2 tahun lalu · 159 view · 8 min baca · Politik hh_0.jpg
Ibu Hj Irna Narulita SE MM ketika memberikan sambutan dalam rangka penyerahan secara simbolis bantuan alsintan oleh Kementerian Pertanian di Daerah Pemilihan (Dapil) Pandeglang (dok: pribadi)

Gnosis dan Pesona Perempuan dalam Khasanah Perpolitikan

Menjadi perempuan sungguh tidak mudah. Apalagi menjadi perempuan yang tidak biasa-biasa saja: para perempuan yang berdiri tegak di depan sebagai orang hebat! Menjadi perempuan adalah sesuatu yang membanggakan karena perempuan pun memiliki potensi untuk berprestasi sebagaimana kaum lelaki. Kaitannya dengan pendidikan sosial dan politik maka tema penting yang berkaitan dengan masalah politik diantaranya ialah partisipasi politik yang seharusnya tercipta melalui kepahaman dan kesadaran diri.

Saya pribadi pun berusaha keras menyadari dan memahami agar dapat berpartisipasi dan memberikan sedikit kontribusi dalam perpolitikan tanah air dengan menjadi bagian kecil dalam dinamisme politik parlemen. Berdasar pengalaman, dalam keseharian saya pernah berkesempatan bertugas mendampingi anggota dewan dalam rapat komisi dan alat kelengkapan dewan bersama mitra kerja; menyusun telaah, kajian dan analisis bagi anggota dewan terkait dengan isu yang berkembang di daerah pemilihan (Dapil) anggota dewan; menyusun telaah dan analisis berkaitan dengan fungsi dewan di bidang anggaran; menyiapkan bahan untuk keperluan kunjungan kerja (kunker) anggota dewan; mendampingi anggota dewan dalam melaksanakan kunjungan kerja ke dapil; membuat laporan hasil kunker; menghimpun aspirasi masyarakat untuk disampaikan kepada anggota dewan; mengikuti perkembangan isu strategis yang dapat mempengaruhi kinerja anggota dewan; memberikan masukan kepada anggota dewan; melaporkan hasil pelaksanaan tugas kepada anggota dewan secara berkala; mempelajari materi rapat dan hasil kesimpulan rapat dengan mitra komisi; serta membuat matriks isu terhangat.

Tenaga Ahli sejatinya bertugas mendukung kinerja dan performa seorang anggota dewan. Proses belajar terus dilakukan tanpa henti. Ibu Hj. Irna Narulita, SE, MM merupakan sosok luar biasa yang menjadi panutan dan membuka jalan bagi saya memahami seluk beluk perpolitikan tanah air. Beliau mengawali karir sebagai anggota Dewan DPR RI dan saat ini berhasil menduduki jabatan pimpinan kepala daerah sebagai Bupati Pandeglang.

Sepak terjangnya dalam dunia perpolitikan mengajarkan banyak hal. Pernah berkesempatan mendampingi beliau merupakan satu penghargaan tersendiri bagi saya. Beliau menjadi contoh nyata pengimplementasian partisipasi politik. Ibarat Srikandi yang cemerlang, beliau menjadi tokoh emansipasi bagi perempuan.

Dalam dunia perwayangan dan jagad pakeliran Jawa, Srikandi merupakan tokoh emansipasi perempuan yang tersohor berkat keberaniannya membela nusa dan bangsa. Hal yang patut diteladani dari seorang Srikandi yaitu sekalipun dirinya seorang perempuan namun bukan sekedar berperan sebagai kanca wingking yang selalu mengucapkan sendika dhawuh atas perintah suaminya.

Sebagai perempuan yang memiliki nyali besar dalam perjuangan, Srikandi selalu berada di garis depan dalam memimpin para perwira di medan laga. Hal ini dilakukan Srikandi dikarenakan bahwa setiap perempuan memiliki kesamaan hak dan kewajiban dengan kaum lelaki di dalam hal membela bangsa dan Negara. Keberaniannya di dalam membela bangsa dan Negara sampai titik darah penghabisan inilah yang layak diteladani oleh setiap perempuan.

Dengan meneladani laku hidup Srikandi maka dapat dipahami bahwa perempuan bukan sekedar sebagai abdi keluarga untuk anak-anak dan suami, namun pula dapat berperan sebagai abdi masyarakat, bangsa dan Negara. Namun tentu saja dalam melaksanakan tugas ganda tersebut, perempuan tidak boleh melupakan kewajibannya baik sebagai ibu rumah tangga dan turut berperan aktif dalam pendidikan anak-anaknya.

Memahami Srikandi melalui upaya menyerap ajaran luhur di balik kisahnya dan mengambil saripati ajaran yang tersirat di balik kisah perjalanan hidupnya. Srikandi mengajarkan kita tentang kearifan hidup, keteladanan dan pencerahan hidup. Srikandi memberi inspirasi dalam mencapai kesempurnaan diri dimana seorang perempuan harus mampu menjadi insan cerdas dan bijaksana serta selalu berjuang merealisasikan kesejahteraan keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara.

