Pengelana
2 tahun lalu · 269 view · 6 menit baca · Politik images-5-57ccd8972f97731511bd3457.jpeg
Sumber foto: poskotanews

Golkar Memang Tak Ada Duanya

Golkar memang tak ada matinya. Bahkan, ketika Alm. Gus Dur mencoba membubarkan Partai Golkar, justru beliaulah yang saat itu lengser sebagai presiden. Entah berapa partai sudah terlahir dari rahim Golkar, dan  masih eksis seperti : Gerindra, Hanura, Nasdem, namun  tidak lantas membuat Partai Golkar surut dan terpuruk.

Golkar tepap jaya, bahkan sekarang ini menjelang perhelatan pemilu 2019, Golkar semakin digdaya, jauh meninggalkan Partai Demokrat yang sempat melejit, namun hanya semusim dan setelah itu mulai layu. Entahlah bila di pemilu 2019, Partai Demokrat masih layak diperhitungkan.

Soal berpolitik, Golkarlah gurunya, ia tidak perlu diajari, dan memang Partai Golkarlah jawaranya dalam urusan yang satu ini. Partai Golkar memang unik, ia tidak pernah mengandalkan atau bergantung kepada kharisma atau figur seseorang.

Inilah kelebihan sekaligus Kekurangan Partai Golkar, bahkan saat orde baru, Golkar tidak bisa melahirkan seorang tokoh yang berkharisma yang bisa menandingi Pak Harto yang bisa menggunakan Golkar dan ABRI untuk mengamankan kekuasaannya kala itu.

Belum pernah sejarahnya Golkar melahirkan pemimpin berkharisma yang bisa menjadi ikon partai seperti Ibu Mega di PDIP, Pak Beye di Demokrat.

Mungkin, ini jugalah yang membuat Golkar selalu harus tampil selangkah di depan, karena memang mereka tidak pernah memiliki figur yang bisa dijual, beda dengan PDIP, Partai Demokrat yang masih tetap mengandalkan figur dalam urusan berpolitik hingga saat ini. Namun, keadaan ini tidak lantas membuat Golkar iri dengan partai lain, bahkan ia bisa mengeksploitasi figur atau kader di luar Golkar untuk kepentingan dirinya.

Tiba-tiba saja Golkar membuat terobosan fantastis, yakni akan mengusung  Presiden Jokowi di pilpres 2019 yang masih tiga tahun di depan. Langkah Golkar ini tidak kurang membuat PDIP serba salah, karena sudah keduluan Golkar.

Padahal, urusan Pak Jokowi dengan PDIP masih belum selesai, PDIP masih terus menuntut status petugas partai dari Pak Jokowi, yang menurut mereka masih belum terlihat dari sikap dan kebijakan Pak Jokowi selama ini.  

Bahkan, dengan percaya diri Partai Golkar sudah membahas strategi pemenangan Pak Jokowi, yang membuat PDIP  kebingungan. Golkar memang sepertinya tidak tahu diri dan tidak tahu malu, karena biar bagaimanapun, Pak Jokowi adalah kader PDIP.

Namun, itulah Golkar, mereka tahu bahwa saat ini Pak Jokowi sebagai Presiden RI adalah milik semua partai, bukan lagi hanya milik PDIP. Akhirnya PDIP hanya bisa geleng-geleng kepala, karena  tidak tahu harus berbuat apa.

Laksana ksatria kesurupan, Golkar terus mengeluarkan senjata pamungkasnya guna menekan lawan-lawan politiknya yang masih kebingungan. Golkar sudah sampai pada wacana menentukan cawapres  untuk presiden Jokowi di Pilpres 2019.

Wow, lagi-lagi PDIP tidak tahu harus berbuat  apa. Setelah membajak Pak Jokowi, posisi cawapres juga sudah siap untuk diplot Golkar dan tidak menyisakan sedikit pun ruang bagi PDIP untuk berpikir. Golkar berupaya memaksa PDIP agar tidak banyak berperan dalam menentukan siapa yang akan memimpin NKRI periode berikutnya.

Langkah ini merupakan taktik jitu Golkar untuk memberi kesan kepada rakyat bahwa Golkarlah yang paling berperan terhadap kelanjutan kepemimpinan Pak Jokowi. Dan sebagai imbalannya, Golkar akan menuai konstituen yang berlimpah dari massa simpatisan Pak Jokowi yang kurang sreg dengan metode tarik ulur PDIP.

Tidak ada banyak pilihan tersisa bagi PDIP selain mengekor  Golkar untuk melanjutkan kepemimpinan Pak Jokowi, itulah tujuan Golkar, menyandera PDIP.  Strategi  Golkar kali ini memang luar biasa, sejak dinakhodai Setya Novanto, Golkar langsung tancap gas.

Jauh beda dengan PDIP, yang masih bèlum tahu hendak melangkah ke mana. Jangankan pilpres 2019, pilgub DKI yang sudah di depan mata, mereka masih percaya Belanda masih jauh. Dan kita akhirnya melihat, kader- kader PDIP malah disusupi oleh Belanda Hitam  yang  sudah berhasil menarik beberapa kader banteng ke gerbong mereka guna menumbangkan Ahok. Dan PDIP masih mencoba  bermain-main  dengan waktu, sementara Golkar sudah sangat  jauh meninggalkan PDIP.

Golkar memang tidak ada duanya, kalau ada pastilah juga yang satunya sudah digugurkan oleh KPU karena hanya bisa ada satu Partai Golkar. Di antara partai-partai politik yang ada di Indonesia, Golkarlah yang paling cerdas. Mereka paling lihai membaca dan memanfaatkan momentum politik.

