Golput menyebabkan Hillary D.R. Clinton kalah dari Donald J. Trump dalam pilpres AS tahun 2016. Narasi ini dibangun untuk mengonter preferensi golput dalam pilpres Indonesia yang akan diselenggarakan pada 17 April nanti.

Benarkah demikian? Barangkali tulisan Ign. L. Adhi Bhaskara cukup untuk melihat bahwa secara statistik memang bisa ada korelasi antara kemenangan Trump, kekalahan Hillary, dan persentase golput.

Seandainya, kelompok golput memberikan suara bagi Hillary, maka ia dapat mengamankan dominasinya atas Trump. Patut diingat bahwa Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden di AS berbeda dengan Indonesia. Di AS kemenangan kandidat ditentukan oleh Electoral College dan bukan Popular Vote.

Impresi bahwa walaupun angka golput memengaruhi kekalahan Hillary, masih dalam yang tulisan yang sama, penting untuk diperhatikan bahwa dari polling yang dilakukan oleh The Guardian sesudah kemenangan Trump terhadap mereka yang golput ditemukan bahwa dari 100  responden, 65 persen mengaku tidak menyesal memilih golput.

Dalam kontestasi pilpres Indonesia yang tinggal menghitung hari menuju hari pemilihan, upaya untuk menekan angka golput begitu masif. Barangkali serangan-serangan terhadap golput belum pernah sedahsyat ini sejak pemilu 2004.

Bertebaran di mana-mana, khususnya media sosial, stigma terhadap golput. Mulai dari seorang yang golput itu pemalas, pecundang, hingga sakit jiwa. Ironisnya, label tersebut diberikan oleh sebagian orang yang pernah bersikap golput dalam rangka mengekspresikan kritik mereka terhadap kekuasaan.

Calon petahana yaitu Jokowi ditakutkan akan bernasib seperti Hillary apabila jumlah golput tinggi. Kalaupun terpilih lagi, maka legitimasi kekuasaannya seakan tak kokoh.

Di lain sisi, kualitas penantang pun (dikondisikan) tidak memadai. Apalagi, penantang yaitu Prabowo, didukung oleh  kelompok yang disebut radikal, konservatif, dan lain sebagainya. Hal yang paling penting sebenarnya adalah Prabowo defisit analisis, solusi, maupun program yang inovatif dan transformatif terhadap problematika masyarakat.

Golput memang berkontribusi secara statistik. Akan tetapi, hal tersebut bersifat superfisial. Alasan yang substansial di balik kekalahan Hillary harus dibaca melalui faktor-faktor kualitatif. Ada banyak data soal ini dan saya hanya akan memaparkan sebagian di sini.

Pada tanggal 12 April 2015, Hillary mendeklarasikan diri untuk maju dalam pilpres AS 2016. Melalui sebuah video yang bedurasi kurang lebih dua menit, Hillary mengumumkan keputusannya, “I am running for president”.

Video tersebut berkonsep multi-identitas, multi-kultural, multi-rasial, multi-bahasa, dan kesetaraan gender. Selain itu, video tersebut juga memuat kesaksian orang-orang tentang kesuksesan diri mereka hingga akhirnya Hillary tampil mempromosikan dirinya di bagian akhir.

Hillary hendak berpesan bahwa manakala ia menjadi juara pilpres, maka setiap orang akan memperoleh distribusi keadilan dan kemakmuran yang berbasis equality rules. “Everyone receives equal entitlement”. Setiap orang akan mendapatkan outcomes yang sama, tanpa menghitung inputs  mereka.

Hillary sebenarnya memiliki catatan buruk berupa skandal terkait operasional Clinton Fondation. Misalnya, konon yayasan Clinton ini menjual obat HIV-AIDS yang murah tapi tidak  berkualitas kepada 9 juta rakyat Afrika demi mendulang profit yang besar. Keluarga Clinton makin kaya, sedangkan rakyat Afrika tetap sengsara.

