Arsiparis
1 tahun lalu · 50 view · 2 menit baca · Politik 74511_61187.jpg

Godaan Kekuasaan Itu

Kekuasaan sebegitukah menggiurkan? Menjadi penguasa adalah jalan mengendalikan sesuatu namun untuk memperolehnya haruslah dengan jalan mencari amanah dengan jujur dan penuh dedikasi.

Dalam hidup dikenal tiga macam cobaan yang lazim dikenal dengan istilah tiga TA: Harta, Wanita, dan Tahta. Namun, di antara ketiga itu, yang paling berbahaya dan paling menggoda adalah “Ta” yang terakhir yaitu Tahta atau Kekuasaan. Kekuasaan inilah yang mempermudah seseorang ataupun golongan untuk mendapatkan dua ta yang sebelumnya yaitu Harta dan Wanita.

Iklim negara kita saat ini penuh 'intrik' mendekati musim perebutan kekuasaan. Pemilihan penguasa daerah -saya tak menyebut Kepala Daerah- menjadikan   sedikit dinamika yang menjurus saling adu intrik. Hoax dan peristiwa selalu dikaitkan dengan rutinitas lima tahunan tersebut. Para pemimpin itu menjalankan amanah rakyat banyak dengan standar penguasa bukan sebagai pengayom warga negara. 

Dalam setiap perebutan kekuasaan kita bisa mengambil pelajaran dari masa lampau bagaimana kekuasaan diperebutkan hingga melupakan sanak saudara bahkan tak jarang sampai menumpahkan darah. Kini, di zaman modern ini perebutan kekuasaan memang tak lagi berdarah darah seperti zaman baheula. Ada mesin mesin politik yang menjadi sarananya untuk mendapatkan kekuasaan itu. Dan meski baju sudah modern namun perilaku bisa dikatakan hampir tak jauh berbeda.

Kita sebagai negara yang berbhineka tunggal ika yang sudah banyak mengalami kerugian sejak zaman kolonial hanya karena kita berbeda dan dimanfaatkan oleh para penjajah dengan mengadu dombanya. 

Melihat gejala  ini ( Pilkada) tentunya saya berfikir apakah harus saling curiga dan membenci sehingga kita akan diketawakan oleh orang asing bagaimana kita begitu mudah di panas panasi untuk saling memusuhi keluarga sendiri hanya karena kita mabok kuasa. Pilkada serentak tahun menjadi tolok ukur kapasitas partai politik apakah mereka berorientasi sempit ataukah luas.

Kita bisa menilai niat baik sebuah partai dengan mengamati bagaimana tata cara mereka memperoleh kekuasaan itu. Kesantunan dan kejujuran haruslah menjadi standar para pemilih untuk menentukan siapa yang bisa mereka amanati sebuah kekuasaan untuk mengatur dan mengarahkan kehidupan sosialnya.

Isyu-isyu SARA sering mewarnai setiap event pemilihan kepala daerah terutama di daerah yang majemuk kondisi sosial budayanya. Harusnya, kita menyadari bahwa tujuan kita bernegara adalah hidup bersama, bahagia bersama, dan makmur bersama, tanpa ada yang mendominasi karena kita mempunyai konstitusi yang disepakati bersama.

Terlepas dari keinginan keinginan golongan, harusnya keinginan berkuasa jangan sampai menjadikan kita lupa diri meski berkuasa itu menyenangkan bagi yang rakus kekuasaan. Siapapun penguasa harusnya selalu waspada agar tidak tergelincir dalam godaan Harta dan Wanita.

Mari berpolitik yang meneduhkan negara bukan malah membuat rakyat bertanya tanya. Bukankah kedamaian membuat rakyat akan berfikir lebih tenang untuk menentukan pilihannya?

Tak perlu lagi saling curiga hanya karena ingin berkuasa karena saya meyakini bahwa niat tulus tidak akan dilakukan dengan jalan menjelek jelekan orang lain. Karena hanyalah si bodoh yang meyakini bahwa jalan tercepat memperoleh simpati adalah dengan jalan menjelek-jelekan orang lain. Raihlah kekuasaan dengan cara yang bijaksana jangan saling curiga supaya kekuasaan itu bisa menjadi berkah buat sesama. Terlebih lagi sekarang ini janganlah berpolitik dengan menciptakan keresahan di tengah masyarakat.

Di negara yang berbhineka tunggal ika ini marilah merajut perbedaan dengan lapang dada. Hentikan menebarkan kekacauan dan keresahan agar persatuan tetap terjaga. We can live with politic. Ayo, Kita Mampu!