Wacana pengembangan Geopark “Jurassic Park” ala Indonesia di Taman Nasional Komodo dihantui oleh bencana ekologi dan sosial. Bagaimana tidak, habitat alami yang keberadaan hewan purba Komodo tersebut yang berupa wilayah konservasi untuk menjaga habitat aslinya akan segera disulap sebagai episentrum investasi super premium Labuhan Bajo.

Menurut Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KPUPR) dengan diperkuat dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bahwa upaya pembangunan Geoprak sebagai pengembangan wisata tidak akan mengganggu habitat Komodo. 

Saya pun heran mendengar klaim tersebut, apakah para menteri tersebut adalah para keluarga komodo yang secara pasti sudah memahami siklus hidup komodo? Lalu telah memastikan secara betul kenyamanan serta tingkat kesejahteraan para komodo?

Apakah klaim tersebut sudah dilakukan penelitian secara empiris dengan merasakan tinggal dan tidur bersama para komodo? Lantas mengapa pemerintah begitu sangat sok tahu dengan urusan kelestarian komodo yang sebenarnya adalah persoalan intim bagi Komodo? 

Bukannya itu tidak ada bedanya dengan bagaimana upaya kita menanyakan kepada pasangan pengantin baru tentang berapa rencana anak yang akan diinginkan nanti? Lalu berapa kali indehoi pasangan pengantin baru dalam satu hari? Dan gaya seperti apa indehoi yang akan dijalani dalam bahtera rumah tangga ke depan?

Pemberitaan terkait isu Pulau Komodo mengingatkan saya terkait buku karya Yuval Noah Harari berjudul Sapiens, Riwayat Umat Manusia. Di mana kutipan dalam penutup buku tersebut menuturkan bahwa manusia (sapiens) adalah “Hewan yang Menjadi Tuhan”.

Mengapa ia menuturkan hal tersebut? Bahwa sejak dulu nenek moyang kita memang memiliki hawa nafsu yang tinggi dan tidak pernah merasa puas. Ditunjukkan dengan kebiasaan melakukan ekploitasi dengan invansi-invasi dengan bersama melakukan penelitian, dan penaklukan wilayah baru yang mereka lakukan sejak dulu.

Lantas apa hubunganya dengan kebijakan pemerintah?

Pemerintah berpandangan bahwa dengan dibangunnya destinasi wisata akan meningkatkan pendapatan masyarakat, tidak akan menganggu keberlangsungan komodo, namun sudahkah pemerintah bertanya kepada komodo sendiri? Apakah mereka memerlukan, mulai dari jalan aspal, pusat informasi, sentra souvenir, kawasan selfi spot, klinik, ruang terbuka publik, penginapan bagi peneliti?

Tentu tidak. Para Komodo ini hanya butuh tempat yang damai, habitat yang asri, sabana yang masih hijau, dan tempat indehoi yang nyaman tanpa merasa risih atas dari kehadiran manusia.

Hingga hari ini, kelestarian Taman Nasional Komodo telah menghidupi usaha-usaha wisata di Labuhan Bajo. Mulai dari 80 hotel, 59 biro perjalanan wisata, 16 agensi perjalanan, 100 pemandu wisata, 7 informasi pariwisata, 400-an kapal wisata, dan ratusan jasa angkutan travel wisata. Kelestarian alam komodo sebanarnya menjadi kunci di balik terus meningkatnya kunjungan wisatawan ke Labuhan Bajo beberapa tahun ini.

Oleh karena itu, penulis akhirnya mengumpulkan dan meramu berbagai imbas terkait apabila wacana pembangunan Geopark di Taman Nasional Komodo terus dilakukan:

Demonstrasi Bersama Aliansi Komodo Se-Indonesia

Pasti pemerintah sudah terbiasa untuk menghadapi demonstran mahasiswa atau buruh. Lantas bagaimana apabila komodo ikut-ikutan demo di depan Istana Negara?

Kalau mahasiswa atau buruh mungkin ditembak dengan gas air mata sudah kocar kacir, tapi bagaimana dengan komodo? Komodo memiliki liur yang dapat menyebabkan infeksi yang ditimbulkan bakteri dan racun. Infeksi tersebut dapat membunuh korbanya dalam waktu beberapa hari saja. Kalau sudah para komodo ini marah, dan beraksi secara brutal seperti di film Jurassic Park, pemerintah mau berbuat apa?

Tidak Semua Para Wisatawan Suka dengan Modernitas

Tidak semua orang tertartik kepada modernitas. Banyak orang yang justru lebih suka terhadap unsur alami pedesaan. Sama halnya dengan Taman Nasional Komodo, justru ciri khas alaminya menjadi pesonan dan daya tarik. 

Maka dari itu, tidak heran apabila turis banyak datang dari negara-negara modern ingin merasakan budaya dan iklim yang masih alami di banyak destinasi di Indonesia. Sensasi yang dirasakan seperti berada di alam liar dan bertemu dengan para Komodo yang hidup secara alami.

Mengganggu Kelestarian dan Urusan Perkembangbiakan  Komodo

Komodo adalah hewan yang melakukan perkembangbiakan yang disebut dalam bahasa biologinya dengan ovipar atau dengan cara bertelur. Jumlah telur yang dihasilkan 15 sampai 30 telur, dengan masa inkubasi sekitar 8-9 bulan. 

Jadi wilayah pulau ini adalah habitat asli dari hewan purbakala ini, jangan sampai di kemudian hari pulau ini justru berubah menjadi Pulau “Mang Dodo” karena lebih banyak populasi manusia daripada para Komodo, terlebih lagi dengan aktivitas pariwisata yang menurut saya mengganggu kemesraan rumah tangga komodo. Imbasnya, komodo stres dan populasi mereka akan makin menurun. Bukan tidak mungkin justru akan punah dari muka bumi.

Untuk itu, sebaiknya pemerintah berhenti untuk menjadi manusia yang serba tahu, dan mengantisipasi sebelum bencana sosial dan ekologis menimpa kawasan Taman Nasional Komodo. Karena perihal kelestarian adalah urusan para komodo tersendiri, percayakan kepada kepala keluarga masing-masing para komodo.

Tidak sopan memang apabila memperlakukan komodo sebagai dampak dari pembangunan wisata di Labuhan Bajo. Karena selayaknya manusia ia juga ingin hidup dengan nyaman. Terlebih lagi bahwa Komodo telah ada 40 juta tahun yang lalu di planet ini. Sedangkan Indonesia saja baru berdiri tahun 1945, sehingga sangat tidak sopan apabila kita mengusik habitat si Komodo, alangkah baiknya kita menjadikan Komodo menjadi teman baik kita.