Penulis
2 tahun lalu · 539 view · 2 menit baca · Budaya go-tik-swan-361x241.jpg
Kemahiran Go Tik Swan dalam menarikan Jawa Klasik. (Foto: brillio, dari buku “Jawa Sejati”)

Go Tik Swan, Tionghoa Berjiwa Jawa

Dalam lintasan sejarah Nusantara, etnis Tionghoa memiliki andil yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebelum abad kesepuluh, etnis Tionghoa telah meramaikan jagat perdagangan bumi pertiwi. Bahkan I Tsing, pendeta Budha dari negeri Tirai Bambu itu, juga berkesempatan menjejakkan kaki di tanah Sriwijaya.

Setelahnya, berangsur-angsur jejak sejarah yang baik telah ditorehkan oleh negeri berpenduduk besar itu. Di antaranya jalinan kerjasama antarnegara yang dipelopori  oleh Zheng He (Cheng Ho), hingga pertukaran misi kebudayaan berupa agama  dan akulturasi yang harmonis pada produk-produk budaya.

Sebut saja Warak Ngendhog di Semarang yang mengadaptasi liong, atau pembangunan Masjid Sekayu oleh dua Muslim Tionghoa yang hingga saat ini artefaknya masih bisa dijumpai di blandar-nya.

Pada abad kedelapan belas, pada peristiwa Geger Pacina 1740-1743 yang menguras energi, etnis Tionghoa muncul  di depan sebagai sang pemimpin. Kiprah tokoh-tokoh besar seperti Kapiten Sepanjang terus dikenang hingga hari ini. Memasuki abad keduapuluh, etnis Tionghoa kembali menoreh warna emas pada perjalanan sejarah  bangsa. Di Volkskunstvereeniging Sobokartti yang didirikan di awal 1900-an, etnis Tionghoa turut berperan di dalamnya.

Tertarik Sejak Belia

Go Tik Swan lahir di Desa Kratonan, Serengan, Surakarta, pada 11 Mei 1931. Dia lahir di tengah keluarga Tionghoa yang cukup disegani pada masa itu dan memiliki hubungan dekat dengan Keraton Solo. Ayahnya, seorang pengusaha batik bernama Go Ghiam Ik, merupakan cucu dari Luitenant der Chinezen dari Boyolali. Sedangkan ibunya, Tjan Ging Nio, cucu Luitenant der Chinezen dari Surakarta.

Kelekatannya dengan budaya Jawa mulai terlihat sejak belia. Go Tik Swan banyak belajar macapat, suluk dan antawacana dalam pedalangan, gendhing-gendhing, hingga aksara dan tarian Jawa. Kesemua ilmu itu diperolehnya dari para pembatik yang bekerja di pembatikan milik kakeknya, Tjan Khay Sing.

Tik Swan yang mendalami tari Jawa Klasik pada G.P.H. Prabuwinata, putra Pakubuwono IX, dan Pangeran Hamidjojo, putra Pakubowono X, menjadikannya sebagai penari terbaik gaya Surakarta dari kalangan Tionghoa. Kecintaan mendalam pada budaya Jawa mendorong Tik Swan untuk menempuh studi di jurusan Sastra Jawa, Fakultas Sastra  dan Filsafat, Universitas Indonesia.

Teguh Mempertahankan KeJawaan

 The Jakarta Post)
Batik Sawunggaling, salah satu karya Go Tik Swan. (Foto: The Jakarta Post)

Dalam perayaan Dies Natalis Universitas Indonesia di Istana Negara pada 1955, Tik Swan yang saat itu telah menggunakan nama Hardjonagoro, menampilkan kemahirannya dalam menarikan Tari Gambir Anom.  Presiden Soekarno yang turut hadir pun dibuat terpikat. Bagaimana  mungkin, seorang Tionghoa mampu membawakan tarian Jawa dengan sangat apiknya?

Presiden Soekarno yang pada akhirnya mengetahui jika keluarga Go Tik Swan merupakan pengusaha batik, menyarankan Tik Swan untuk menciptakan Batik Indonesia, batik yang tidak beridentitas lokal seperti batik Solo atau Pekalongan.

Go Tik Swan berhasil mengantarkan batik ke puncak kejayaan pada dekade 60-70an. Sekitar 200 motif batik Indonesia yang diciptakannya menjadi primadona wanita kelas atas pada masanya.

Tik Swan tutup usia pada 5 November 2008, di usianya yang ke-77 tahun. Pria yang pernah menjabat sebagai Dikrektur Museum Radyapustaka Surakarta itu berperan dalam pendirian paguyuban pecinta keris Bawarasa Tosan Aji (BTA) dan memprakarsai berdirinya Art Gallery Karaton Surakarta.

Penghargaan tertinggi yang diperolehnya antara lain gelar Panembahan Hardjonagoro dan Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Artikel Terkait