Dalam 10 terakhir ini, kehidupan sebagian besar guru di Indonesia mengalami perubahan drastis. Sosok yang dahulu digambarkan sebagai Oemar Bakri dengan segala keterbatasannya, sekarang tidak lagi. Sebagian guru bahkan mampu melebihi profesi lain.

Bahkan, sebutan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa dalam lagu gubahan Sartono, di mana lagu ini dibuat dalam rangka menghargai perjuangan tanpa pamrih para guru, kini pun tidak tepat lagi. Kalaupun ada sisi yang masih relevan adalah pada syair hanya pada pelita dalam kegelapan itu pun mulai tergeser dengan keberadaan mbah Google.

Perubahan tersebut tidak lain disebabkan dengan pemberian tunjangan yang dinamakan Tunjangan Profesi Guru atau lebih dikenal dengan istilah sertifikasi. Pemberian tunjangan yang dimulai sejak tahun 2009 sangat luar biasa pengaruhnya, terutama di sisi perekonomian. 

Tambahan penghasilan 3 juta rupiah setiap bulan (walau dikeluarkan setiap tiga bulan sekali) ternyata sangat ampuh. Sosok Oemar Bakri yang dulu akrab dengan guru, sekarang tak berbekas sama sekali.

Sehingga saat ini jangan heran jika kita temukan deretan mobil berbagai merek nongkrong di pelataran parker tiap sekolah. Pemandangan yang tidak mungkin kita temukan pada 10 tahun yang lalu. Di mana saat itu hanya beberapa sepeda motor yang nongrong di sana.

Sisi lain yang tak kalah menarik adalah daya tarik guru bagi pihak-pihak lain. Saat ini berbagai bank yang dulu memandang sebelah mata para guru, berbondong-bondong menawarkan uangnya. Demikian pula dengan dealer sepeda motor ataupun mobil rajin mengirimkan leaflet promo berharap salah seorang guru melirik produk mereka. Sungguh sebuah perubahan cara pandang yang luar biasa.

Hal ini belum lagi kalau kita menilik penampilan para guru. Peningkatan kesejahteraan tentu saja berdampak pula pada penampilan. Saat ini jangan harap kita akan menemukan penampilan guru yang jadul bahkan culun. 

Penampilan mereka sangat luar biasa. Tidak kalah dengan pegawai-pegawai kantoran. Sehingga tak salah jika sebagian menempatkan para guru pada level tingkat ekonomi menengah.

Berbagai perubahan tersebut sah-sah saja. Keinginan mereka untuk menikmati apa yang selama ini hanya bermain di ranah mimpi, adalah hal yang wajar. Kemampuan ekonomi yang mereka miliki, memungkinkan untuk mewujudkan semua itu. Namun, sebenarnya bukan itu tujuan pemerintah. Ada grand design di balik semua itu.

Kembali pada kehidupan guru pra-TPG. Saat itu kecilnya pendapatan guru berdampak signifikan pada kemajuan pendidikan (paling tidak ini sorotan dari beberapa pengamat). Kecilnya pendapatan, memaksa para guru untuk mencari penghasilan tambahan. Dari mulai menjadi guru terbang di beberapa sekolah. Hingga menjalani profesi lain yang cepat menghasilkan uang. 

Sehingga jangan heran jika ada guru yang menjadi tukang ojek, tukang sampah, jualan kecil-kecilan di luar profesi mereka. Hal ini berdampak pada kurang fokusnya mereka dalam mengajar. Urusan perut menjadi urusan utama, dibandingkan dengan tugas utama mengajar.

Melihat kondisi semacam ini, maka dikeluarkanlah TPG sebesar gaji pokok seorang guru. Harapan membuncah dari pemerintah, besaran tunjangan tersebut dapat membuat para guru bernafas sedikit lega. Mereka tidak lagi harus pontang-panting mencari penghasilan tambahan. 

Tambahan berupa tunjangan tersebut diharapkan mampu memenuhi kebutuhan yang lain termasuk di antaranya adalah kebutuhan yang menunjang prifesionalitas mereka.

Namun dalam kenyataannya, harapan tinggal harapan. Tunjangan yang dikenal dengan istilah sertifikasi ini justru dipandang sebagai gratifikasi. Sebuah pemberian yang bersifat cuma-Cuma. Sebuah pemberian yang tidak mempunyai konsekuensi tertentu bagi penerimanya.

Pandangan semacam inilah yang membuat semuanya runyam. Profesionalitas yang diharapkan, justru gejala konsumerisme yang bermunculan. Dengan kelebihan tersebut, para guru justru membelanjakan untuk berbagai kebutuhan yang bersifat tersier. Kebutuhan yang secara langsung tidak berhubungan dengan peningkatan profesionalitas mereka. 

Namun, beberapa pihak mungkin mampu memakluminya. Apa yang para guru lakukan, mungkin semacam balas dendam akan masa lalu mereka. Di mana saat itu, mereka hanya mampu bermain di ruang mimpi, tentang segala keinginannya. Sehingga saat kesempatan itu datang, mereka tidak sia-siakan semuanya. Apa yang dahulu tidak mampu mereka nikmati, kini bisa mereka raih.

Di beberapa daerah memang sudah ada yang mengambil langkah bagus. Yaitu dengan mewajibkan setiap guru yang menerima TPG untuk membelanjakan sebagian pada hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan profesi. Paling tidak ditunjukkan dengan belanja buku, langganan internet, beli laptop dan lain-lain. Dengan langkah ini, diharapkan apa yang menjadi tujuan pemerintah tercapai.

Akhirnya semua berpulang pada guru. Peningkatan profesionalitas sebenarnya merupakan kebutuhan yang sangat vital. Hal ini berkaitan erat dengan daya saing mereka di era global. 

Jangan sampai suatu ketika masuk guru-guru asing, justru akan menjadi ancaman mereka dari profesi mereka. Serta jangan sampai pula nanti anak-anak kita lebih percaya dengan mBah Google dibandingkan pada guru-guru mereka.