85253_73213.jpg
https://economicsociology.org/2014/12/06/neoliberalism-in-the-gobal-south-the-shift-in-development-strategies/
Ekonomi · 4 menit baca

Globalisasi dan Neoliberalisasi Perekonomian Global

Semenjak istilah globalisasi lahir, para ahli meyakini bahwa globalisasi merupakan sebuah gerbang yang dapat menghidupkan konsepsi liberalisasi yang seakan mati suri. Hal tersebut kemudian yang mendasari hadirnya paham bahwa globalisasi memiliki keterkaitan yang erat dengan bentuk baru dari liberalisasi yang lebih dikenal dengan neoliberalisme. 

Seberapa jauh pemahaman umum terhadap globalisasi yang didominasi oleh pemikiran neoliberalisme ekonomi dapat dilihat pada kapabilitas penerimaan massa terhadap beberapa klaim tentang globalisasi yang diajukan oleh kaum globalis (Steger, 2002). Klaim tersebut berkaitan dengan bagaimana mereka memahami globalisasi sebagai sebuah fenomena ekonomi politis yang dapat menggerakan dunia melalui pola-pola tertentu.

Klaim pertama, globalisasi dipandang sebagai suatu fenomena yang disebabkan oleh keberadaan neoliberalisasi ekonomi. Kegiatan ekonomi dianggap sebagai driving force, sebagai aspek utama yang menyebabkan terjadinya globalisasi (Steger, 2002). 

Dengan kata lain, kaum globalis beranggapan bahwa ekonomi merupakan aspek utama yang memicu terjadinya globalisasi. Kegiatan lainnya tidak akan dapat berjalan, bahkan tidak akan dapat tercipta tanpa adanya kegiatan ekonomi yang mendukung.

Selanjutnya, kaum globalis juga mengklaim bahwa globalisasi merupakan liberalisasi dan integrasi pasar global. Hal ini yang kemudian menjadi pemahaman umum terkait globalisasi menurut neoliberalisme ekonomi (Steger, 2002).

Neoliberalisme dipengaruhi oleh sistem tatanan dunia yang tertumpu pada kebebasan, terutama dalam bidang ekonomi. Dewasa ini, fokus utama pada perekonomian dunia yang merupakan manifestasi dari pernyataan tersebut adalah lahirnya bentuk siklus pasar bebas.

Klaim lainnya, yakni, menurut neoliberalisme, tidak ada badan ataupun institusi yang bertanggung jawab atas terjadinya globalisasi (Steger, 2002).

Kaum globalis mengklaim bahwa globalisasi merupakan suatu fenomena yang tidak dapat dihindari. Kaum neoliberal memiliki aturan dasar dalam meliberalisasikan alur perdagangan dan finance, di mana pasar dibiarkan untuk menentukan harga, mengakhiri inflasi, stabilitas ekonomi makro, privatisasi, dan pemerintah dilarang menghalangi hal tersebut (Chomsky, 1999).

Pemahaman kaum globalis terkait globalisasi yang menganut neoliberalisme ekonomi telah menjadi pandangan yang dominan bagi banyak negara di dunia (Steger, 2002). Hal tersebut disebabkan karena pemahaman kaum globalis menitikberatkan pada aspek ekonomi yang dinilai lebih empiris, logis, dan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Walaupun kaum antiglobalis telah menentang klaim yang dinyatakan oleh kaum globalis, namun kaum globalis juga telah mengklaim bahwa globalisasi yang terjadi sebagai konsekuensi dari neoliberalisme ekonomi juga akan menyebarkan paham demokrasi ke seluruh dunia (Steger, 2002). Pemahaman ini merupakan sekaligus agenda utama dari kaum liberalis, di mana mereka beranggapan bahwa pasar bebas akan mempermudah penyebaran demokrasi ke seluruh dunia.

Beberapa tokoh seperti Manfred B Steger dan Jan Nederveen Pieterse menekankan pentingnya paham ekonomi sebagai salah satu aspek yang membuka dan membentuk terjadinya globalisasi. Berkembangnya paham demokrasi pasar global juga menimbulkan suatu tujuan, yakni melalui globalisasi ekonomi, tercipta kesejahteraan bagi individu, keluarga, dan perusahaan secara maksimal.