Srikandi memotivasi kaum perempuan untuk menjadi perempuan dambaan bagi suami dan anak-anak khususnya serta masyarakat pada umumnya. Perempuan yang peran dan keberadaannya akan serupa cahaya di tengah kegelapan.

Srikandi lainnya yaitu Margaret “Iron Lady” Thatcher. Apa keistimewaannya?

Beliau istimewa karena merupakan perempuan pertama dan satu-satunya yang pernah menjadi pemimpin partai politik (parpol) di Inggris. Semenjak 1959, beliau bergabung dalam parlemen. Tidak dapat dipungkiri bahwasanya Nyonya Thatcher kesulitan memikirkan cara yang lebih apik untuk mencitrakan diri sebagaimana yang dia inginkan yaitu wanita feminin tapi tangguh, sosok yang dihormati, pemimpin patriotik, pelindung bangsa dan nilai tradisionalnya.

Tapi, akhirnya Nyonya Thatcher justru naik kelas menjadi figur global dengan julukan khas – Wanita Besi. Ya, hanya ada satu kesempatan untuk perempuan, yaitu maju! Nyonya Thatcher membuktikannya dengan menjelma menjadi sosok pemimpin besar yang mampu mengubah Inggris Raya dan dunia pada abad ke-20. Nyonya Thatcher adalah perempuan pertama yang berhasil masuk ke parlemen bahkan dipercaya menduduki kursi perdana menteri hingga dua periode.

Selanjutnya, Aung San Suu Kyi, sang promotor demokrasi Burma (sekarang Myanmar) yang juga merupakan penerima Nobel perdamaian sebagai penghargaan atas perjuangannya mempromosikan demokrasi di negaranya tanpa menggunakan kekerasan dalam menentang kekuasaan rezim militer. Suu Kyi muda sering bertemu dengan kaum politisi dan pejabat pemerintah. Hal ini tentu saja sangat berguna baginya saat terjun dalam dunia politik. Selain sebagai mahasiswa, Suu Kyi juga pernah aktif sebagai relawan.

Suu Kyi memperoleh gelar dalam bidang filosofi, politik dan ekonomi. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Suu Kyi bekerja di PBB sebagai staf pilihan dalam kelompok kecil yang membantu memberikan pertimbangan bagi kegiatan dewan penasihat mengenai masalah administrasi dan anggaran. Suu Kyi diangkat sebagai ahli dalam masalah keuangan.

Suu Kyi melakukan aksi politiknya yang pertama dengan mengirimkan surat terbuka kepada pemerintah guna mempertanyakan susunan Komite Konsultatif Independen untuk Pemilu multi partai. Pada kondisi politik yang tengah memanas, Suu Kyi mendirikan National League for Democracy (NLD). Partai ini menekankan prinsip anti kekerasan yang kemudian menjadi garis partai NLD.

Suu Kyi menjabat sebagai Sekjen dari partai yang baru didirikannya dan melakukan perjalanan kampanye ke seluruh Myanmar guna memperkenalkan partainya. Dalam kampanyenya, Suu Kyi membangkitkan semangat orang-orang Myanmar yang selama bertahun-tahun tenggelam dalam rasa takut dan kemasabodohan. Usaha Suu Kyi pun berhasil mendapat simpati dari rakyat banyak.

Selain Suu Kyi, tokoh perempuan yang aktif berpartisipasi di politik ialah Maria Eva Duarte alias Evita Peron, sang pejuang bagi kaum miskin. Berbeda dengan Suu Kyi yang memperoleh gelar akademik di bidang politik, Evita dibesarkan tanpa bekal pendidikan formal dan koneksi. Evita memang tidak pernah secara resmi menjadi tokoh politik. Ia hanyalah seorang ibu Negara. Namun dirinya memiliki kekuasaan yang sangat berpengaruh dalam pemerintahan.

Evita membentuk cabang Partai Keadilan Khusus untuk kaum perempuan melalui yayasan yang didirikannya guna meningkatkan kekuatan politiknya. Partai ini merupakan partai perempuan pertama di negaranya. Pada masa inilah, wanita mendapatkan haknya untuk memilih.

Berawal dari sinilah maka Evita lantas menjadi salah satu tokoh yang paling berpengaruh di Argentina. Sehingga pada akhirnya Evita menjadi sosok yang dikultuskan. Evita adalah tokoh yang sangat kontroversial, meskipun hanya sekitar enam tahun berkiprah dalam politik Argentina, Evita merupakan perempuan paling berkuasa di negerinya dan perempuan paling berpengaruh di seluruh dunia.

Tokoh politik perempuan lainnya ialah Indira Gandhi, sang putri bertangan besi. Ia merupakan anak satu-satunya Jawaharlal Nehru, perdana menteri India yang pertama. Indira mengawali karirnya sebagai anggota Komite Kerja Kongres lalu menjadi Presiden Partai Kongres. Indira pun bertindak sebagai pembantu dan penasihat terdekat ayahnya dalam mengatur dan memerintah Negara. Karir politik Indira terus melejit hingga ia ditunjuk sebagai salah satu menteri dalam kabinet Perdana Menteri Lal Bahadur Shastri.

