Merangkai Bunga

Di bawah terik mentari di awal musim panas, menyaksi banyak belukar yang usai di tebas. sembari melangkahkan kaki menuju pulang, sementara netra tertuju pada Widuri.

Di dalam selokan, mekar dengan indahnya, Widuri cantik merah tua, yang di kenal dengan jenis "tar-tar" telah terpotong dengan cermat, atau mungkin tak sengaja terpangkas. Bunga duri itu sengaja dipisah jauh dari tumpukan jerami oleh sang pemotong sehingga tidak akan melukai tangan.

Aku berniat mengambil Widuri itu, dan akan aku letakkan di tengah buket, mengambilnya, menatanya ke tengah buket, namun kenyataannya teramat sulit. Tak hanya Batangnya dipenuhi duri, yang bahkan menembus sarung tangan. Tetapi Widuri itu sangatlah keras, sehingga aku berkutat denganya selama lima menit, mengelupas seratnya satu persatu, tatkala telah tersingkap seluruh kelopaknya, batangnya tampak kasar dan bunganya tidak lagi segar. Lagi pula dengan bentuk nan kasar dengan rona mencolok, Widuri itu tidak cocok dengan berbagai bunga indah di dalam Buket.

Aku menyesal telah merusak dan menghancurkan sebuah bunga yang nampak cantik di tempat asalnya"Tetapi kekuatan dan semangat hidupnya sungguh luar biasa" pikirku

 teringat usaha yang harus kukerahkan tuk mengoyak bunga itu, "betapa gigih dia mempertahankan diri dan sedemikian sayang dia pada kehidupannya" Dan oleh karenanya aku dingatkan kembali tentang cerita cerita yang pernah aku saksikan akhir akhir ini, akan tetapi agaknya jauh berbeda. 

Sebuah cerita tentang orang orang yang kini sangat mudah mati. Cerita tentang Abang becak yang kembali pulang, namun tak ada yang menumpang barang seorang. Cerita tentang lampu rumah tetangga yang kembali menyala terang, karena baru saja memperingati 100 hari kepergian anak semata wayang. Teringat kembali tentang kantong-kantong bansos yang sering datang. Bersama senyum senyum ramah, bersama kamera, mereka meminta warga untuk sabar. Sambil diam-diam mencuri beras di lumbung warga yang kosong.


Medali Emas


Pada sebuah medali, izinkan aku untuk menggapai mimpi. Kau boleh bawa dulu medali itu ikut dengan mu, berfoto denganya, hanya saja aku pinta fotomu jangan lebih besar atau lebih jelas dibandingkan dengan medali yang kubawa. Jangan pernah kau coba meninggalkan mimpi yang kutitipkan itu. Bawa ia!! Dan turunkan di tanah kelahiran kami

Anggap- lah Kemenanganku sebagai oase di tengah kekeringan, kesejukan di tengah centang perenang, kebahagiaan di tengah hantaman kabar-kematian dan penderitaan. Ambillah Sejenak nafas panjang, lalu internalisasikan semangat kemenangan itu pada perjuangan ini hari yang entah sampai kapan.

Kini kalian semua bisa melihat medali yang kudapat. Yang ku peroleh dengan air mata juga lelehan keringat. Namun; apakah kalian  juga melihat ? Tentang Gunung-gunung emas yang dilepas dengan tertawa. 


Penari


“Ratih! Ratih! Ratih”

“Ratih Dewi Asmara!” teriak seseorang.

Dalam cermin, Ratih melihat wajahnya sendiri, masih segar, cantik bergairah, tetapi jauh di dalam matanya dia bisa melihat cahaya kelam, kesedihan, kepedihan yang ditanggungnya. Dia tahankan semuanya demi masa depan keluarganya, orangtuanya yang hanya petani miskin. Hanya dia yang mampu mengentaskan keluarganya dari kemiskinan. Ratih sendiri bersekolah di SMP. Namun tidak sampai tamat. Orangtuanya tak punya biaya.

Sekarang Ratih tidak pernah lagi mengeluhkan akan hal itu. Lagi pula Permasalahan putus sekolah Adalah menjadi hal yang suda biasa terjadi dalam negeri yang konon sangat kaya ini. Akhirnya Ratih meluncur ke arena untuk menari. 