Dengan berkembangnya paham neoliberalisme ekonomi sebagai landasan dasar dalam memandang globalisasi, dunia seakan digiring kepada suatu era integrasi yang berkiblat pada aspek ekonomi dan politis. Penetrasi logika pasar sebagai salah satu bentuk neoliberalisasi ekonomi telah menimbulkan kosekuensi yang lebih mendalam terhadap hubungan antara satu negara dengan negara lain.

Negara-negara maju seperti Amerika, Jerman, dan Jepang dianggap memiliki kuasa untuk menentukan rules of the game dari siklus perekonomian dunia, sedangkan negara-negara berkembang tidak memiliki pilihan lain selain ikut serta di dalam sistem tersebut (Sudarsono, 1990). Dengan dikuasainya sektor-sektor strategis dalam dinamika perekonomian global, negara berkembang tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti apa yang disebut sebagai “mekanisme harga”, yang telah ditentukan oleh negara-negara inti.

Hal ini berdampak pada pandangan bahwa integrasi yang timbul tidak selalu memiliki konteks yang positif karena pola dari hubungan tersebut masih belum jauh dari motif hegemoni. Namun perbedaannya hanya terletak pada kemasan yang dibuat berbeda dari sebelumnya (Juoro, 1990). 

Selain itu, pemahaman neoliberalisasi sebagai sebuah pondasi dalam mengkaji globalisasi juga telah menjadikan berbagai perkembangan teknologi dan informasi sebagai kosekuensi dari meluasnya pasar dan kebutuhan dan bukan sebagai mobilisator dari terciptanya perluasan tersebut (Juoro, 1990). Dengan demikian, dapat kita lihat bahwa pandangan neoliberalisasi ekonomi telah mengubah orientasi aspek-aspek kehidupan kepada motif-motif ekonomis semata.

Dari penjelasan tersebut, dapat kita simpulkan bahwa globalisasi memiliki kaitan yang sangat erat dengan dinamika perspektif ekonomi, khususnya dalam segi neoliberalisasi itu sendiri. Hal ini dianggap menginduksi suatu integrasi politis yang seakan berpusat pada suatu naungan ekonomi yang fondasinya dibangun berdasarkan keinginan negara-negara dengan kuasa lebih besar.

Di sisi lain, karakteristik globalisasi yang mengandung aktualisasi dari konsep kebebasan dan hal-hal yang terkesan tanpa batas telah menjadikan pasar global menelurkan sebuah pola interaksi yang mau tidak mau harus dituruti oleh negara-negara dunia ketiga yang notabene adalah negara berkembang. Dengan adanya kenyataan tersebut, aspek regulatif nasional dari masing-masing negara seakan kehilangan pengaruh kuat yang semestinya melekat pada setiap instrumennya. 

Pada akhirnya globalisasi dalam perspektif ini dianggap hanyalah sebagai sebuah kemasan interaksi pasar yang baru, dengan embel-embel perkembangan dan integrasi sebagai sebuah runtutan kejadian yang mengikutinya.

Referensi

  • Chomsky, Noam. 1999. Profit Over People. Neoloberalism and Global Order. New York: Seven Stories Press.
  • Pieterse, Jan Nederveen. 2004. “Neoliberal Globalization”, dalam Globalization or Empire. London: Routledge, pp. 1-15.
  • Steger, Manfred B. 2002. “Five Central Claims of Globalism”, dalam Globalism: the New Market Ideology. Oxford: Rowman & Littlefield Publisher, Inc., pp. 1-79.
  • Sudarsono, Juwono. 1990. “Globalisasi Ekonomi dan Demokrasi Indonesia” Tulisan dari Seminar Deregulasi dan Debirokratisasi Kebijakan, Implementasi dan Partisipasi Dunia Usaha dalam Menunjang Demokratisasi Ekonomi. Jakarta: IKJIA FISIP UI.
  • Juoro, Umar. 1990. “Persaingan Global dan Ekonomi Indonesia Dekade 1990-an” dalam Prisma, Vol. 8. Jakarta: PT. LP3ES Indonesia.