Setelah menulis semacam ‘pembelaan’ (kira-kira dimaknai begitu oleh teman-teman saya) terhadap LGBT di dinding Facebook, yang kemudian dikomentari secara ngeri dengan kisah-kisah kaum Luth di Sodom dan Gomorah dulu sekali itu, jujur saya merasa seperti jadi makhluk paling hina sejagat. 

Saya khawatir sekali saat itu juga akan datang malaikat berkorespondensi pada siapalah seperti malaikat yang datang ke Nabi Ibrahim a.s. sebelum Sodom dan Gomorah dijungkirbalikkan dan dihujani batu-batu api. Astaghfirullah.

Padahal tidak ada maksud sedikit pun dari saya untuk ingkar. Kalau mau dipikir-pikir, alas tolak berpikir saya terkait itu adalah tiga cerita, seperti yang akan saya tuliskan di bawah ini. Dua nyata, satunya semacam dialog imajiner. Ok saya mulai saja.

***

Dulu rambut saya gondrong hampir sampai pinggang. Saya memang tak ke tukang cukur hampir empat tahun kala itu. Saya pernah ditanya, “Apa alasan memilih untuk gondrong?” Jawaban saya waktu itu, “Ya ini cita-cita dari kecil.”

Bukan main ketawanya orang-orang waktu saya jawab begitu. Berhubung itu saya bilang waktu sedang ngumpul-ngumpul, ramai benar. Tapi itu memang jawaban jujur. Dulu waktu masih SD (mungkin TK—akh saya tidak ingat persis), saya pernah kenal seseorang yang selisih umurnya dengan saya mungkin sekitar 13-18 tahun. Ia biasa nongkrong dekat rumah.

Dan untuk kami yang anak-anak, ia kerap membawa buah, snack-snack, atau juga mainan. Nah, dia itu, yang saya kenal dulu itu, kerennya bukan main. Rambut gondrong, hobinya pakai kaos hitam dan jaket levis kadang juga jaket kulit, pernah kemeja belel, juga jeans sobek. 

Saat itu saya belum tahu, style macam itu diekstrak dari mana. Bisa jadi Axl Rose. Sejak itulah saya niatkan untuk memilih jalan menjadi gondrong seperti itu juga. Setidaknya saat saya sudah seumuran dia nanti.

Tapi yah, kita tahulah bagaimana watak sekolah-sekolah negeri. Buyarlah impian untuk gondrong saat SD, SMP, dan SMA. Bahkan waktu SMP saya pernah dicukur serampangan oleh guru saya di depan gerbang sekolah. Malunya bukan main.

Jadinya cita-cita untuk memanjangkan rambut ini baru bisa saya aktualisasikan saat kuliah. Jadi memang ini seperti laku balas dendam saja. Seperti yang kita tahu bersama, tak hanya sekolah-sekolah yang habis dicekoki pola pikir Orba, kampus-kampus pun begitu. 

Dengan atmosfer kampus yang sedikit memuakkan, laku dosen yang ada-ada saja, tentu begitu sulit menolak ide-ide pembebasan, penolakan, dan tentunya revolusi. Jadilah rambut gondrong saya itu.

Reaksi orang-orang sekitar saya tentang itu beragam. Kalau dari keluarga, ada yang bilang, “Wah, rambutmu jauh lebih cantik dari rambut Tante.” Ada juga, “Waduh, dari belakang tadi saya pikir cewek.” Sampai ada yang ajak untuk foto bareng di studio. Terserahlah.

Kalau dari kawan-kawan, ya tidak banyak yang aneh-aneh. Ada yang suka mengepang lah. Yaa, mirip-mirip kepangan Elsa Frozen itu juga pernah. Ada juga yang menyarankan untuk ke salon sekali-sekali. Yang minta izin untuk sekedar pegang atau menawarkan diri menyisir juga ada. Oh maaf, tawaran untuk mencari kutu tak pernah. Saat itu saya rawat baik-baik rambut saya.

