Penulis
2 tahun lalu · 459 view · 4 menit baca · Ekonomi bankduniaew7.jpg

Globalisasi dan Neo-Liberalisme

Argumen dalam mendukung tesis “globalisasi” tidak berdiri di atas sekuritas, mengapa konsep ini telah menjadi begitu terkenal? Hirts dan Thompson menawarkan penjelasan berikut:

“Retorika politik baru ini adalah didasarkan pada liberalisme yang anti-politik. Membuat bebas dari politik, ekonomi global baru ini membiarkan perusahaan-perusahaan dan pasar-pasar mengalokasikan faktor-faktor produksinya sampai ke tingkat tertingginya, dan tanpa distorsi oleh intervensi negara.

Perdagangan bebas, perusahaan-perusahaan transnasional dan pasar modal dunia telah membebaskan bisnis dari kekuasaan politik, dan mampu menyediakan konsumen di dunia ini dengan barang-barang termurah dan produsen-produsen yang paling efisien.

Globalisasi menyadari yang cita-cita kaum liberal mengenai perdagangan bebas pada pertengahan abad ke-19 seperti Cobden dan Bright: ialah, dunia yang telah di-demiliterisasi dimana aktivitas bisnis adalah yang primer dan kekuasaan politik tidak punya peran lain selain perlindungan sistem perdagangan bebas dunia.”

“Bagi kaum kanan di negara-negara industri maju rethorika mengenai globalisasi adalah merupakan sebuah takdir. Ia memberikan kesempatan untuk melanjutkan kehidupan setelah kegagalan yang bersifat menghancurkan dalam hal eksperimen kebijakan moneter dan individualisme yang radikal pada tahun 1980-an.

Hak-hak buruh dan kesejahteraan sosial dan praktek-praktek semacamnya di era manajemen ekonomi nasional akan menyebabkan masyarakat Barat menjadi tidak kompetitif dalam hal hubungannya dengan negara-negara yang baru saja mengalami proses industrialisasi di Asia dan karenanya harus dikurangi secara dramatis.”

Retorika mengenai “globalisasi” diperlukan untuk memberikan legitimasi ideologis bagi usaha meneruskan kebijakan-kebijakan ekonomi neo-liberal setelah mereka gagal memenuhi janji-janji alami mereka mengenai pertumbuhan ekonomi yang dipertahankan dan peningkatan standar hidup. Ini tentu saja tidak kebetulan bahwa retorika “globalisasi” menjadi trend diantara para komentator ekonomi, sosial dan politik borjuis yang dimulai semenjak resesi kapitalis interna sional pada tahun 1990-1993.

Setelah resesi tahun 1980-1982, ada peningkatan dalam semua negara-negera ekonomi kapitalis maju. Resep neo-liberal nampak sudah jalan. Penerimaan oleh publik terhadap resep ini adalah yang paling luas karena crash pasar modal pada tahun 1987 tidak segera menghasilkan resesi harapan-harapan setiap orang. Perekonomian negara-negara kapitalis maju terus tumbuh dan pengangguran sedikit menurun.

Tetapi lalu pada resesi 1990-1993 yang menyebabkab dampak yang lebih luas dari pada resesi yang terjadi pada 1974-1975 atau 1980-1982. Pengangguran meningkat tajam, mencapai tingkat rata-rata resmi 8% di seluruh negara-negara imperialis. Perbaikan mulai lagi dengan dinamisme besar-besaran pada tahuh 1994, tetapi dalam 18 bulan ia kembali menguap. Pada periode tersebut semenjak akhir dari resesi, pengangguran di seluruh negara-negara imperialis hanya menurun menjadi 7.8% menurut laporan resmi.

Argumen lama kebijakan ekonomi neo-liberal telah kehilangan kredibilitasnya. Gantinya, argumen baru yang sedang dicari-cari untuk meligitimasi kebijakan ini: jika kita, kamu buruh di negara-negara industri maju, tidak menerima potongan lebih besar lagi dari gaji kita, kondisi kerja, hak-hak kesejahteraan sosial,dan pembayaran lebih banyak lagi bagi tunjangan kesehatan individu, tunjangan pendidikan dan tunjangan pensiun, maka negara “kita” akan menjadi tidak kompetitif di mata “kekuatan-kekuatan yang secara bergerak global” yang dimiliki bisnis-bisnis besar sekarang ini, dimana lalu akan memindahkan investasi ke negara-negara yang upah buruhnya lebih murah diantara “negara-negara industrial baru” (NICs).

