Isu pendidikan seks sebenarnya bukan isu yang baru dikalangan pesantren. Para kiai, ustadz-ustadzah, dan guru kita telah mengajarkan materi pendidikan seks berdasarkan jenjang kelas. Semakin tinggi jenjang santri tersebut, semakin tinggi juga materi ‘fikih seks’ yang diajarkan. Jika pada tingkat awaliyah (dasar), maka bahasannya pun masih sangat singkat, hanya menyebutkan persoalan ­aqil balig (menstruasi bagi perempuan dan mimpi basah bagi laki-laki).

Beda halnya dengan para santri yang sudah memasuki jenjang wusto dan ulya. Pembahasan fikih seks lebih detail, bahkan sebagai santri bahasan tentang haid perempuan pun dibahas secara tuntas. Mengapa para santri harus belajar tuntas tentang haid? Para kiai kita dengan singkat menjawab  ‘istrimu nanti harus dibimbing, nak’.

Jika kita mengikuti definisi pendidikan seksual yang diajukan oleh beberapa pakar, misalnya definisi yang ditawarkan oleh Dr. A. Nasih Ulwan bahwa Pendidikan seks adalah upaya pengajaran penyadaran dan penerangan tentang masalah-masalah seks yang diberikan kepada anak agar ia mengerti masalah-masalah yang berkenaan dengan seks, naluri, dan perkawinan, sehingga jika anak telah dewasa dan dapat memahami unsur-unsur kehidupan ia telah mengetahui masalah-masalah yang dihalalkan dan diharamkan bahkan mampu menerap kan tingkah laku islami sebagai akhlaq, kebiasaan, dan tidak mengikuti syahwat maupun cara-cara hedonistik.  Maka para santri sebenarnya sudah disiapkan untuk tujuan itu.

Bagi santri di tingkat yang lebih tinggi tadi, ‘fikih seks’ diajarkan melalui metode baca kitab dari awal pembahasan sampai akhir, biasanya buku ajar (kitab) yang dibaca tersebut adalah kitab i‘anat al-thalibin karya Sayyid Abu Bakar Muhammad Syatha ad-Dimyathi.

Pembahasan dalam buku ajar (i‘anah) tersebut sangat menarik, setiap mata pelajaran fikih yang sudah masuk pada materi ‘fikih seks’, entah mengapa ada semacam asupan ‘kafein’ bagi para santri untuk mendengarkan pembahasan ini. Saking semangatnya, rasa ngantuk ketika belajar pun hilang seketika.

Bahasan ‘fikih seks’nya pun sangat terstruktur dan sistematis, mulai dari ‘bab thaharah’ yang menjelaskan tentang metode-metode yang berhubungan dengan kebersihan badan, termasuk membersihkan diri ketika mimpi basah, menstruasi, definisi tentang air mani, dan hal-hal yang menyebabkan keluar air mani dibahas secara detail. Ini bahasan standar bagi santri pemula.

Bagi santri kelas atas, pembahasan ‘fikih seks’ lebih luas lagi. Mulai pembahasan tentang pernikahan sebagai metode terbaik untuk menjaga diri dari seks bebas, etika ketika berhubungan seks ketika sudah menikah, sunnah-sunnah apa saja yang harus dilakukan ketika berhubungan seks.

Menariknya lagi, metode kiai kita di pesantren dalam mengajarkan ‘fikih seks’ hanya ceramah saja, membaca teks kitab itu seperlunya, lantas kemudian menjelaskan substansi isi teks kitab itu. Bagi kiai tersebut, tidak ada kata malu, atau tabu untuk menjelaskan secara lebih rinci dengan bahasa yang apa adanya, namun tetap dalam koridor sopan. Inilah metode yang menarik dari para kiai kita ketika mengajar tersebut.

Metode pengajaran dalam pendidikan seks memang sangat penting daripada substansinya. Agar tidak terkesan tabu, diperlukan pendekatan yang bijak bagi peserta didik untuk menerima materi ‘fikih seks’. Sebab masih ada sebagian peserta didik kita yang masih sungkan, dan tertutup ketika membahas materi pendidikan seksual.

Dalam kasus ini, ada satu ungkapan yang sangat mengesankan dari Mahmud Yunus dalam bukunya al-tarbiyah wa al-ta‘lim, “al-thariqah ahammu min al-maddah”, artinya metodologi itu sering lebih penting daripada materi atau bahan ajar.

Seorang guru, dalam hal ini-pendidik seks- yang mempunyai pengusaan metodologi yang baik, sekalipun bahannya kurang, pasti akan lebih mampu mentransfer pengetahuan lebih efektik daripada seorang guru yang yang menguasai begitu banyak bahan/materi tetapi tidak tahu metodologi. Demikian pula, sebuah negara jauh lebih terjamin mencapai kekuatannya dalam berbagai bidang jika SDM-nya unggul meskipun SDA (Sumber Daya Alam)-nya kurang. Kasus Jepang, Korea Selatan dapat dijadikan contoh.

Sumber Daya Manusia bangsa Indonesia harus lebih ditingkatkan lagi, termasuk salah satunya membangun jalan pikiran yang sehat melalui pendidikan seks. Selama ini, kasus-kasus kekerasan seksual yang menimpa perempuan-perempuan kita disebabkan menurunnya mental dan rusaknya ‘jalan pikiran’ para lelaki tentang seks.

Pemerintah dalam hal ini mungkin terlalu sibuk dengan proyek pembangunan jalan-jalan di berbagai daerah, namun lupa terhadap proyek pembangunan ‘jalan pikiran’ yang sehat bagi masyarakatnya. Dimana Revolusi Mental itu pak Presiden? Sebuah renungan yang patut diperhatikan semua kalangan dalam momentum dua tahun kepemimpinan Jokowi-Kalla.

Terakhir, selamat hari santri. Setidaknya dalam hidup saya pernah merasakan dua pondok pesantren yang berbeda. Pertama di Pondok Pesantren Darussalam, Martapura, dan kedua Pondok Pesantren Ubudiyah, Bati-bati di Kalimantan Selatan.