Mahasiswa
9 bulan lalu · 147 view · 4 menit baca · Politik 50472_33982.jpg
https://www.radioidola.com

Golput Itu Tidak Keren

Politik

Pemilu merupakan langkah awal dari sebuah proses demokrasi. Sementara pemilih pemula adalah pemilih yang baru pertama kali akan melakukan penggunaan hak pilihnya.

Tahun 2018, Indonesia berada dalam tahun politik. Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) akan digelar secara serentak di 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten. Lima provinsi dengan populasi terbanyak yang mewakili 133 juta penduduk di Jawa, Sumatera dan Sulawesi. 17 di antaranya merupakan pemilihan gubernur dan wakil gubernur, dan sebelas di antaranya akan menghasilkan pemimpin baru karena tak diikuti petahana.

Bisa dibilang, inilah election (pemilihan umum) terbesar dan tercepat di dunia. Terbesar dari segi postur kontestan, dan tercepat dari segi waktu pelaksanaan (sehari), yakni 27 Juni 2018.

Dalam menghadapi Pilkada serentak 2018 dan Pemiihan Umum 2019, Komisi Pemilihan Umum (KPU) beberapa waktu lalu meluncurkan tagline ‘Pemilih Berdaulat Negara Kuat’. Ini merupakan cara agar menggencarkan Gerakan Sadar Pemilu kepada masyarakat guna menggambarkan apa yang dalam ada dalam undang-undang yakni kedaulatan berada di rakyat yang menjadi pemilih dalam gelaran pemilu.

Pemilih pemula terdiri dari masyarakat yang telah memenuhi syarat untuk memilih, yakni seseorang yang telah berumur 17 tahun, sudah/pernah kawin dan, purnawirawan/sudah tidak lagi menjadi anggota TNI/Kepolisian.

Karena pemilih pemula adalah mereka yang baru pertama kali akan menggunakan hak pilihnya, maka pengenalan proses Pemilu sangat penting untuk dilakukan kepada mereka. Tujuannya agar mereka dapat memahami benar tentang pentingnya berpartisipasi dalam Pemilu serta mengenal bagaimana pemilu yang baik dan bersih.

Berangkat dari kesadaran tersebut, maka Penyelenggara Pemilu harus intens melakukan upaya pendidikan pemilu terhadap pemilih, serta dapat bekerjasama dengan stakeholder dan pemangku kepentingan guna melaksanakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan partisipasi pemilih dalam pemilu. Hal ini penting mengingat pengenalan proses pemilu melalui pendidikan pemilih juga akan menjadi pengetahuan untuk pemilih pemula dan pemilih secara menyeluruh akan kesadaran mereka dalam berpemilu, dan kebebasan memilih tanpa adanya intimidasi dari berbagai pihak.

Untuk melangkah menuju pelaksanaaan pemilu dengan partisipasi pemilih yang lebih baik ke depan, Penyelenggara Pemilu juga harus aktif mengawali proses pendidikan pemilih yang terarah dan tepat sasaran pada pemilih pemula khususnya dan masyarakat pemilih pada umumnya sebelum memasuki tahapan pemilu yang lebih teknis dan menguras waktu.

Bila kita mampu melakukan pendidikan pemilih secara terarah dan tepat sasaran, maka secara tidak langsung kita telah berhasil memberikan kesan awal yang baik pada pemilih tentang pentingnya suara mereka dalam pemilu untuk menentukan pemerintahan selanjutnya, termasuk meningkatkan kesejahteraan hidup atas pilihan mereka sendiri.

Pemahaman yang baik itu diharapkan dapat memotivasi mereka untuk menjadi pemilih yang cerdas dari satu pemilu ke pemilu lainnya. Pemilih pemula lainnya juga mempunyai peran penting sehingga diperlukan kebijakan strategis yang memudahkan mereka dalam memberikan suara.

Peran Pemuda dalam Pilkada Serentak 2018

Diperkirakan dalam setiap pemilu, 30 persen dari total jumlah pemilih adalah pemilih muda dengan usia 17 hingga 30 tahun. Demografi ini tentunya sangat signifikan dan partisipasi mereka akan sangat berpengaruh dalam menentukan hasil pemilu.

Kontribusi pemuda dalam menyongsong pesta demokrasi sehat dalam Pilkada serentak 2018 sangatlah diperlukan. Namun, sayangnya banyak pemuda saat ini yang acuh terhadap politik. Banyak anak muda yang terdogma bahwa politik cenderung berstigma buruk, terlebih banyaknya berita dari media yang menyebutkan banyaknya kasus penyelewengan wewenang oleh oknum-oknum politik.

Padahal pemuda diharapkan turut andil untuk memperbaiki sistem pemerintahan di Indonesia bukan justru sebaliknya acuh dan tak mau tahu. Partisipasi pemuda dalam Pilkada Serentak 2018 adalah bentuk kepedulian anak muda dalam proses politik. Sehingga anak-anak muda diharapkan mempergunakan hak politiknya untuk memilih dan menentukan masa depan bangsa.

Pentingnya Pemilih Pemula

Pemilih pemula dikatakan penting karena dari keseluruhan pemilih dari setiap pemilu terdapat sekitar 20% pemilih pemula didalamnya. Angka prosentase itu menunjukan jumlah pemilih pemula sangatlah besar.

Oleh sebab itu, untuk menghindari tidak berartinya suara mereka, kita semua harus menghindari kesalahan-kesalahan yang tidak diharapkan, misalnya jangan sampai sudah memiliki hak pilih tidak dapat menggunakan hak pilihnya karena tidak terdaftar atau juga masih banyak kesalahan dalam menggunakan hak pilihnya, dan lain-lain.

Partai politik dalam konteks ini juga memiliki peran penting dalam mendorong peningkatan partisipasi pemilih melalui pendidikan politik dari pemilu ke pemilu. Di era reformasi saat ini, masyarakat sangat memahami apa itu demokrasi perwakilan. Karenanya mereka juga memiliki sistem dan proses tersendiri dalam menentukan nilai kelayakan seorang calon atau partai politik dalam Pemilu.

Yang pasti, penyelenggara pemilu tetap percaya bahwa pemilih dan pemilih pemula adalah pemilih yang cerdas dan mereka akan memilih pemimpin mereka berkualitas. Itu pasti yang akan mereka lakukan karena mereka tahu bahwa mereka-lah yang menentukan pemerintahan berkuasa saat ini dan akan datang.

Golput itu Tidak Keren

Banyak pihak yang mengatakan bahwa tidak memilih (golput) merupakan sebuah pilihan. Ini adalah persepsi yang keliru. Banyak juga yang berpikir memilih golput karena menganggap semua calon sama saja ini juga keliru.

Saat ini ada banyak daerah di Indonesia yang mengalami kemajuan signifikan karena kepala daerahnya baik, hal ini karena ia dipilih oleh warganya. Jadi gunakan hak suaramu. Sebab, kalau kita ikutan nyoblos itu tandanya kita sudah bertanggung jawab atas hak yang telah kita peroleh dan itu jauh lebih keren, dibandingkan hanya sekedar komen-komen ‘pedas’ di media sosial bahkan cenderung saling menjatuhkan.

Anak muda keren itu tidak akan baper dan cepat emosi walau pilihannya berbeda dengan orang lain. Karena tidak semua orang bisa menjadi dewasa dan bisa tetap berkepala dingin menerima perbedaan.

Mari kita sukseskan Pilkada serentak 2018 dan Pemilu Serentak 2019 yang aman dan lancar. Gunakan hak pilih sebaik-baiknya karena akan menentukan daerah dan bangsa ini selama 5 tahun ke depan.