Dunia maya kembali dihebohkan dengan adanya sebutan "Gilang Bungkus". Mengapa demikian? Siapakah Gilang itu? Namanya akhir-akhir ini viral di media sosial , terutama di Twitter menjadi trending topic utama. 

Gilang? Gilang artiskah? Yang dikenal dengan seorang presenter, komedian atau aktor yang multitalenta itu? Ia, Gilang Dirga sempat memposting dan bertanya-bertanya mengenai namanya yang disangkutpautkan dengan kata "Bungkus" seperti postingannya, yaitu "Ada Apa dengan namaku 'Gilang Bungkus'". Tetapi bukan dirinya, postingan itu hanya untuk sebagai suatu bentuk meme semata yang tidak mempunyai unsur lain

Ternyata Gilang yang dimaksud dalam hal ini merupakan salah satu mahasiswa yang sedang menjalani pendidikan terakhirnya di salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Ia viral karena aksinya yang membuat sebagian orang merasa dirugikan. Ia dituding karena telah melakukan suatu tindakan penyimpangan seksual yang berkedok riset.

Gilang viral di media sosial karena sosoknya yang disebut dalam akun pribadi milik salah satu lawan bicaranya @m_fikris. Dalam akunnya ia mengatakan bahwa "Gilang meminta agar @m_fikris ini dapat membungkus dirinya menggunakan kain jarik, dan lakban".

Lantas karena niat untuk menolong dan kasihan akhirnya @m_fikris ini menuruti kata Gilang dan mengirimkan foto serta video dirinya yang telah terbungkus dengan kain jarik kepada Gilang. Awalnya @m_fikris ini tidak menyadari bahwa ini salah satu dari penyimpangan seksual karena sebelumnya Gilang mengaku bahwa ini sebagai salah satu dari bagian meriset.

Gilang melakukan aksinya yaitu dengan menghubungi para korbannya yang mayoritas merupakan mahasiswa baru atau tingkat awal, melalui media sosial.

Bukan cuman @m_fikris, Gilang juga sudah banyak merugikan puluhan orang yang sebelumnya aksinya telah dilakukan semenjak menjadi panitia dalam sebuah orientasi kemahasiswaan. Gilang memaksa lawan bicaranya untuk membungkus seluruh tubuhnya dengan kain jarik atau batik.

Sebelumnya ia memerintahkan untuk melakban kaki, tangan, mata serta telinga korban. Jika perintahnya tidak dikabulkan, maka ia mulai mengeluarkan ancaman dan melakukan suatu pemaksaan.

Aksi dari perbuatannya itu yang telah banyak merugikan pihak lain karena memaksa korbannya diikat dengan lakban dan dibungkus dengan menggunakan kain jarik, sehingga banyak yang mengatakan bahwa itu salah satu dari fetish. Sebenarnya apa itu fetish? Apakah seseorang yang memiliki fetish itu normal, ataukah salah satu dari kelainan seksual?

Di kutip dari Kompas, fetish adalah suatu kesenangan yang dimiliki oleh seseorang sebagai bentuk respons terhadap objek yang sering kali tidak mengandung unsur seksual.

Orang yang memiliki sikap fetish biasanya membutuhkan suatu objek atau benda yang ada di hadapannya, dan akan muncul fantasi seksual dengan objek tersebut sehingga digunakan sebagai pasangan untuk bisa meraih kepuasan seksual yang maksimal.

Objek fetish seseorang itu beraneka ragam. Namun yang paling umum adalah kaki, pasangan yang bertindik, bertato sampai dengan pasangan yang memiliki kondisi obesitas.

Ada juga seseorang yang merasakan rangsangan secara seksual jika melihat sepatu, rambut, stocking dan pakaian model tertentu. Serta ada juga orang yang terangsang jika pasangannya mengenakan suatu kostum tertentu, seperti juga yang menggunakan hak tinggi dan sebagainya.

Menurut Piskiater dr. Adreas Kurniawan bahwa setiap manusia atau makhluk hidup memiliki suatu gairah ketika akan melihat sesuatu yang sifatnya seksual. Jika kita kembali pada kasus Gilang ini, gairah seksualnya normal ketika melihat bukan benda-benda seksual. Tapi gairah seksualnya muncul ketika melihat seseorang memakai high heels, dan pakaian tertentu seperti halnya kain jarik ini.

Fetish merupakan suatu hal wajar dan pada dasarnya dapat dimiliki oleh setiap individu asalkan fetish berada pada batasan yang masih normal. Lain dari halnya kasus Gilang ini karena apa yang telah dilakukan sudah merugikan orang lain dan telah menjadikan seseorang sebagian subjek fetish tanpa ada persetujuan.

Ungkap dr. Adreas Kurniawan, jika dilihat dalam segi kesehatan Gilang ini tidak menimbulkan suatu penderitaan dan tidak menimbulkan gangguan fungsi juga. Sepertinya kasus Gilang ini masih belum bisa disebut sebagai pelecehan, karena kasus ini masih tersirat belum tertulis. Karena jika dilihat dari pelecehan seksualnya tidak ada, yang ada hanya sebuah pikiran dalam dirinya.

Memiliki fetish sebenarnya belum dimaksudkan sebagai kelainan seksual dan hal seperti ini bukanlah yang jarang dimiliki oleh seseorang. Tapi karena kasus Gilang ini mengarah seperti dalam aktivitas variasi seksual. Fetish umumnya tidak akan menjadi suatu masalah jika tidak merugikan orang lain. 

Meski demikian, jika fetish yang dimiliki dari pelaku ini sudah membuat dirinya memaksa dan membuat orang lain merasa resah atau tak nyaman, maka perlu adanya suatu tindakan pengobatan atau pemeriksaan secara khusus kepada pelakunya. Karena bisa jadi ada tujuan atau penyimpangan lain.

Saya pun sebagai masyarakat awam yang masih dalam proses belajar, belum tahu apakah fetish yang seharusnya dimiliki. Apa pun itu seharusnya tidak merugikan orang dekat dan orang lain.

Sebagai sesama makhluk sosial, marilah sama-sama kita menjaga diri, menjaga nama baik keluarga dan tempat kita menuntut ilmu dengan melakukan suatu hal yang bermanfaat yang tidak merugikan orang lain sehingga bisa membuat seseorang merasa resah dan pada akhirnya menimbulkan suatu masalah. 

Mari menjaga diri dan memilih suatu tindakan secara rasional, bertabayun sehingga tidak memicu timbulnya penyimpangan. Marilah melakukan hal-hal yang bermanfaat, karena sesungguhnya sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain. 

Kembangkanlah kebajikan dan singkirkanlah kemungkaran. Perbanyak mendekatkan diri kepada Allah, agar kita terhindar dari hal buruk atau pandangan buruk.