Globalisasi yang sedang berlangsung saat ini menimbulkan berbagai macam fenomena mendunia. 

Bukan hanya hal-hal menguntungkan dan yang membantu kehidupan manusia (baca: membantu untuk mempermudah mencapai kriteria neo-liberalisme), tetapi juga memperkeruh kehidupan ekosistem.

Tidak bisa dipungkiri bahwa argumen teori kritis mengenai penyebab kerusakan lingkungan adalah Rasio Instrumental—yang adalah paradigma kapitalistis—mengandung kebenaran. 

Paradigma yang memandang alam sebagai alat bagi pemenuhan kebutuhan manusia tentu saja pada akhirnya bersifat destruktif mengingat kebutuhan manusia tidak akan pernah terpenuhi. 

Akan tetapi perlu ditelusuri apakah memang paradigma ini bersifat global mengingat permasalahan yang ingin diselesaikan adalah pertanggung-jawaban akan kerusakan alam.

“Sebaliknya, kita telah hidup dalam "sistem dunia" sejak awal époque yang disebut modernitas pada abad ke-16 ketika ekonomi kapitalis lahir dalam bentuk embrio di sebagian kecil dunia, Eropa.  

Dunia dengan demikian merupakan unit analisis yang lebih luas daripada negara. Sistem kapitalis secara bertahap berhasil, melalui proses internalnya, dalam memperluas dirinya ke totalitas dunia.  

Anda sebenarnya dapat melihat bahwa, sejak akhir abad ke-19, seluruh dunia telah diatur oleh sistem kapitalis ini, hingga hari ini.”

Mengutip perkataan Immanuel Wallerstein di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa ada sebuah sistem yang hidup dan menggelora sampai detik ini yang menjadi arus utama arah ekonomi dunia, yaitu kapitalisme. 

Bagi Wallerstein dalam pandangan “world-system” nya, dunia saat ini sudah merupakan bentukan dari sistem masif-universal yang didasari kapitalisme.

Sistem ekonomi yang akhirnya menjalar ke akar-akar budaya ini mendasarkan kebenarannya pada akumulasi kapital dalam dan menjadi komoditas-komoditas demi kepentingan pemegang modal. 

Wallerstein lebih jelas lagi menjabarkan bagaimana kapitalisme mengglobal dalam empat kategori daerah di dunia berdasarkan sistem yang “diupayakan” manusia (baca: penganut kebenaran kapitalisme neo-liberal) ke dalam pembagian kerja yang masif.

Pembagian kerja ini adalah dorongan dan relasi produksi dunia secara menyeluruh. Kategori tersebut adalah core, semi-periphery, periphery, dan external.

Secara singkat dan berurutan, yang pertama adalah daerah dengan kemampuan yang baik dalam mengatur pemerintahan dan memiliki teknologi yang paling maju,

Juga memiliki kelompok pedagang yang besar sehingga mampu mengubah suatu material mentah menjadi komoditas yang lebih mahal dengan kecepatan tinggi dan penyebaran yang masif.

Yang kedua merupakan negara-negara yang menjadi penyangga antara yang pertama dan yang ketiga (core dan periphery), 

Di mana, negara tersebut belum mampu memenangkan ekonomi dunia dan menciptakan produk berkualitas tinggi dan belum mampu mendominasi pertukaran nilai ekonomi dunia.

Negara-negara ini terlihat mengimpor material mentah dari negara-negara kategori ke-3 dan mendapat keuntungan besar lewat eksploitasi parah terhadap bangsanya sendiri dan negara kategori ke-3 akan tetapi tetap membayar lebih mahal untuk membeli barang berkualitas tinggi dari negara-negara kategori pertama.

Negara kateogori ke-3 merupakan negara dengan sistem pemerintahan yang tidak baik juga sering kali merupakan “sapi perah” negara kategori pertama. 

Pemimpinnya memanfaatkan sumber daya alamnya yang kaya untuk mempertahankan posisinya di mata dunia dan menarik kekuatan dari negara kategori pertama.

Dapat dilihat bahwa sistem-dunia yang mengakar dari relasi produksi seperti ini akan berpotensi (baca: ekonomi) menjalar menjadi sebuah keutuhan sebuah sistem politik, sosial, budaya. 

Bagaimana bisa demikian? Hal itu sangat dimungkinkan dikarenakan dalam masyarakat kategori dua dan tiga butuh bertahan hidup dengan satu-satunya cara yang ada melalui relasi dan dorongan sistem ekonomi itu.

Inilah (satu-satunya) sistem-dunia. Melalui pemikiran Wallestein, bisa disimpulkan bahwa setiap negara berperan dalam sistem-dunia yang dijabarkannya.

Kapitalisme akhirnya dilanggengkan dengan suatu paham mutakhir bernama neo-liberalisme. Dalam neo-liberalisme ada penekanan kuat pada privatisasi. 

