suara tapi akan mendatangi TPS untuk nyoblos. Sangat kontras bukan?

Dari pemakaian masker saja kita bisa tahu seseorang itu Demokrat atau Republik. Tentu masing-masing pihak punya alasan, dan juga menganggap lawannya kaum yang tidak percaya science. Pakai masker atau tidak disebut pernyataan politik.

Dari dahulu MSM AS terlalu memihak Demokrat sehingga apa pun yang dilakukan Demokrat dan Obama saat jadi Presiden tak terlihat oleh rakyat AS. Obama masih dipercaya Presiden tanpa skandal walaupun dia adalah presiden paling banyak menjatuhkan bom di negara lain. Bush mewariskan 2 negara konflik, tapi bukannya menyudahi perang seperti janji kampanyenya, Obama menambah 5 negara konflik baru yang berperang.

Rakyat AS tidak tahu itu karena MSM tertidur, wartawan terlalu menyanjung Obama dan rakyat terpesona oleh penampilan Obama yang charming. MSM terlalu sayang pada Demokrat sehingga tutup mata pada semua yang dilakukan Demoktat walaupun salah.

Sebagian besar rakyat AS tidak tahu dan tidak percaya walaupun sudah diberikan bukti kalau Obama adalah presiden yang paling banyak mendeportasi migran illegal dan yang memulai mengurung anak-anak migran illegal. Mereka hanya tahu bahwa Trumplah yang memulai kebijakan tersebut.

Yang lucu adalah Rachel Medow, jurnalis MSNBC memberitakan kekejaman Trump yang mengurung anak-anak imigran illegal tapi dengan menayangkan foto-foto yang diambil saat pemerintahan Presiden Obama. Dia tidak sadar itu karena selama Obama memerintah dia tertidur nyenyak.

Seharusnya media massa berfungsi sebagai salah satu pilar demokrasi, tapi di AS hal itu berjalan buruk. Mereka semua terlelap pada zaman Obama tapi mengamuk tak tentu arah pada zaman Trump. Sebagian masyarakat AS terutama konservatif sudah muak dengan MSM sehingga mereka beralih pada komentator politik di Youtube.

Itu sebabnya komentator politik di Youtube didominasi oleh kelompok konservatif. Mereka mengkoreksi konten MSM. Jadi bila kelompok kiri nyindir kelompok kanan dengan kalimat, “Stop nonton Fox dong!” Mereka akan tertawa karena sumber berita utama mereka bukan Fox news.

Dari beberapa tulisanku terakhir aku mengatakan bahwa kerusuhan setelah 3 November akan semakin melebar di AS. Tidak peduli siapa pun yang menang. Masing-masing pihak akan mengatakan dicurangi.

Janganlah terlalu lugu dengan percaya bahwa kerusuhan itu hanya akibat pemilihan Presiden. Pemilihan presiden hanya panggung depan, sedangkan panggung belakang adalah perang manufaktur raksasa antar negara, pertarungan orang-orang di military-industrial complex, perang pemilik modal di wall street, perang establishment di kedua kubu, dan banyak lagi.

Walaupun Joe Biden sudah sedikit pikun, tapi pemilik modal raksasa di belakangnya bertarung kuat. Dia hanya perlu bertahan sampai tanggal 3 November, setelah menang dia mengundurkan diri tidak masalah.

Pemilihan presiden di Amerika Serikat ini sangat menarik. Semua mata dunia tertuju ke sana. Dan aku masih memprediksi Trump yang akan menang. Mungkin saja prediksiku salah. Kita lihat saja nanti. Semoga setelah 3 November ini Amerika Serikat tetap Amerika Serikat.