Membaca karya Goenawan Mohamad setamsil dengan bercermin. Refleksi itu menjelma perenungan dalam. Dan kumpulan kata itu bekerja, memantik rasa ingin bertanya dan tetap bertanya hingga ke buntut di mana rasa dan akal akan bertemu membentuk sebuah konklusi sementara.

Sudah beberapa kali saya berkesempatan membaca karyanya. Baik lewat website maupun majalah-–termasuk beberapa kontroversi yang mengikutinya di website abal-abal. Dalam urusan membaca, kebetahan saya pada satu karya tidaklah konstan melainkan naik turun, berdinamika. Membebaskan diri dan dituntun oleh rasa ingin tahu, begitulah kira-kira bagaimana kepala saya bekerja di ranah kesusasteraan.

Saya adalah pembaca angin-anginan. Nafsu baca saya tak tentu. Mungkin karena latar pendidikan saya bukanlah seni atau sastra—kalimat klise banyak orang. Pun saya tak masuk daftar penyuka sastra kelas kakap. Hanya kelas teri. Walalupun demikian, saya cukup yakin bahwa saya termasuk ke dalam golongan pembaca yang mencari sesuatu yang tersembunyi di balik sebuah tulisan.

Karena itu perspektif saya sedari awal, maka barang tentu itu harus berimbas pada sikap tak pernah mengkultuskan siapa tulisan paling baik. Atau mendaku sebagai pengikut setia karya sastrawan, jurnalis, esais, cerpenis, novelis atau kritikus tertentu.

Bagi saya, membaca serupa pertaruhan. Ya, pertaruhan konsep lama yang ada di kepala dengan ide-ide baru dari kepala yang lain, dari tangan yang lain dari olah pikir dan rasa tubuh yang lain. Perkara menang atau tidak, itu ditentukan dari ragam kondisi dan keberuntungan.

Sayangnya saya orang yang merasa selalu menang dalam pertaruhan namun gagal paham substansi mengapa saya bertaruh. Mungkin karena mata saya tak terlalu jernih melihat sesuatu, banyak tendensi. Acapkali saya mendebat dengan teori sedemikian canggih sekedar mempekokoh superioritas Materialisme-Dialektis pasca Renesaince.

Mendebat pengikut argumen Julia Kristeva, Martin Heiddeger, Lacan, Chantal Mouffe dan Albert Camus. Mendiamkan pesan tersirat dari tulisan indah Tagore dan menyanjung habis-habisan pemikiran Hawking, Lawrence Krauss, Richard Dawkins dan menanamkan di kepala tentang pentingnya cara pandang Mekanistik-Cartesian ala Newton.

Sedemikian besar pengaruh diskursus dari Kant, Marx, Descartes yang dipadu dengan pandangan Al-Ghazali sebagai bekal logika ‘keberagamaan’ saya. Awalnya saya bertaruh dengan mata uang berupa gagasan saintifik. Mendaku dan mendukung segala sesuatu mestilah yang bersandar pada logika, fakta dan metode uji kebenarannya.

Sayangnya gagasan itu kolaps jika dibenturkan dengan realita kehidupan kemasyarakatan dan kekinian. Bagaimana pula saya tanpa hati  mengatakan bahwa, “seorang pelacur yang berbisnis dengan tubuhnya adalah seorang sampah?”

Suatu waktu saya juga mendebat pikiran Michel Foucault dan Jeremy Bentham tentang konsep hukum apa yang cocok untuk kondisi itu. Atau penjara jenis apa yang cocok? Sayangnya Panopticon tak berguna memenjarakan orang yang dianggap sampah di saat pikirannya bukanlah sampah tetapi mengandung kejernihan dari upaya purba bertahan hidup.

Akhirnya saya tiba pada kesimpulan, untuk bertahan hidup, segala upaya yang dilakukan tak berhak atas hukuman apapun dari penegak atau instansi tertentu. Tak boleh ada sekelompok manusia yang mendaku mengetahui hukum Tuhan yang telah mendaras kitab berbagai warna datang seenaknya mengklaim. Toh apakah pelacur tak punya hak atas surga juga? 

Goenawan Mohamad dalam sebuah tulisannya membantai cara pandang saya. Bagaimana mungkin kita bisa menganggap sampah seorang wanita gempal di Tulungagung yang menjadi pelacur malamnya setelah memecah batu di sore harinya demi menyekolahkan anaknya?

Inilah benturan konsep yang membuat saya merenung dan berpikir. Bahwa Ibu-ibu gempal itu menjajakan tubuhnya tapi tidak pikirannya. Tidakkah lebih hina bagi mereka yang mendaku berjuang atas kemaslahatan tapi menggadaikan kepalanya di depan uang? Jika saja kita menukar isi kepala orang-orang di gedung istimewa itu dengan Ibu tadi, tentulah masih ada kembaliannya.

Bagaimana kita yang mendaku beragama tak perih dengan kondisi demikian. Jika para staf ahli Tuhan membubarkan di bulan suci lapak-lapak di mana Ibu itu mencari rupiah, maka si Ibu gempal mestilah berpindah mencari lokasi lain yang masih mungkin ia menjajakan tubuh. Walaupun harus berbagi penghasilan tak seberapa itu dengan para preman.

Ironi. Inilah pergulatan yang bagi saya sangat-sangat akut antara kondisi kita dan sikap kita. Saya kadang berpikir, apakah sebagian kita justru mengukuhkan kebenaran pikiran bukan atas dasar kebebasan kita, namun atas otoritas.

Goenawan Mohamad kadang melalui karyanya menggelitik rasa kita. Saya adalah salah satu yang menyelam ke dalam rasa dan mengabaikan logika yang katanya canggih itu. Saya menaruhnya sementara untuk membuka mata atas realitas kita.