Freelancer
3 minggu lalu · 750 view · 4 min baca menit baca · Gaya Hidup 32053_26349.jpg
Komunitas Gondrong di Bengkulu dalam sebuah aksi sosial/KMGP

Gondrong, PKI, dan Kebebasan

"Semua orang pernah muda, tapi tidak semua pernah gondrong," kata Adetya dengan wajah semringah. Rambut seperti mi keritingnya pun terlihat mengembang laksana bintang iklan sampo yang tersapu angin lembah Rinjani.

Adetya adalah salah seorang pendiri Komunitas Mahasiswa Gondrong Pertanian (KMGP) di Universitas Bengkulu. Total ada 16 mahasiswa yang tergabung dalam organisasi yang telah berkibar sejak 22 Oktober 2018.

Hari itu, saya bersua dengan delapan pentolan KMGP di sebuah tongkrongan ala mahasiswa, persis di depan rektorat kampus. Kata mereka, tempat itu menjadi saksi sejarah lahirnya kelompok lelaki pemuja gondrong pertama di Bengkulu.

"Kami ingin membuktikan kepada masyarakat bahwa gondrong itu bukan kriminal," ujar pentolan KMGP yang lainnya, Darmis, dengan semangat. 

Dan malam itu, tepat di tengah amukan hujan yang kelak jadi bencana besar di Bengkulu, kami bercerita dengan hangatnya. Dari obrolan serius sampai remeh pun tumpah di atas meja kopi.

Saya tercenung, andai saja tahun ini adalah 1970-an, mungkin tidak akan ada pertemuan ini. Pasti para mahasiswa berambut panjang ini akan digelandang oleh polisi atau tentara ke jalanan lalu diinterogasi dengan bengis di depan sebuah mesin tik tua.

Tentu sebelumnya pasti diminta setengah telanjang, baru kemudian dipaksa digunduli di hadapan orang ramai. Menolak ini malah bikin masalah tambah runyam. Bisa jadi sampai mati, mereka akan dicap subversif, atau PKI. 

Dampaknya, mereka tidak akan bisa memiliki KTP, SIM, atau dilayani untuk apa pun. Celaka itu melekat sampai beberapa turunan. Habis sudah masa depan para mahasiswa ini.

"Bagi kami, gondrong itu identitas," ujar Sihol Pandapotan. 


Mahasiswa berdarah Batak ini menabrak lamunan saya tentang nasib mereka. Pernyataannya bak menembus ruang waktu dan seperti sebuah batu yang mampu membungkam polisi atau tentara setengah abad lalu ketika merazia para lelaki gondrong.

Gondrong dan Hikayatnya

Indonesia memang pernah punya masalah serius dengan lelaki gondrong. Dari sebutan kontrarevolusioner di era Presiden Sukarno, sampai dengan yang paling parah dilabeli subversif atau PKI di era Presiden Soeharto.  

"Hegemoni budaya kapitalis," demikian ucap Sukarno pada masanya ketika melihat banyak anak muda Indonesia yang memanjangkan rambutnya. Konon musababnya, dalam beberapa literatur, Sukarno kala itu sedang benci-bencinya dengan The Beatles dan fenomena kaum hippies yang sedang naik daun.

Yang paling konyol adalah di era Presiden Soeharto. Sebab, pada masa inilah pandangan jelek terhadap kaum gondrong makin meruyak dan meninggalkan bekas sampailah di hari ini. Bayangkan saja, cuma pada masa inilah negara sampai membuat edaran resmi untuk menangani masalah gondrong lantaran dianggap sebagai bentuk melawan pemerintah.

"Orde Baru membuat stigma yang melekat di kaum gondrong bertambah parah," demikian tulis Yudhistira seperti dikutip dalam bukunya, Dilarang Gondrong (2010).

Kata Yudhistira, kekacauan itu bermula ketika di tahun 1973, Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban Jenderal Soemitro menerbitkan edaran tertulis melarang laki-laki berambut panjang bagi keluarga anggota ABRI serta karyawan sipilnya.

Dari situ kemudian muncul Badan Koordinasi Penanggulangan Rambut Gondrong (BAKORPERAGON) di Provinsi Sumatra Utara yang dibentuk oleh gubernurnya. Lembaga ini bertugas menangkapi para lelaki berambut gondrong.

Buah dari itu, akhirnya munculah berbagai lembaga serupa di perguruan tinggi di Indonesia, dan kemudian meluas hingga ke media massa. Beberapa artis berambut gondrong pun dilarang tampil di televisi, termasuk larangan menonton bioskop bagi pria gondrong dan lain sebagainya. 

"Mereka juga tidak bisa membuat KTP, SIM, dan Surat Keterangan Bebas G 30 S PKI," tulis Yudhistira lagi.

Akibatnya, kebencian akan orang gondrong pun meluas di Indonesia, termasuklah hingga kini masih membekas meski telah meloncati berpuluh tahun waktu. "Sampai hari ini,  gondrong masih sering dicap kriminal dan nakal," ujar Kharisma Kareza, ketua KMGP.


Pemikiran Kritis

Terlepas itu, di luar sejarah kelamnya, kemunculan anak muda dengan gaya rambut panjang memang sedang memuncak hari ini. Hampir di setiap tempat, dengan mudahnya kita akan menemukan mereka yang berambut gondrong.

Meski beberapa memang hanya sekadar ikut trend atau fashion kekinian, namun tidak sedikit yang serius dengan membentuk komunitas, seperti yang dilakukan KMGP di Bengkulu. "Ini merupakan wujud dari pemikiran kritis," kata pengamat Komunikasi Universitas Bengkulu Lisa Adhrianti.

Lisa mengaku mengapresiasi upaya kelompok pemuja gondrong yang bertujuan untuk mengubah citra negatif mereka yang telah tertanam sejak era Orde Lama. Namun demikian, ia mengingatkan agar langkah itu mesti dilakukan konsisten dan memiliki perwujudan aksi yang tersusun.

"Itu sah-sah saja. Justru bagus untuk menunjukkan bahwa label negatif tidak selalu dapat disamaratakan untuk orang gondrong," tutur dosen berhijab ini.

Apa pun itu, kini KMGP dan mungkin banyak komunitas gondrong serupa yang muncul hari ini. Meski mereka terentang puluhan tahun dengan pendahulunya, namun, secara umum, visi yang diperjuangkan masih tetap sama, yakni menyampaikan kebebasan bersikap.

Bahwa gondrong itu identitas, dan gondrong itu bukanlah penjahat sebagaimana yang pernah disematkan kepada para kaum gondrong pada waktu lampau. KMGP telah menunjukkannya meski baru seujung kuku.

"Banyak hal yang bisa menyatukan perbedaan. Bagi kami, salah satunya ya lewat rambut," kata Adetya yang sekali lagi membuat saya terkenang betapa banyaknya kegaduhan hari ini di negara yang tercuat hanya karena berbeda.

Artikel Terkait