Cara mengumpulkan massa dari waktu ke waktu mengalami perubahan. Pada zaman dahulu, orang melakukannya dengan memukul kentongan atau berteriak “kebakaran!”. Maka, masyarakat berduyun-duyun datang ke sumber suara. Kini, seseorang cukup menempatkan kata sakti ‘giveaway’ di media sosialnya. Voila, maka ribuan orang akan datang.

Giveaway sendiri berarti pemberian hadiah secara cuma-cuma yang biasanya disertai syarat-syarat tertentu. Syaratnya dapat berupa mengikuti akun, menyukai konten, retweet, membalas unggahan, dan atau menulis alasan disertai dengan mencantumkan minimal tiga akun lain di dalam komentar. 

Syarat yang mudah dan murah untuk dilakukan tersebut membuat rantai persebaran giveaway cenderung eksponensial. Apabila seorang yang mengikuti giveaway memiliki jumlah pengikut 500 dan teman yang diajaknya pun demikian, bayangkan berapa banyak konten giveaway tersebut telah terlihat. Menjanjikan sekali bukan?

Motif pemberi giveaway pun bermacam-macam, namun kebanyakan sih untuk menambah jumlah pengikut dan menambah popularitas secara cepat di media sosial. Cita-cita menjadi 'selebgram' mungkin telah memberinya motivasi melakukan itu. Sayangnya, tidak semua pemberi giveaway bertanggung jawab akan sayembara yang dilakukannya. 

Aku pun pernah kena tipu dengan trik murahan macam ini. Hingga kini, siapa  saja pemenangnya aku tidak tahu. Tidak pernah ada pengumuman, bahkan mungkin sebagian sudah melupakannya. Bagi yang masih ingat, sudah pasti ada yang menghujani kolom komentar akunnya dengan cacian, menagih apa yang seharusnya dijanjikan. Sayangnya pemilik akun bergeming. Untungnya tidak sampai kepada aksi demonstrasi.

Setelah targetnya tercapai, pemilik akun terkadang menghapus unggahan giveaway tersebut. Menurut salah satu pengakuan yang kutemui di media Kompas.com, saat akun itu telah mendapatkan banyak pengikut, kemudian akun tersebut digunakan untuk hal lainnya. Seperti, dijual, dijadikan akun buzzer, promosi akun lain, jualan produk, dan sebagainya.

Trik bisnis seperti ini rupanya lazim digunakan karena menjanjikan kecepatan dalam meraih perhatian warganet. Mbok ya, jangan menipu juga kali. Memang sih tidak ada kerugian secara materil, tapi rasa kecewa dari yang kena tipu akan mengancam citra bisnis yang sedang dibangun. 

Tapi kenapa sih acara semacam ini laris di media sosial?

Iming-iming hadiah besar dan mahal membuat masyarakat kehilangan nalarnya. Mereka tidak segan ‘mengemis’ kepada sang pemberi giveaway. Seringkali faktor ekonomi yang belum memadai membuat seseorang tertarik mengikuti iseng-iseng berhadiah iniApalagi syarat yang harus dilakukan cenderung mudah dan bahkan dapat dilakukan dengan satu tangan, sementara tangan yang lainnya mengupil.

Faktor instant gratification pada manusia yang menginginkan segala sesuatunya sesegera mungkin. Contoh paling mudahnya adalah berapa banyak dari kita yang menginginkan tubuh sehat dan ideal, tetapi memiliki kebiasaan hanya rebahan sepanjang hari, jarang berolahraga. Semua olahraganya jangan-jangan terjadi di dalam lamunan saja.

Seolah dengan satu petikkan jari, semua keinginannya akan terkabul. Boleh saja berkhayal, bagus kok untuk meningkatkan daya imajinasi kalian. Namun, jangan sampai terlarut dalam 'limbo' tersebut.

Keadaan di atas diperburuk dengan smartphone culture yang menjangkiti milenial. Paparan media sosial yang berlebihan membuat waktu produktif habis digunakan untuk menjelajahi kehidupan siber. Terkadang, manusia cenderung asyik memperindah citra digital dibanding dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat di dunia nyata.

Apalagi dengan tersedianya ratusan gim daring yang dapat dipasang di smartphone. Habis sudah jatah waktu kalian selama sehari. Mata merah, perut kosong, jari panas, ditambah otak mumet karena kalah terus dari teman. Tidak heran kini anak-anak yang sedari dini kenal gawai tempramennya tidak terkontrol.

Gawai pun kian mempertebal kebiasaan instant reward dengan mempermudah cara hidup kita hanya dengan seketikan jari. Mau belanja? Tinggal klik. Mau buat makanan? Tinggal pencet. Mau cari informasi? Tingga scroll. Kebiasaan ini lah yang membuat manusia terbiasa dengan kepuasan instan yang diberikan oleh teknologi. Secara emosional pun milenial yang gemar menghabiskan waktunya di dunia maya cenderung lebih cepat marah, jika apa yang diinginkannya tidak cepat terealisasi.

Semakin buruk lagi, kecenderungan dalam meraih ‘kepuasan instan’ ini lebih berpatokan kepada hasil akhir. Mereka tidak betah dengan proses yang lama dan penuh perjuangan, lelah. Keinginan untuk cepat kaya mematikan nalar untuk berproses secara sehat dalam mengejarnya. Mereka lupa bahwa di balik orang-orang kaya di luar sana, ada kegigihan dan perjuangan, bukan pesugihan dan rebahan. 

Namun, aku tidak menjustifikasi kaum rebahan seburuk itu. Faktanya, rebahan kini diperlukan untuk menghentikan penyebaran virus Sars-Cov-2. Tetapi, rebahan pun harus tetap produktif ya.

Intinya, giveaway memang banyak digunakan untuk sarana mempromosikan produk atau jasa miliknya. Namun, di balik itu semua pola pikir kaum yang hanya mengandalkan giveaway tanpa usaha secara riil perlu dicermati baik-baik. Jangan sampai pola pikir kepuasan instan membunuh produktivitas.

Referensi:

Kenapa Mentalitas Instan Ingin Cepat Kaya dan Sukses Makin Merebak?

The Culture Of Impatience And Instant Gratification