Sebagai partai “senior” Partai Golkar memperlihatkan keseriusannya dalam pendidikan politik dan inovasi.  Dengan didirikannya Golkar Institute (2/2), Partai Golkar sepertinya sedang menyiapkan  ruang dan sekolah bagi kader partai  untuk maju sebagai calon kepala daerah dan wakil rakyat.

Selain itu, dengan adanya Golkar Institute berharap akan lahir semakin banyak lagi politikus beringin yang tangguh, tokoh-tokoh yang memiliki pengetahuan, intuisi, dan penciuman politik yang tajam—begitulah sambutan Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto, dalam pembukaan Golkar Institute.

Partai Golkar merupakan partai yang mudah beradaptasi dengan perubahan. Sebagai analis/kolumnis politik saya melihat dibawah kepemimpinan Airlangga, Partai Golkar terus berinovasi untuk menjaga “ritme” kelembagaan partai dengan pemilih, serta menyiapkan tantangan partai di masa depan.

Ketertarikan saya dengan inovasi dan perubahan-perubahan besar yang dilakukan oleh Partai Golkar. Saya pun sedang menjadikannya sebagai bagian dari tesis saya di Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia. Terutama upaya Golkar mengikusertakan relawan politik dalam pemenangan Jokowi dan partai pada pemilu 2019.  Partai Golkar menggabungkan dua entitas “brand” kampanye: Jokowi dan Partai Golkar. Partai Golkar sebagai lembaga senior dalam politik Indonesia “berinovasi” dengan menyertakan gerakan relawan yang tidak terikat secara utuh dengan kelembagan partai.

Partai Golkar mengunakan pendekatan  pada pemilu 2019 diluar dugaan banyak orang. Sebagai partai yang sudah mapan dengan pemilih yang sudah mengakar di daerah. Golkar menyadari “disrupsi” akan terjadi pada partai yang hanya memfokuskan terhadap  struktur. Zaman  berubah dengan kehadiran teknologi, pemilih yang terus bergeser dari X ke Y dan Y ke Z.

Peremajaan pemilih adalah tujuan yang ingin dicapai oleh Partai Golkar. Meskipun, dengan ketersediaan pemilih yang loyal dengan partai beringin ini masih masif. Lewat Airlangga, Partai Golkar sedang menyiapkan dirinya untuk tidak ditinggalkan oleh partai-partai baru yang memanfaatkan media sosial, konten kreatif, dan lainnya untuk mendekati pemilih generasi Y dan Z.

Partai Golkar sudah seharusnya menyiapkan keterikatan partai  dengan pemilih baru nantinya, dengan memanfaatkan teknologi untuk memperkenalkan diri kepada pemilih. Media sosial, Youtube, dan lainnya untuk menarik perhatian pemilih. Dengan memperkenalkan gagasan dan program-programnya ke pemilih baru—pemilih yang tidak mengenal “Party ID”—pilihan  orang tua dengan anaknya berbeda. Makanya, partai bekerja keras memperkenalkan keberpihakan partai terhadap generasi baru yang secara otomatis berdampak dengan suara partai.

Partai perlu punya strategi matang untuk “merawat” dan “memperkenalkan” politik kepada pemilih baru. Perubahan-perubahan yang terjadi disekitar mereka sering diabaikan  sebagai bagian penting dari program partai politik. Kesempatan  milenial potensial mendapatkan posisi  sesuai dengan keahliannya. Kolaborasi dan memberi kesempatan kepada siapa saja untuk mendapatkan ruang politik. Masalah yang dihadapi partai pada era baru ini tak hanya soal penguasaan “akar rumput”, tetapi juga keikusertaan pengetahuan.  

Golkar Institute dan Milenial 

Menurut data IDN Research Institute, pada tahun 2045 proyeksi pertumbuhan penduduk Indonesia akan berakhir. Indonesia memasuki “ageing population”, dimana penduduk dengan usia tidak produktif lebih banyak dibandingkan dengan yang produktif.  Sturuktur sosial, ekonomi, politik, dan budaya di masa depan akan didominasi oleh generasi yang saat ini sedang tumbuh. Perubahan sistem sosial akan terjadi dengan adanya pergantian generasi di struktur-sturktur yang ada di masyarakat.

Perubahan itu menjadi kehawatiran bagi pelaku sosial, ekonomi, dan politik melihat masa depan penduduk Indonesia. Beberapa strategi dilakukan untuk memperkenalkan nilai kepada generasi yang saat ini sedang tumbuh. Eksistensi di masa depan dijawab dengan mendekati generasi ini agar ikut masuk ke dalam kebiasaan, kelembagaan, dan sosial yang sudah dibentuk. Perubahan-perubahan yang dilakukan untuk mendekati generasi ini yakni dengan mengenali kebiasaannya.

Dengan keberadaan Golkar Institute, Partai Golkar berkesempatan lebih baik melihat persoalan ini dengan riset dan ilmu pengetahuan. Perubahan yang terjadi didukung dengan keberanian memberikan kesempatan kepada “kader-kader intelektual” tampil di depan. Partai   mengalokasikan anggaran untuk pendidikan politik, Golkar Institute, menurut saya basis pendidikan politik yang sedang disiapkan Partai Golkar dengan pola yang lebih inovatif, kreatif, dan kolaboratif. Partai Golkar sepertinya sedang  mendorong ini dengan  dengan memberi kesempatan kepada tokoh-tokoh muda untuk siap dengan tantangan politik kedepannya: teknologi, inovasi, dan strategi.

Pabrik Politisi-Intelektual 

Dalam situasi bangsa yang sedang krisis  menghadapi Covid-19 dan dampaknya. Lewat Golkar Institute, Partai Golkar memanfaatkan momentum ini untuk melahirkan politisi-politisi yang siap nyelesaikan permasalahan ini dengan cepat. Dampak Covid-19 ini tak hanya tahun ini, tetapi beberapa tahun kedepan. Perubahan yang terjadi pada sistem sosial, ekonomi, politik, dan hukum perlu diselesaikan dengan berbasiskan data dan inovasi.

Oleh karena itu, Golkar harus membuka juga ruang kepada analis/calon peneliti yang bukan berlatar belakang kader partai menjadi bagian dari Golkar Institute. Dengan tujuan  yang sedang dipersiapkan Partai Golkar, menjadikan ruang politik dengan atmosfer akademik dan intelektual. Partai Golkar berkontribusi besar untuk melahirkan pemimpin-pemimpin yang memiliki narasi dan gagasan politik yang berkualitas kedepannya. Sekian.