Sempat berpikir untuk pakai vitamin rambut, sudah dibeli, tapi tak jadi dipakai. Karena apa lagi kalau bukan demi imej lelaki gondrong yang konon mesti sangar—tak boleh minum susu, tak boleh lari atau sekedar pakai payung waktu hujan, tak boleh tidak makan lombok/sambal, tak boleh naik becak, dan banyak lagi pantangan lain yang entah disaripatikan dari mana nilai-nilainya itu. 

Kan aneh kalau rambutnya wangi. Jadilah saya ikut arahan Mama saya saja: disampo dua hari sekali. Biar tidak begitu busuk dan habis meranggas rontok itu rambut.

Sebenarnya bukan cerita di atas yang paling saya ingat kalau cerita tentang rambut gondrong saya yang dulu itu. Yang paling berkesan tentu reaksi dosen-dosen. Saya tak tahu ada berapa dosen yang menawarkan uang untuk ongkos pergi bercukur. 

Tawaran semacam ini hampir saya tanggapi dengan, “Sini mentahnya saja, Pak.” Tapi itu terlalu oportunistik-kapitalistik. Apalagi yang menawarkan ini salah satu Dosen yang sudah lumayan senior, bisa kualat saya.

Saya ingat betul, di kelas saya waktu itu total ada tiga orang yang berambut gondrong. Saya dan dua teman saya yang lain. Sebenarnya ada satu lagi, tapi rambutnya tidak sampai menjuntai ke punggung. Hanya berkumpul menggimbal tak keruan di atas kepalanya, jadi agak susah diikat. Pernah di satu kelas teman yang gimbal itu ditegur dosen, “Hei kamu yang gimbal, mending keluar saja kalau tidak mampu dirapikan.”

“Ini bukan gimbal, Bu. Ini alami.”

“Tak ada alasan, kalau tidak rapi tak usah masuk kelas saya.”

Jadilah teman saya itu keluar. Bukan main susahnya ia coba ikat rambut gimbal alaminya yang juga jadi sarang berpuluh-puluh ekor kutu itu. Beruntung akhirnya bisa juga diikat. Masuklah ia kuliah. Saya dan dua yang lain aman, karena kami bisa mengikatnya dengan rapi sejak awal.

Pernah juga kami masuk kelas, kebetulan kemarinnya sempat ada tawuran. Di kampus kami, soal tawuran tak pernah tentang hal-hal serius. Hanya semacam settingan untuk menarik mereka yang malas ke kampus untuk kembali merapat. Semacam strategi ‘chaos make order’. Tapi serius, jangan ditiru ini yang begini. Setidaknya Anda mesti paham konteks dulu.

Pertanyaan dosen saat pertama masuk kelas itu begini, “Berapa karung batu yang kalian lempar waktu tawuran kemarin, hah?”

Pertanyaan macam begini mau sekali saya sahuti, “Ah, Prof bisa saja. Tak sampai sekarung juga kali, Prof.” Tapi itu lagi, ini Profesor senior. Takut kualat kami.

Tak terhitung sentimen-sentimen, juga pengusiran-pengusiran macam ini dipraktikkan. Sejak saat itu saya jadi semakin tak suka dengan laku-laku overgeneralisir dan pengangkangan akan hak macam begitu.

***

Kita masuk ke cerita kedua.

Dulu waktu masih SD, saya ikut Mama ke kampungnya untuk menghadiri pernikahan salah seorang sepupu. Selain paku tindis yang saya injak berkali-kali di rumah itu, ada satu hal lagi yang tak pernah saya lupa. Di sana saya ketemu seseorang yang secara fisik tampak berotot, pinggul tidak melebar, payudara tak tumbuh, dan berjakun. Tapi dengan suara yang agak sengau dan gesture yang kadang kemayu.

Ini penampakan sekilas. Sampai akhirnya saya dengar cerita—dari teman-teman masa kecilnya, yang kebetulan Mama saya sendiri termasuk—bahwa ia punya sedikit perbedaan di penampakan organ vitalnya. Secara garis besar, ia seperti vagina, tapi ada yang menyembul keluar seperti penis dari liangnya, meski ukurannya tidak seperti ukuran penis normal.