Hingga akhirnya Indira diangkat oleh Kelompok "Sindikat" yaitu sekelompok orang berusia lanjut yang menjalankan Partai Kongres untuk memimpin dan menggantikan perdana menteri sebelumnya. Indira dianggap sebagai aset penting untuk menarik massa.

Namun sayangnya isu gender kembali menjadi sandungan ketika Indira dianggap hanyalah seorang perempuan, maka ia tak diharapkan bisa berbicara lebih banyak dalam dunia politik yang umumnya dikuasai oleh kaum lelaki. Oleh karenanya Indira diharapkan hanya menjadi pemimpin yang pasif layaknya sebuah boneka. Selain itu, sebagai pemula di dunia politik, diharapkan ia akan bisa dengan mudahnya dimanipulasi. Tentu saja Indira tidak mau hanya menjadi boneka saja! Ia memutuskan hubungan dengan "Sindikat" dan melakukan pelbagai terobosan. Kekuatan politiknya sangat luar biasa.

Selain para tokoh politikus perempuan di barat, sebagaimana ulasan Fikih Politik Perempuan tentang peran perempuan dan politik di tengah kerumitan modernitas saat ini, maka pemahaman peran politik perempuan diawali dari penghargaan terhadap kaum perempuan yang tampak nyata pada realitas penerapan ajaran dan sejarah sejak generasi pertama. Agama terutamanya Islam jelas telah memberikan ketetapan mengenai kesamaan status kehambaan antara lelaki dan perempuan. Semisal para sahabiyat muslimah generasi pertama yaitu Ummu Ammarah yaitu mujahidah yang melindungi Nabi di perang uhud, Shaffiyah bint Abdul Muthalib yaitu muslimah pertama yang membunuh musyrik, dan sahabiyat lainnya.

Kaum perempuan muslimah di zaman kenabian mendapatkan tarbiyah langsung dari Rasulullah SAW shingga mereka bisa menjadi aktivis dakwah yang sangat kuat pengaruh kebaikannya. Mereka pun mendidik anak-anaknya agar mengerti politik guna memahami realitas kemungkaran disekitarnya dan menyemangati mereka untuk melawan kemungkaran tersebut.

Peran sosial dan politik perempuan kontemporer tentunya merupakan keterlibatan kaum perempuan dalam kegiatan sosial dan politik. Memahami peran perempuan di sektor publik pada masa lampau, sekarang dan yang akan datang tentu merupakan hal yang tidak kalah penting. Hal ini dikarenakan kondisi zaman yang dinamis dan terus berubah sehingga urusan perpolitikan pun menjadi semakin kompleks dan luas mencakup beragam bidang baru.

Terlepas dari itu semua, membudayakan kesadaran berpolitik di kalangan kaum perempuan merupakan keharusan. Usaha serius dalam menciptakan kultur merupakan hal penting, tentunya dengan tetap memperhatikan norma dan kaidah yang berlaku. Sehingga posisi terindah dan terhormat tetap dapat dimiliki para tokoh politikus perempuan.

Akhir kata, dalam upaya memahami peran ganda perempuan dan partisipasi politik yang dilakoninya, alangkah bijaknya merujuk pada “Gnosis” yaitu pengetahuan yang mengembang (yang jelas berbeda dengan pengetahuan yang menciut). Gnosis adalah hasil keterbukaan pikiran yang membiarkan objek studi berkembang seluas yang disanggupinya tanpa berusaha memberikan kungkungan dan batasan.

Gnosis merupakan pengetahuan hasil pembebasan dari pembebasan yaitu suatu pengetahuan eksistensial yang berbeda dari pengetahuan ilmiah. Gnosis mengundang setiap objek untuk mekar dengan implikasi pribadi, menjadi istimewa dan mengagumkan, tak terkecuali perempuan! #LombaEsaiPolitik

Sumber:

  • Achmad, SW. 2015. Pesona Wanita dalam Khasanah Pewayangan: Menyelami Jati Diri, Karakter dan Kehormatan Wanita Jawa. Araska Publisher
  • Al-Mishri, M. 2011. Sahabat – Wanita Rasulullah: Kisah Hidup Muslimah Generasi Pertama. Jakarta: Zaman
  • Moore, C. 2014. Margaret Thatcher: The Authorized Biography. Yogyakarta: Bentang
  • Putranto, D. 2002. Kontroversi Konsep Ratu Adil dan Satrio Piningit: Saya Percaya, Saya Dapat. Jakarta: Grasindo
  • Takariawan, C. 2003. Fikih Politik Perempuan. Solo: Era Intermedia
  • Widayanti, E. 2011. Wanita-wanita Penakluk Badai: Kisah Nyata Para Wanita Super Menakjubkan. Yogyakarta: Laksana

Cat: Penulis merupakan mahasiswa Pascasarjana IPB Bogor. Penulis pernah menjadi Tenaga Ahli Anggota Dewan DPR RI. Penulis juga permah terlibat kerjasama project dengan beberapa instansi pemerintah diantaranya Kementerian PUPR, Kementerian Perindustrian dan BPAD Provinsi DKI Jakarta. Penulis saat ini tergabung sebagai anggota dari Partai Perindo.

Artikel Terkait