Februari 2019, atasan saya mengunggah gambar info tentang festifal Golek Garwo di grup WhatsApp yang dilaksanakan di Yogyakarta. Masih lekat di ingatan saya bagaimana anggota di grup itu “nyinyir” karena saya tidak merespons festival tersebut.

Ironisnya, mereka adalah kaum akademisi calon cendekiawan yang saling sahut-menyahut mem-bully anggota grup lain (saya dalam hal ini) karena status sosial saya sebagai “single”.

Golek Garwo adalah ruang atau media yang memberikan fasilitas kepada mereka yang masih sendiri, mencari jodoh yang digagas oleh Rm. Ryan Budi Naryanto tanpa dipungut biaya, Golek Garwo digagas sejak tahun 2011 dan hingga tahun 2018 sudah ada 7.250 pasangan yang dinikahkan. 

Lokasi panitia di Sewon Bantul Yogyakarta dengan jumlah ribuan pendaftar setiap bulannya, baik mendaftar melalui email [email protected] atau datang langsung ke lokasi. Mereka yang menggunakan email, oleh panitia dikirim identitas peserta lain yang membutuhkan. Setiap tahun, Golek Garwo dilaksanakan selama 3 kali dengan jumlah pasangan pengantin mencapai ratusan calon pengantin.

Sepintas ajang tersebut menggiurkan karena memfasilitasi para jomblowers untuk bertemu dengan pasangan seperti yang diidealkan. Tetapi saya tidak tertarik untuk mengikuti ajang tersebut.

Apalagi setelah saya mendampingi perempuan korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang mana dia menikah lantaran bertemu dengan suami di ajang Golek garwo tersebut. Dengan lantang saya katakan bahwa ajang nikah massal Golek Garwo “merugikan” perempuan.

Tulisan ini adalah narasi pengalaman seorang perempuan yang menikah di Nikah Massal Golek Garwo di Yogyakarta. Karena tulisan ini adalah subjektif pengalaman perempuan korban, maka tulisan ini tidak menggeneralisasi bahwa semua perempuan yang menikah di ajang tersebut adalah korban atau yang dirugikan.

Karena pengalaman, penting kiranya pengalaman ini didokumentasikan untuk mengetahui rupa-rupa dan warna-warni kehidupan perempuan yang menikah melalui jalan Golek Garwo.

Amarta Menikah di Golek Garwo 

Amarta adalah perempuan suku Betawi, memiliki gelar pendidikan S2 ilmu komunikasi di Universitas Indonesia, dan berprofesi sebagai aparatur negara di lembaga Kementerian Agama RI. 

Di usinya yang ke 30 tahun, Amarta adalah seorang janda dengan dua anak laki-laki yang masih kecil-kecil. Katanya, perceraian terjadi karena suami ketahuan selingkuh dengan perempuan lain dan hamil.

Dua tahun putusan pengadilan tentang perceraian Amarta dengan suami. Amarta berniat untuk membina rumah tangga, dan ingin memiliki suami dan anak.

Melalui situs di internet, yaitu Facebook dan Instagram, Amarta mendapatkan info tentang nikah massal Golek Garwo di Yogyakarta. Amarta merasa bahwa mungkin ini adalah jalannya dia untuk bertemu dengan calon suami yang dia inginkan.

Sesuai dengan prosedur panitia Golek Garwo, Amarta mengirim curriculum vitae, foto terbaru, dan kriteria suami yang diinginkan melalui email. Sebagai balasannya, pihak panitia mengirim kembali beberapa CV calon laki-laki yang ”pas” dengan yang Amarta impikan.

Kala itu, Amarta menghubungi laki-laki yang mana laki-laki tersebut menginginkan istri seperti Amarta. Sebut saja namanya Andre.

Andre adalah seorang duda berusia 47 tahun dengan tiga orang anak laki-laki, seorang guru mata pelajaran musik, dan berstatus sebagai pegawai negeri sipil di sekolah negeri di Yogyakarta.

Singkat cerita, mereka berdua kemudian berkomunikasi melalui WhatsApp, Amarta meminta Andre untuk menunjukkan keseriusannya untuk datang melamar. Dua bulan setelah perkenalan tersebut, Andre datang ke rumah paman Amarta di Kebumen, Jawa Tengah. Padahal rumah Amarta di Banten.

Beberapa minggu setelah itu, mereka kemudian mendaftar menikah massal di Golek Garwo dengan fasilitas gratis. Mulai dari mahar, cincin nikah, baju pengantin, hingga prosesi pernikahan yang digelar secara serentak dengan ratusan pasangan pengantin lainnya di Bantul, Yogyakarta.

Berdasarkan permintaan suami, Amarta harus pindah kerja dari Jakarta ke Yogyakarta dengan jabatan yang berbeda, yaitu bagian administrasi di Kantor Urusan Agama di salah satu kecamatan di Provinsi Yogyakarta.

Beberapa minggu pasca-pernikahan, Amarta merasa bahwa suaminya bersikap ”berbeda” dan berubah, tidak seperti ketika berkenalan dulu. Di sinilah kemudian Amarta merasa ada sesuatu yang lain.

Kekerasan dari Suami & Keluarga  

Ketika perkenalan, Andre mengatakan kepada Amarta bahwa ia memiliki rumah pribadi yang kelak akan ditempati bersama Amarta jika ia pindah kerja ke Yogyakarta.

Merasa ucapan Andre itu benar, Amarta kemudian mengurus pindah kerja dan ditempatkan di KUA Yogyakarta, tetapi Andre tinggal di rumah kedua orang tuanya. Dan tidak tinggal di rumah yang dulu pernah dijanjikan oleh Andre.