Nah, bagaimana menentukan jenis kelamin bagi mereka yang seperti ini? Dengan memeriksa takaran hormon dominannya? Menerawang organ-organ dalamnya? Misalnya apa dia punya rahim atau tidak, begitu?

“Terus kalau sudah, boleh dong operasi kelamin?”

“Oh, tidak boleh. Itu pengingkaran atas takdir. Hukumnya neraka itu!”

Yaelah, serba salah ini.

Jika arahan Anda seperti di atas—memeriksakan ke dokter terkait hormon, berarti Anda percaya sains, kan? Berarti Anda mesti percaya juga kalau ilmu psikiatri dan psikologi sejak tahun 1973 telah mengeluarkan homoseksualitas dari kriteria gangguan jiwa. 

Atau percaya pada paparan dokter Ryu Hasan, bahwa tidak ada orang yang murni 100% perempuan dan 100% laki-laki. Belum lagi penelitian-penelitian bidang lain yang mengungkap bahwa ada perbedaan antara gender, identitas seksual, perilaku seksual, dan orientasi seksual.

Soal ini, saya kok jadi ingat kelakar-kelakar para mutan, terutama para pembenci mutan di komik X-Men dalam menyikapi fenomena mutasi gen yang jadi fokus utama ceritanya. Mereka menyebutnya sebagai 'God's Mistake', atau 'kesalahan Tuhan' dalam mengatur struktur gen mereka sehingga mereka bisa jadi mutan. Jadinya mereka para mutan itu layak dimusuhi dan disembelih saja kalau perlu.

Saya jujur tak suka dengan istilah God's Mistake itu. Ya karena Tuhan memang seharusnya tidak pernah salah. Tapi tidak mengakui fenomena-fenomena macam ini jelas adalah pengingkaran juga.

***

Ini cerita ketiga, semacam dialog imajiner.

“Tidak usahlah sok-sokan membela LGBT. Pakai alasan Alan Turing segala. Hei, itu waktu Turing kuliah, homoseksual kan juga dilarang.”

“Iya, bang, saya juga tahu itu, bang. Tapi abang tahu tidak watak otoritas yang berkuasa saat Turing kuliah sampai saat kematiannya dulu itu? Itu otoritas yang hampir sama wataknya dengan otoritas yang memusuhi Galileo Galilei, Newton, da Vinci, Copernicus, dan.... Oh iya, Abang kenal John Rock?

“Tidak. Siapa dia? Gay yang lain?”

“Oh bukan. Ia seorang Kristen taat yang punya lima anak dan 19 cucu. Dia itulah, bersama Gregory Pincus dan Chang Min-Cheuh, yang pertama kali mengembangkan pil KB. Penemuan yang bikin dia dikatai ‘pemerkosa moral’. 

Bahkan ada seorang Ibu yang mengirim surat padanya dan bilang begini, “Seharusnya kamu takut bertemu Penciptamu.” Dia seperti bertempur melawan Gereja, hal yang justru paling dia cintai awalnya. Abang ikut program KB?”

“Ikut!”

“Nah, itu hasil kerja mereka yang dulunya dibilang pemerkosa moral.”

***

Apa yang ingin saya sampaikan di tulisan ala kadarnya ini adalah bahwa rambut gondrong, seperti juga orientasi seksual atau agama seseorang, bukanlah satu-satunya variabel yang bisa dipakai untuk menentukan keseluruhan nilai pribadinya. Anda tentu tak suka islam diidentikkan dengan terorisme, kan? Sama seperti overgeneralisasi macam: yang gondrong sudah pasti bajingan; LGBT juga tak bisa dipahami begitu.

Jangan sampai karena debat-debat tentang Turing ini nanti ada yang bilang, “Mending kita tidak kemana-mana, tak dapat kemajuan apa-apa di bidang teknologi, daripada ada satu saja dari kita yang gay.” Mirip komen yang dulu itu, “Mending kita semua mati kelaparan saja daripada ada satu saja dari kita yang dinikah mut’ah.”

Kalau susah dipahami juga, inti yang paling inti dari tulisan ini sebenarnya hanya satu kata: EMPATI.