Tak segerak pun yang tak dalam bentuk tarian. Kepalanya bergoyang, matanya bergerak, jari-jari lentiknya, pinggulnya, bahunya, semua bergerak mengundang gairah penonton. Pemuda- pemuda yang ingin digaet dengan selendang berdiri maju, tetapi Sang Dewi bagaikan terbang ke angkasa, menari ke sana-kemari belum menentukan pilihan. Dia bergerak ke barisan belakang, ke tengah, ke samping, dan dia lihat Wiryasa sudah tersenyum- senyum dari tempatnya. Lelaki itu berkumis tipis, senyumnya menghanyutkan, dan dompetnya tebal. iA tahu hal itu sebab hampir pada setiap pergelaran tarinya, dia selalu hadir dan membawa uang. Yang diselipkan di sela payudara nya tak pernah uang receh dan lusuh, selalu bersih dan pecahan bergambar Soekarno-Hatta. Sayang, dia sudah beristri.


Harapan dalam secarik puisi


Siang itu tampak empat orang mahasiswa tengah duduk berhadapan mengitari meja sebuah restoran cepat saji yang berada di pinggiran kota jakarta. Mereka adalah sama sama mahasiswa dari unuversitas jurusan ilmu politik. Ketiganya biasa berkumpul di tempat ini. Di masa pandemi seperti sekarang ini membuat mereka lebih sering berkumpul di tempat ini, mungkin untuk sekedar menghilangkan rasa jenuh setelah kurang lebih setengah tahun mereka tidak pernah lagi bertatap muka secara nyata di bangku kuliah. Beberapa saat kemudian salah satu dari mereka kemudian membuka perbincangan.

"Mahasiswa mahasiswa sekarang menjalani studi jauh lebih sulit ya kak?" Tanyanya kepada teman yang berada di sampingnya

"Iya bener, meskipun metode pembelajaran yang kini telah di ubah menjadi lebih inovativ, tapi sepertinya masih ada yang kurang"

"Iya bener tuh kak.., aku sendiri juga sebenernya masih belum bisa maksimal memahami materi kuliah, dan sering juga mengantuk karena sulit sekali Fokus pada materi yang akan di pelajari dengan cara online seperti ini"

"Paling sedih lagi kalo kita udah diwisuda entar. Wisudanya bakalan sepi, gak meriah lagi. Poknya gak ada selebrasi. karena gak akan ada momen kumpul dengan temen-sekampus, berkumpul sekeluarga untuk foto foto misalnya". tImpal seseorang dari mereka

"OH...iya, bener juga ya kak..!"

"jika teus begini, perkuliahan jadi kacau.."

"Kalo menurut lu, kapan kira-kira pagebluk ini akan berakhir. Tanya salah satu dari mereka namun tidak mendapat jawaban.

"Sekarang ini AKu jadi kepikiran terus tentang cara menjalani kehidupan di masa mendatang, memikir tentang mewujudkan cita cita ku nanti, masa depab keluarga, dan yang lebih sulit adalah masa depan bangsa ini"

Setelah itu suasana menjadi sepi. tAk sepatah kata pun keluar dari mulut mereka. Mereka kini di sibukkan oleh gawai di tangan masing masing. Setelah selesai berkutat dengan gawainya, akhirnya mereka pun kembali melanjautkan perbincangan.

"eh..kak Novi, dari tadi aku perhatiin selalu  fokus ke laptop. Emang lagi nyari apaan sih..?

"Ohh..iya Ben. Ini lho, aku lagi asyik menghayati puisi yang baru aku temuin ini. maknanya sangat bagus, sangat inspiratif kalo menurutku. Dan juga masih relevan jika di kaitkan pada masa sekarang. tApi Sayang, nama penciptanya anonim"

"Benarkah...? coba aku liat" Jawab Ben sembari memutar arah layar laptop kehadapan semua. mereka ber empat menatap layar bersamasama. Puisi itu berjudul Nahkoda, isinya seperti berikut ini


Apakah Kamu sedang di pelabuhan,

Apakah benar akan segera mengarungi lautan?

Aku bertanya

Sudahkah ada kapal dan nahkodanya?


Jika memang sudah ada, kenapa masih ragu...

Yakinlah,

 jika dia memang benar-benar nahkoda yang menguasai seluk beluk perkapalanya

Dia akan mengantarkanmu

Mengarungi lautan dengan selamat tanpa apa

Sementara Aku disini saja, ngopi dan duduk menghadap laut diatas kapal rusak ku yang belum jadi