Hak milik yang dulu diatur dalam suatu negara dengan memilih segelintir masyarakat saja yang dianggap berkompetensi dalam suatu sistem, saat ini telah menjadi lebih bebas.

Semua orang bisa mempunyai hak milik atas suatu aset dalam sistem pasar bebas. Sehingga, pemilik modal dengan leluasa mempertahankan posisinya dan menahan distribusi modal yang merata. 

Pemilik modal akhirnya mampu melakukan apa pun dalam kerangka pengumpulan keuntungan pada masyarakat luas.

Pada akhirnya, segala aspek kehidupan ada dalam kendali mereka, dan terjadilah upaya-upaya penciptaan kebutuhan dalam masyarakat. 

Praktik petanda-penanda pun gencar dilakukan demi mempertahankan modal para kapitalis dikarenakan adanya fenomena “berlebihan suplai” di masyarakat.

Praktik ini juga dilakukan dalam kerangka proyek pelanggengan sistem neo-liberalisme sehingga diamini masyarakat luas. 

Upaya tersebut sering kali ditunjukkan dengan “pameran” capaian para pemilik modal melalui suntikan pengetahuan mengenai “enaknya hidup sebagai dan dengan cara mereka”.

Manusia menghasrati sesuatu yang kurang dalam diri mereka yang bagi Lacan adalah memang hasrat terpendam tak sadar subjek. Subjek terstrukturisasi pun akhirnya ramai di dunia. 

Struktur sosial membentuk subjek dengan pengejaran terhadap apa yang disebut sebagai “yang lebih dari dirimu”.

Hal ini masuk akal karena dalam ranah penandaan, penanda selalu merupakan yang mengacu pada apa yang ditandai olehnya, dan oleh karena itu, maka penanda adalah sesuatu yang kekurangan petanda. 

Maka, hasrat pun demikian, hasrat adalah yang kurang akan apa yang dihasratinya, kurang akan kepuasaan.

Ini yang bagi Lacan adalah ketaksadaran dalam subjek. Tidak heran, maka, jika kita melihat kapitalisme begitu berjaya bersama paradigma neo-liberalisme.

Jika merunut dari pemikiran Immanuel Wallerstein di atas, maka sistem-dunia yang dimaksud mencakup keseluruhan penjuru bumi. Maka, global dalam pembahasan sistem kapitalisme adalah mencakup segala aspek kehidupan dan keseluruhan masyarakat dunia. 

Maka, bisa dikatakan adalah suatu kerusakan lingkungan sekalipun adalah bencana global ketika seluruh dunia mengamini dan mengambil bagian dalam proses pencemaran.

Permasalahan selanjutnya yang sering muncul adalah bahwa negara-negara di dunia terlihat tidak berkomitmen untuk memikul suatu bentuk tanggung jawab bersama dalam menyelesaikan masalah lingkungan. 

Yang sering terjadi adalah negara-negara ini sering kali melempar tanggung jawab pada segelintir negara-negara yang dinilai menjadi pencemar utama karena menjadi negara pengguna plastik terbesar (mis.).

Jika dirunut secara teliti, pembangunan budaya, tren, dan kebiasaan penggunaan plastik tidak lain adalah peran utama dari negara kategori pertama, 

di mana negara-negara tersebut adalah tempat pengolahan material mentah menjadi komoditas terbesar dan dikonsumsi di seluruh dunia.

Dan melalui praktik strukturalisnya, negara-negara kategori pertama ini mendorong terus menerus gaya hidup yang demikian (konsumtif).

Dalam kerangka mengatasi permasalahan tersebut maka dibutuhkan suatu panduan etis yang mampu menjawab persoalan pencemaran laut di seluruh dunia. 

Solusi paling memungkinkan adalah penerapan prinsip etika masa depan Hans Jonas. 

Etika masa depan Hans Jonas menekankan pada tanggung jawab penduduk bumi saat ini terhadap penghuni masa depan bumi, yang akhirnya etika masa depan Jonas juga dikenal dengan etika tanggung jawab.

Bagi Hans Jonas, yang terpenting dalam proses pengambilan suatu keputusan adalah dengan menimbang dan memperhitungkan situasi dan akibat apa yang akan dialami oleh penerus dunia di masa depan.

Alasan mengapa sistem ini adalah yang paling memungkinkan dikarenakan masyarakat dunia saat ini sudah mengalami efek dari sistem ekonomi yang tidak bertanggung jawab dan melihat sendiri akibatnya. 

Alasan selanjutnya adalah fakta bahwa manusia masih berkembang biak. Tidak masuk akal jika mengatakan bahwa etika masa depan tidak relevan karena para pelaku tidak akan mengalami efek dari kerusakan alam saat ini.

Konsekuensi logis dari reproduksi manusia adalah penyediaan tempat bagi keturunannya, dan dengan demikian, memperhitungkan ekosistem secara keseluruhan demi keseimbangan.