Golkar sangat tahu bahwa mereka tidak memiliki figur yang layak untuk dijual di pilpres 2019. Demikian juga jika mereka menawarkan kadernya sebagai cawapres, bahkan jika itu Setya Novanto sekalipun, mereka yakin tidak bakalan laku.

Sama seperti di pilpres lalu, Golkar sudah ke sana ke mari menawarkan ARB, namun pasar tidak sedikitpun tertarik, padahal bisa saja harganya sudah didiskon habis, bahkan diobral, namun tetap juga tidak laku dan harus pulang dengan tangan hampa. Oleh sebab itu mereka harus cepat bergerak sebelum terlambat dan keduluan partai lain.

Mumpung PDIP masih sibuk dengan urusan status Pak Jokowi, Golkar harus cerdik. Apalagi Pak Jokowi sangat disukai oleh rakyat, sementara PDIP masih tetap  jual mahal. Dan akhirnya Pak Jokowi pun  dibajak.

Tidak peduli bahwa Pak Jokowi itu tadinya diusung oleh PDIP. Golkar pun masuk, dan Pak Jokowi sepertinya tak kuasa dan juga memang tidak ada niat untuk menolaknya. Ia membiarkan dirinya dieksploitasi Golkar, karena memang ia juga sangat memerlukan Golkar guna mengamankan kebijakannya di parlemen.  

Golkar sangat senang dengan situasi ini, Golkar merasa, ialah sekarang pemilik Pak Jokowi yang sesungguhnya, bukan PDIP. Terinspirasi dari slogan pabrik semen, Golkar 'sudah berbuat sebelum yang lain memikirkannya'. Beda dengan partai lain, ' baru berpikir setelah Golkar berbuat'.

Partai-partai lain akhirnya  bersuara, supaya dianggap masih eksis tentunya. Mereka menyebut langkah Golkar ini terlalu dini atau kepagian, Golkar butuh pemersatu partai, sehingga butuh sosok Pak Jokowi. Golkar sedang bermain api, dan entah apa lagi. Namun seperti biasa, Golkar tidak pernah mau dengar apapun kata orang. Dan memang Golkar bisa membaca situasi ini, mereka tahu bahwa partai lain tidak mampu melakukan apa yang dilakukan oleh Golkar, berpolitik dengan cerdas dan  lihai.

Sejujurnya, mereka sangat cemburu terhadap Golkar, karena tidak bisa melakukan seperti apa yang dilakukan Golkar. Di samping terkendala dengan kecerdasan politik, langkah mereka terganjal dengan  sosok ketua umum selaku rujukan untuk setiap keputusan penting, padahal sangat mungkin ketua umum juga tidak mampu berpikir sejauh apa yang dilakukan oleh Partai Golkar. Belum lagi realitas  kekuatan partai mereka yang memang  tidak bisa disamakan dengan Golkar maupun PDIP untuk layak diperhitungkan.  

Entahlah, bila PDIP masih bertahan dan tetap yakin dengan strategi konvensional mereka  bakal berhasil di Pilkada serentak maupun pemilu/pilpres 2019. Namun satu hal, Golkar sudah membuktikan bahwa di pilgub DKI yang bakal digelar, mereka bisa mempersempit ruang berpikir PDIP, ketika dengan lantang Golkar bersuara akan mengusung Ahok. Bahkan, kita bisa melihat keuntungan politik yang tadinya mengalir deras ke Partai Nasdem, sekarang menjadi terbagi, bahkan Golkar kebagian lebih besar setelah mereka memutuskan tanpa ragu akan mengusung Ahok.  

Golkar sudah benar dan mereka tidak kepagian. Golkar memang sangat  cerdas membaca situasi, dan jeli melihat momentum. Dan memang partai politik sudah seharusnya demikian. Dan ini seharusnya menjadi pelajaran untuk partai-partai lain, dengan mulai kritis terhadap efektivitas kepemimpinan partai yang hanya mengandalkan figur dan berdasarkan kharisma.

Apa yang dilakukan Golkar merupakan bukti bahwa suatu organisasi bisa eksis tanpa harus memiliki sosok setengah dewa. Dan ini perlu untuk membangun demokrasi yang sehat,  dan berkesinambungan. Tidak harus selalu bergantung kepada figur seseorang,  tetapi siapapun yang menjadi pemimpin harus mampu membawa organisasi untuk kemajuan.

Golkar sudah menyadari kekeliruannya, ketika sebelum dipimpin Setya Novanto, mereka berupaya habis-habisan menokohkan ARB dan membuatnya supaya berkharisma. Namun fakta berbicara, Golkar gagal jika harus meniru partai lain. Golkar tetaplah Golkar dan tidak bisa menjadi partai lain.

Akhirnya, Golkar sadar akan kekeliruannya dan segera bangkit dan bergerak cepat mengejar ketertinggalannya. Dan sekarang, Golkar sudah berada jauh di depan.  

Golkar paling siap bertarung di Pilpres 2019, bahkan sekalipun bertarung dengan PDIP yang memiliki beban berat untuk mendongkrak nama Puan Maharani untuk disandingkan dengan Pak Jokowi di 2019.

Itulah kelebihan Golkar, mereka yang dulu paling keras menolak Sri Mulyani, kini menyebut-nyebut namanya untuk mendampingi Pak Jokowi guna menekan upaya PDIP mengangkat nama Puan. Dan sangat mungkin PDIP sudah minder duluan, ketika Sri Mulyani dibandingkan dengan Puan dalam posisi seperti sekarang. Mbanting, kata seorang pengamat.( Artikel pernah dimuat di kompasiana)

Artikel Terkait