Skandal tersebut membangkitkan kecurigaan yang kuat dari keturunan Afrika-Amerika terhadap segala yang berbau Clinton. Untuk meredam kesangsian tersebut, Hillary pun mengandalkan Obama.

Sayangnya, rekam jejak Obama selama dua periode menjadi presiden, yang  juga merupakan rekan separtai Hillary, kontras dengan konsep equality rules. Pada  tahun 2008 dan 2012, keturunan Afrika-Amerika berharap banyak pada Obama yang menjanjikan tegaknya kesetaraan mereka dalam demokrasi di Amerika. Dan, mereka kecewa.

Sebagai presiden kulit hitam pertama dalam sejarah Amerika, Obama justru tampil pragmatis. Dalam kasus-kasus yang menyoal ras, ia tidak memberikan perhatian dan perlakuan yang signifikan. Akibatnya, tidak banyak perubahan bagi kualitas hidup baik secara politik, ekonomi, maupun sosial  dari kelompok Afrika-Amerika.

Dukungan Obama kepada Hillary semakin medeligitimasi kelayakan Obama sebagai simbol representatif dari perjuangan persamaan hak di Amerika. Hillary akhirnya tidak meraih dukungan mayoritas Afrika-Amerika yang ikut menentukan kemenangan beruntun Obama sebelumnya.

Selain itu, kemenangan kontroversial Hillary atas Bernie Sanders dalam proses nominasi capres di internal Partai Demokrat AS juga sangat mengecewakan para suporter Sanders, khususnya kelompok milenial.

Kerentanan Hillary berhasil dieksploitasi oleh Trump. Trump memenangkan dukungan dari kelompok Afrika-Amerika yang kecewa dengan Hillary dan Obama. Ia juga terlihat selaras dengan beberapa ide Sanders khususnya terkait perdagangan.

Jadi, apakah kemudian golput serta-merta memenangkan Trump? Dari penjelasan di atas tentu saja tidak. Trump menang karena memang sukses menerapkan strategi yang memanfaatkan area-area Hillary yang polemis. Terlihat juga bahwa ada alasan-alasan yang masuk-akal manakala orang memutuskan untuk golput di pilpres Amerika saat itu.

Sebagaimana di Amerika, rekan-rekan yang memilih golput di pilpres Indonesia kali ini juga mungkin mempunyai alasan-alasan rasional yang harus diperhatikan. Misalnya, mereka menilai Jokowi ingkar janji dalam menuntaskan kasus dugaan pelanggaran HAM. Dalam  kepemimpinannya pun, kesan abai HAM juga menguat.

Ibarat Obama, Jokowi dalam pilpres tahun 2014 dilihat sebagai harapan dan perubahan sistem politik di Indonesia. Bukan golongan elit lama, bukan juga ketua partai. Ia dianggap akan menjadi benteng supremasi sipil dan distribusi keadilan yang berpihak pada rakyat. Ia akan berani dan tegas membela kelompok-kelompok minoritas sekaligus menegakkan HAM.

Dalam perjalanannya, Jokowi nampak pragmatis belaka (kalau belum bisa dikatakan sebagai oportunis). Ia tidak melakukan pembelaan yang signifikan terhadap kelompok minoritas. Penuntasan kasus dugaan pelanggaran HAM juga tersumbat. Aroma korporasi tambang batu bara juga mulai tercium di balik sepak terjang kepemimpinannya.

Prabowo, yang adalah penantang, diduga terkoneksi dalam jaringan industri ektraktif itu. Sehingga, terkesan bertanding setengah hati untuk melawan Jokowi karena kepentingan keduanya berpadu dalam bisnis tersebut. Dugaan keterlibatan Prabowo sebagai pelanggar HAM juga belum menemukan titik terang sebab tidak disentuh selama pemerintahan Jokowi.

Barangkali hal-hal di atas yang menjadi alasan mengapa seseorang memilih untuk golput. Apapun itu, golput bukan sekedar kalkulasi matematis, tetapi instrumen kualitatif yang perlu diobservasi agar menjadi kritik yang membangun bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, baik di Amerika dan khususnya di Indonesia.