Anda boleh saja membenci Juventus. Tapi, sebagai penikmat sepakbola, Anda harus jujur dan mengakui bahwa kiper sekaligus kapten Juventus adalah legenda. Gianluigi Buffon bukan hanya legenda dalam arti kemampuannya menghalau bola masuk ke gawangnya. Lebih dari itu, Buffon adalah legenda dalam keteladanan, baik di dalam maupun di luar lapangan.

Tak perlu bukti yang bertele-tele untuk meyakini bahwa Super Gigi adalah legenda sejati. Urusan kemampuan Gigi menjaga gawang Juve, tentu saja tak perlu diragukan lagi. Rekor 974 menit tak kebobolan di Serie A, sekaligus status kiper termahal hingga saat ini, merupakan bukti bahwa Buffon merupakan legenda sejati. ia adalah panutan, baik bagi kawan maupun lawan.

Salah satu tanda bahwa ia layak disebut legenda adalah kesetiannya pada klub tercinta. Kesetiaan Buffon pada Juve ibarat kesetiaan Laila pada Qais. Tak ada yang dapat memisahkan Buffon dari ‘kekasihnya’, termasuk saat terusir dari Serie A. Cinta Buffon pada Juve tak meruang dan mewaktu. Cintanya abadi, seabadi sejarah klub yang dibelanya.

Kapten yang Berkharisma

Menjadi kapten dalam sebuah tim besar seperti Juventus tentu bukan tugas yang mudah. Di sana berkumpul pemain-pemain hebat. Kapten, dalam permainan sepakbola, bukan hanya bertugas bertukar cinderamata di awal laga. Kapten adalah panutan yang harus mampu membangkitkan semangat, emosi, dan perjuangan rekan setimnya. Dan, di Juve, Buffon melakukan itu dengan baik.

Jika Anda penyuka Serie A, tentu saja Anda akan ingat awal-awal musim 2015/2016. Sebagai juara bertahan, Juve malalui laga-laga awal dengan mengecewakan. Tentu saja, situasi ini tak mengenakkan bagi seluruh Juventini. Saat Juventus berlaga di Juventus Stadium, ketika itu Juve tertinggal dari tamunya, Chievo Verona.

Siulan para Juventini yang tak puas dengan penampilan pemain Juve, dibalas oleh Buffon dengan kalimat magis: “Abbiamo bisogno di voi”, kami membutuhkan kalian. Sontak, siulan yang awalnya terdengar di Juventus Stadium mereda dan diganti dengan chant-chant yang membahana.

Apa yang dilakukan Buffon di atas menunjukkan bahwa ia memang pemain berkelas. Baginya, kapten bukan hanya jabatan, tapi jalan perjuangan yang wajib dijaga dan dipertahankan. Buffon menyadari bahwa jabatan kapten yang diembannya merupakan tanggung jawab yang harus ia pertahankan, bukan hanya di saat menikmati kemenangan, namun juga saat terluka karena kekalahan. Buffon adalah teladan, baik di dalam maupun di luar lapangan.

Dalam buku biografi Andrea Pirlo, I Think Therefore I Play, Il Metronome menggambarkan Buffon sebagai kapten yang kharismatik. Kharisma Buffon didapat bukan dengan jalan instan, melainkan melalui proses perjuangan yang melelahkan. Untuk mendapatkan kharisma itu, Buffon telah menempuh banyak jalan, dari yang membahagiakan hingga yang menyedihkan.

Pirlo menggambarkan bagaimana peran Buffon dalam tim. Meski sebagai pemain senior yang disegani, Buffon tak pernah menunjukkan arogansinya. Pirlo menulis: “Jika Buffon benar-benar mau, ia bisa dengan mudah berdiri dan berkata, “Aku yang memutuskan semuanya di sini. Aku kapten, Aku telah bermain di Serie B dengan kasus ini.” Tapi ia tidak pernah melakukan itu dan tidak akan pernah. Ia terlalu cerdas, terlalu baik, terlalu segalanya, sungguh.” Apa yang ditulis Pirlo dalam biografinya sudah cukup untuk menggambarkan bagaimana kharisma yang dimiliki oleh mantan pemain AC Parma ini.

Ruh Tim Azzuri

Tak hanya bagi Juve, Buffon juga sangat berarti bagi tim Azzuri. Saat Piala Dunia 2006 di Jerman, Buffon merupakan salah satu aktor penting yang menentukan keberhasilan Italia menjuarai Piala Dunia. Bersama Pirlo dan pemain lainnya, Buffon membalik semua prediksi yang tak menempatkan Itali sebagai calon juara.

Kharisma Buffon di Juve tetap terasa di timnas Italia. Di timnas, Buffon tetap dianggap sebagai panutan, bukan hanya bagi pemain, namun juga bagi supporter.  Yang terbaru tentu saja saat laga persahabatan antara Italia lawan Perancis beberapa hari yang lalu.

Ketika lagu kebangsaan Perancis dikumandangkan, suporter Italia tampak tidak respek dengan meneriakkan kata berisi cemoohan. Buffon pun berbuat sesuatu, ia bertepuk tangan. Apa yang ia lakukan diikuti oleh pemain Italia lainnya. Dan, tentu saja, suporter Italia.

Buffon bukan hanya hebat dalam menjaga gawang, namun ia juga spesial dalam tingkah laku keseharian. Ia adalah panutan dalam perilaku, sekaligus contoh yang baik untuk dijadikan guru. Sebagai seorang legenda, Buffon telah menancapkan namanya dalam sejarah sepakbola. Buffon memberi arti yang sederhana tentang cinta dan kesetiaan. Bahwa, dalam situasi dan kondisi apapun, membela klub tercinta harus menjadi pilihan utama.   

 Akhirnya, dalam dunia sepakbola, Buffon dapat dijadikan “kata sifat”. Artinya, sepakbola (khususnya sektor belakang), kurang “Buffon” tanpa dia.