Kurang lebih selama dua hari warganet dihebohkan oleh kemunculan sosok pesohor Aldi Taher. Lantaran hashtag nama Taher menjadi trending topic di Twitter, setidaknya pada 2 September 2020 #Taher mendapat 10,7 ribu tweet.

Informasinya seorang pesinetron dan politikus ini maju jadi calon Wagub Sulteng diusung oleh Partai Golongan Karya (Golkar) dan mendampingi calon Gubernur Rusli Baco Dg Palabi dari Partai Amanat Nasional (PAN) periode 2020-2025. Sebelumnya Aldi Taher bersama Syamsu Djalal ingin maju melalui jalur independen, tapi ia gagal karena tidak memenuhi persyaratan dukungan.

Meskipun gagal mencalonkan dari jalur independen, tidak kemudian menjadi alasan bagi seorang Aldi Taher untuk bersikap ciut nyali dan berhenti mengejar kariernya ke dunia politik. Sikap gigih perjuangan seorang politikus dan figur publik yang alim ini patut untuk dicontoh sekalipun ia gila rupa (GR) menjadi bahan bual-bualan publik.

Setidaknya ia telah mengamalkan sebagian adigium dari pepatah kuno Belanda “leiden is Leijden” memimpin adalah menderita, sekalipun penderitaan Aldi Taher berlaku pada saat perjuangan merebut kursi kekuasaan jelang Pilkada saja. Melalui pengakuannya, kemantapan Aldi Taher memilih melangkah ke dunia politik karena ingin berjuang untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.

Lagi-lagi siapa yang tidak terpesona dengan janji manis akan “menyejahterakan rakyat” yang meskipun sebenarnya perkataan tersebut menjadi istilah yang sudah biasa diobral oleh setiap elite politik pada momen-momen kampanye sesaat?

Berburu elektabilitas bermodalkan ngaji quran, lalu masalahnya apa?

Akhir-akhir ini, akrobat Aldi Taher dengan mendengungkan ayat-ayat suci Alquran secara tertatih-tatih itu menjadi perhatian publik. Tampaknya nama Aldi Taher naik daun jadi sorotan publik karena aktivitas jenakanya yang tiap waktu belajar mengaji.

Gimik kesalehan ala priyayi yang dilakukan oleh Aldi Taher tampaknya menjadi modal strategi politik, mengingat basis mayoritas agama dalam data sensus 2015 yang dilansir dari perubahan Wikipedia.org pada 27 Juli 2020, agama Islam menempati angka 76.37 persen dan agama paling minoritas adalah agama Buddha dengan angka 0,74 persen dari jumlah penduduk 3.222.241 jiwa.

Meskipun sebenanya aktivitas kesalehan tersebut sudah jauh-jauh hari sejak 2019 terpampang di akun Instagram pribadinya @alditaher.official, tapi yang menjadi pembeda akhir-akhir ini adalah gimik membaca Alquran dengan embel-embel logo dan baju partai.

Membaca Alquran dengan motif kepentingan subjektif boleh-boleh saja karena kita tidak layak untuk menghakimi halal dan haram soal itu, tapi yang menjadi soal adalah sekelas pemimpin calon wakil gubernur tidak mampu memberikan wacana isu strategis tentang kebangsaan, kenegaraan, dan keumatan.

Jika kita lihat dari banyak postingan public figure ini, yang ditampilkan adalah soal kehidupan dirinya dengan ciri khas agamis. Hal tersebut sangat memungkinkan terjadi menjamurnya politik identitas yang kian dilembagakan dalam sistem kultur politik kita saat ini.

Efek politik identitas memang menjadi persoalan, karena lagi-lagi mesin kepemimpinan akan potensi tersandera oleh kepentingan identitas kelompok mayoritas, baik secara langsung maupun tidak langsung, dan yang dirugikan dari kebijakan politik tentu adalah kelompok minor.

Jika kita belajar dari beberapa kasus yang terjadi karena faktor politik identitas, masyarakat kian terbelah dan terjadi praktik diskriminatif kepada kelompok minor. Tidak kalah penting dari pembahasan ini adalah soal keringnya wacana publik dari kandidat calon pemimpin wakil gubernur maupun calon gubernur di ajang Pilkada tahun ini.

Idealnya seorang elite politik, calon pemimpin dan/ataupun tokoh publik yang berkontestasi di negara demokratis, seyogianya mendengungkan isu-isu tentang kenegaraan yang mencerdaskan masyarakat. Seperti, Hak Asasi Manusia (HAM), Demokrasi, Anti-korupsi, Pembangunan Ekonomi dan Lingkungan Hidup yang berkelanjutan.

Gusur yang usang, lahirkan prespektif masyarakat berkarakter hero

Perkembangan pola masyarakat semestinya selalu dituntut untuk responsif dan kritis terhadap isu-isu struktual. Namun yang terjadi, elite politik kita masih gemar jualan politik agama, entah melalui postur gimik ala priyayi maupun memunculkan isu-isu ayat suci yang konservatif.

Masyarakat kita sudah masuk di sistem generasi baru yang didominasi oleh kaum milenial-generasi z. Di tengah kesadaran kelas, yang dibutuhkan oleh kaum muda saat ini adalah merevisi zaman, dalam artian bukan mengerdilkan eksistensi generasi tua yang sering dianggap mempunyai pemikiran lawas, tapi kaum muda harus menjadi hero yang mempunyai ciri khas skeptisme kepada segala bentuk wajah struktur politik yang merugikan kepentingan manusia.

Jika kita potret dari contoh gimik seorang pesohor Aldi Taher sebagai tokoh publik calon Wakil Gubernur tersebut, seolah-olah melembagakan sistim kesadaran magis yang sudah usang. Paulo Freire (1921-1997) menjelaskan jika kesadaran magis merupakan kesadaran yang menganggap manusia sebagai sesuatu yang tak terelakkan dari takdir, mitos, dan superior.

Mengajarkan seorang warga negara dengan kesadaran magis yang tidak terbukti secara ilmiah dan empiris ini tentu sudah tidak relevan bagi kebutuhan perkembangan zaman seperti saat ini. Masyarakat kita hari ini sudah saatnya diarahkan menjadi generasi hero yang kritis terhadap persoalan kebangsaan dan keumatan.

Paulo Freire menganggap kesadaran kritis sebagai kesadaran yang paling tinggi dalam arkeologi kesadaran manusia. Generasi berkarakter hero dalam kesadaran ini bertindak sebagai subjek serta mampu memahami realitas secara komprehensif, baik bersifat analitis maupun praksis.

Dengan segala gambaran ini, masyarakat Indonesia terkhusus generasi milenial-generasi z, yang kita lihat adalah jalan terjal masa depan perpolitikan Indonesia. Bukan sekadar suksesi elektoral dan saling gagah-gagahan main klaim kepercayaan dari rakyat karena menang dipilih melalui kotak suara.

Lebih dari itu, masyarakat diuji mengenai pilihan bertahan hidup di tiap fase peradaban: apakah ingin menuju kemajuan dan rasionalitas atau mempertahankan sistim politik yang sudah usang.