Empat bulan usia pernikahan, Amarta dinyatakan positif hamil oleh dokter kandungan. Pihak keluarga Andre ”menduga” bahwa Amarta telah hamil sebelum menikah (marriage by accident). Padahal, menurut Amarta, ketika hari H pernikahan, Amarta sedang dalam kondisi haid, yang ini bermakna bahwa ia tidak hamil.

Tidak hanya itu, Andre melarang Amarta untuk cek kandungan ke dokter kandungan di klinik atau rumah sakit. Andre ingin agar Amarta melakukan cek kandungan ke puskesmas dengan biaya yang murah.

Andre juga melarang Amarta membeli makanan di warung, dan memaksa Amarta untuk memasak sendiri di rumah dengan alasan lebih murah dan hemat pengeluaran. Dengan larangan-larangan tersebut, Andre tak memberi uang bulanan kepada Amarta dengan alasan Amarta memiliki uang sendiri dari gaji bulanannya sebagai PNS. 

Perlakuan-perlakuan Andre yang demikian membuat Amarta tertekan dan merasa bahwa Andre tak bersikap layaknya sebagai suami yang memperlakukan istri dengan hormat dan cinta.

Suatu hari ketika Andre sedang marah, leher Amarta diinjak padahal Amarta dalam kondisi hamil. Bahkan, ketika hari H persalinan, Andre tak menemani Amarta di rumah sakit. Andre merasa bahwa bayi tersebut bukan anak kandungnya sendiri.

Setelah Amarta melahirkan, kekerasan itu tidak cukup untuk berhenti. Suatu hari ketika jam kerja, Amarta menitip bayinya ke Andre, tetapi oleh Andre bayi tersebut di-”titipkan” ke panti asuhan tanpa sepengetahuan Amarta.

Tiga minggu Amarta mencari bayinya sendiri dengan kondisi payudara yang membengkak, hingga akhirnya Amarta menemukan bayinya sendiri di salah satu panti asuhan yang dititipkan oleh Andre.

Tidak kuat dengan perlakuan suaminya sendiri, Amarta kemudian memilih untuk ngontrak rumah sendiri bersama bayinya yang lokasinya berdekatan dengan kantor tempat Amarta bekerja. Sejak pisah rumah dengan Andre itulah, berbulan-bulan Andre tak pernah mengunjungi Amarta, tak menanyakan kabar, dan hilang tanpa kabar.

Tetapi di belakang Amarta, suaminya membuat surat keterangan dari rumah sakit jiwa bahwa Amarta sedang sakit jiwa. Andre memberi tahu itu kepada atasan di kantor Amarta bekerja sehingga Amarta mendapat teguran dan ditempatkan di unit kerja yang lebih santai.

Bayi Amarta selalu sakit dan menangis tanpa tahu penyebabnya apa. Kondisi tersebut diperparah karena setiap kali Amarta melapor kekerasan fisik yang dialaminya ke pihak berwajib, Amarta yang dipersalahkan.

Di sini Amarta merasa bahwa dirinya yang menjadi korban tak mendapat perlindungan dari pihak yang sejatinya memberikan pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat.

Kini, di usia pernikahan Amarta dan Andre ke-3 tahun, Amarta berjuang untuk memulihkan fisiknya, psikisnya, dan batinnya dengan terapi konseling.

Makna Perkenalan 

Amarta kini berubah, ia yang dulu rajin perawatan kulit wajah dengan wajah yang cerah kini berhenti dan bermuka kusut dan layu. Bahkan, baju-baju yang Amita gunakan tampak bahwa dirinya tak lagi memperhatikan penampilan.

Mendengar cerita Amarta, saya terenyuh dan ingin memeluknya dengan pelukan cinta dan menguatkan dirinya bahwa dia tak sendiri. Bahwa ada banyak perempuan yang bernasib sama seperti dirinya.

Pengalaman Amarta bertemu dengan Andre sang suami di ajang nikah massal Golek Garwo mengisyaratkan satu penekanan bahwa sejatinya ”mengenal” calon suami itu sangat penting.

Mengenal tidak hanya dalam ulasan kertas di lembaran CV, mengenal tidak hanya komunikasi singkat di media sosial, mengenal tidak hanya melihat dari hasil jepretan kamera. Tetapi mengenal melampaui pandangan mata.

Pada konteks Andre, Amarta ”selayaknya” mengenal keluarga besar Andre, mengenal mantan istri Andre dan ketiga anak-anaknya, mengenal kasus perceraian Andre dan mantan istri, mengenal tabiat dan perilaku buruk dan baik Andre, mengenal rencana masa depan Andre, dan mengenal relasi tersembunyi antara Andre dan Tuhan ketika ia sedang sendiri.

Itulah mengapa Tuhan menyuruh umat manusia untuk mengenal dengan kata ”Li ta’arofu” (untuk saling mengenal). Karena dengan mengenal melahirkan cinta, menumbuhkan empati, bisa menghargai, bisa memahami, dan bisa menghormati.

Menurut pandangan saya pribadi, Nikah Massal Golek Garwo belum sampai pada taraf substansi mengenal. Karena dua calon pengantin ”hanya” mengenal secara fisik dan luaran, dan bukan pada batin, ruh, dan jiwa.

Sehingga apa yang terjadi pada Amarta adalah pengingkaran terhadap realitas kemanusiaan untuk saling menghormati dan saling menghargai. Sehingga perilaku yang tercermin pada Andre bukan perilaku manusia, melainkan perilaku buruk dengan topeng fisik manusia.