Pada tahun 1980-an, kemandegan ekonomi neo-liberal dijustifikasi dengan klaim bahwa pengorbanan kecil saat ini akan menghasilkan lapangan kerja baru dan kesejahteraan di masa depan.

Pada tahun 1990an, di saat sangat jelas sekali bahwa tingkat pengangguran yang tinggi tersebut merupakan sebuah masa depan kehidupan yang permanen di dalam ekonomi “pasar bebas”, kita didongengi bahwa jika kita tetap tidak terima dengan pemotongan dan penghematan anggaran, maka perekonomian kita akan jauh lebih buruk di masa depan.

Di dalam pasar global yang semakin kompetitif, siapa yang tidak bekerja lebih “keras” dan menerima pendapatan mereka berkurang akan mendapati diri mereka tidak punya pekerjaan sama sekali.

Neo-liberalisme dan Kemandegan Ekonomi Kapitalis

Tentu saja, kaum kapitalis si penguasa negara-negara imperialis tidak punya komitmen untuk mengimplementasikan kebijakan-kebijakan ekonomi neo-liberal karena mereka telah terangsang oleh mitos “globalisasi”. Kebijakan ini klop dengan prioritas perjuangan klas dari kelas penguasa.

Selama masa-masa gelombang ekspansi panjang dari akhir 1940-an, dibawah kondisi akumulasi modal yang cepat, dan ada kemunduran mendasar dalam hubungan internasional kekuatan-kekuatan pada biaya-biaya penguasa imperialis (yakni, peningkatan kekuasaan kapitalis di Eropa Timur dan Cina, munculnya perjuangan anti-kolonial, tumbuhnya sentimen pro-komunis di antara pekerja di Eropa Barat dan Jepang), prioritas dari kelas kapitalis di negara-negara imperialis adalah membeli perdamaian sosial di negaranya dan mendukung kebijakan luar negeri imperialis melalui reformasi sosial, diantaranya adalah penyediaan lapangan kerja yang relatif penuh dan kebijaan-kebijakan pengamanan sosial memainkan peran kunci.

Ekspansi ekonomi sendiri menciptakan kondisi material dimana, sedikit-banyak, sistem mampu menyediakan barang-barang. Dalam framework pertumbuhan ekonomi jangka panjang di atas rata-rata (bagi kapitalisme monopoli), kebijakan Keynesian mengenai jaminan full-employment selama siklus menurun melalui merangsang ekonomi melalui peningkatan daya beli massa, walaupun ia menyebabkan sedikit inflasi, tapi tidak akan mengancam laba kapitalis.

Kelas kapitalis yang paling ideologis berkesadaran kelas cukup terbuka untuk hal ini. Dus, Pennant Rhea, mantan editor mingguan bisnis Ingris The Economist, menyatakan bahwa sistem kesejahteraan paska-perang merupakan “impor dari Marxisme” yang dipaksakan terhadap orang-orang kaya melalui perang dingin.

Menjelang akhir 1970an, ternyata, menjadi jelas bagi penguasa imperialis bahwa gelombang panjang ekspansi telah memberi jalan bagi gelombang panjang depresi, dan itu tidak lagi memungkinkan untuk menjamin full employment, untuk menjaga keamanan sosial dan menjamin adanya keuntungan jika peningkatan yang lambat dalam income riil bagi pembayar upah tanpa mengancam keuntungan kapitalis.

Pada poin tersebut dorongan untuk merestorasi tingkat keuntungan melalui peningkatan tingkat penghisapan terhadap kelas pekerja menjadi prioritas utama penguasa imperialis.

Anti-Keneysian kontra-revolusi” neo-liberal dalam bidang ilmu ekonomi dan sosial borjuis bukan apa-apa kecuali hanyalah sebuah ekspresi ideologis atas prioritas yang berubah ini.

Tanpa adanya restorasi jangka panjang dari pengangguran struktural yang kronis ( yakni pengangguran permanen bagi buruh dan tenaga kerja underemployed untuk memaksakan “disiplin” bagi buruh yang masih punya pekerjaan), tanpa restorasi terhadap “ rasa pertanggung jawaban individual dan terhadap keluarga” atas kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan (yakni tanpa beberapa potongan bagi keamanan sosial dan komponen-komponen lain porsi upah yang disosialkan), dan tanpa kemandegan ekonomi yang di-generalkan (yakni, penurunan pendapatan riil bagi kelas penerima upah), tak mungkin bisa ada restorasi atas tingkat laba didalam lahan investasi yang produktif.

Artikel Terkait