“Ghosting itu abusive” Demikian salah satu komentar netizen yang serta merta menarik perhatian saya. Lha, masa iya abusive, abusive yang bagaimana? Ditambah komentar senada dari netizen yang lain bahwa “Ghosting adalah perilaku yang menunjukan kemerosotan moral pada kaum muda “ kurang lebih begitu. Sudahlah abusive tidak bermoral pula. Koq terdengar mengerikan sekali, kelakuan semacam itu terjadi di kalangan kaum muda. Saya yang mempunyai 3 anak menjelang dewasa, mendadak jadi khawatir pada masa depan mereka.

Apakah ghosting itu? Dari hasil pencarian artinya adalah; salah satu pihak dalam suatu hubungan asmara, menghilang secara tiba-tiba atau dalam waktu singkat. Jadi, saat masih pendekatan maupun ketika sudah di jenjang yang lebih serius, salah satu pihak menghilang begitu saja, seperti hantu. Menghilang dalam artian tidak ada komunikasi lagi baik secara langsung maupun tidak langsung, mengenai kelanjutan hubungan yang sebelumnya terjalin mesra. Diperlakukan demikian, pasti sangat mengecewakan bagi korban ghosting. Bayangkan,di saat sedang sayang-sayangnya, tidak ada angin tidak ada hujan, sang kekasih menghilang tanpa kabar. Dasar setan.

Walaupun ghosting adalah istilah baru, khususnya buat saya, praktek semacam itu sebenarnya sudah lama. Dari jaman dahulu sudah biasa terjadi. Bukan sesuatu yang mengherankan, kalau dalam suatu hubungan akhirnya putus atau tidak jadi. Ada yang baik-baik, ada yang tidak. Ada yang beralasan kuat, ada pula yang berakhir tanpa sedikit pun penjelasan. Sehingga menimbulkan pertanyaan yang mengambang lama di awang-awang.

Karenanya di waktu dulu, ada ungkapan setengah bercanda yang biasanya diucapkan oleh para rival, “Selama janur kuning belum melengkung, artinya harapan masih ada”. Sebelum ada akad dan ijab kabul ataupun pengesahan di catatan sipil, semua hubungan asmara masih bisa berubah.

Kembali ke soal ghosting, mengingat cukup seringnya praktek tersebut dilakukan, pertanyaanya apa benar tindakan itu abusive? Musti diingat tuduhan semacam  itu sangatlah serius, tindakan abusive sangatlah tercela karena bisa membahayakan orang lain secara fisik juga emosi. Karena berpotensi menempatkan seseorang pada situasi yang berbahaya.

Karena abusive adalah perilaku kasar atau kekerasan dalam suatu hubungan antar lawan jenis. Selain dalam bentuk fisik, perilaku ini juga bisa terjadi dalam bentuk emosional.  Dan ternyata ghosting ditenggarai sebagian orang sebagai sebuah kekerasan emosional (emotionally abusive) yang bisa menimbulkan trauma yang mendalam pada korbannya. Timbul pertanyaan, benarkah gagalnya suatu hubungan akibat ghosting, bisa mempengaruhi emosi manusia secara mendalam dan merusak hingga membuat mereka ingin mengakhiri hidup misalnya ?

Saya punya cerita tentang seorang wanita yang ditinggal calon suaminya, kurang dari 3 bulan sebelum pernikahan diselenggarakan. Kala itu persiapan pernikahan sudah dilakukan sejak lama. Di beberapa kota besar, memesan gedung untuk resepsi kadang harus dilakukan sejak jauh hari hingga bilangan bulan. Demikian pula pemesanan catering dan lainnya.

Saat itu, ketika pernikahan yang direncanakan terancam batal, keluarga wanita segera melakukan tindakan-tindakan untuk meminimalkan kerusakan. Orangtua berinisiatif mencarikan calon pengganti untuk anak perempuan mereka, dan ndilalah dapat. Takdirnya ada anak seorang sahabat yang sudah siap menikah dan bersedia. Anak perempuan yang entah bagaimana isi hatinya, menurut saja.

Yang dilakukan selanjutnya adalah mereka mengganti nama di undangan dan menghubungi vendor catering untuk menginfokan nama pengantin pria yang baru. Karena huruf awal nama pengantin selalu dijadikan hiasan berupa pahatan es besar dan ditempatkan di tengah ruangan, jangan sampai hurufnya salah.  Akhirnya pernikahan tetap terselenggara sesuai rencana, hanya mempelai prianya yang berubah. Dan berita baiknya, sampai saat ini sudah lewat 24 tahun, mereka masih bahagia bersama.

Cerita yang mirip juga terjadi pada seorang gadis yang diputus sang kekasih di tahun ke 5 masa penjajakan mereka. Saat itu sang pujaan sedang menuntut ilmu di negeri seberang, dan ternyata saat berjauhan, si lelaki menemukan gadis baru yang lebih sesuai dengan harapan, dan akhirnya mereka pun menikah. Sebuah kisah cinta yang menyedihkan memang. Si gadis yang ditinggalkan selain sedih pasti juga marah luar biasa. Tapi secara fisik dan emosional, akhirnya dia toh baik-baik saja.

Saya terus mengikuti perjalanan hidup gadis itu, yang walau sempat mempunyai tambatan hati yang baru, tapi sampai sekian lama belum ada yang berhasil membawanya ke pelaminan. Bukan karena si gadis patah hati, lebih karena belum menemukan orang yang tepat saja. Karena 7 tahun yang lalu, tepat di usia 35 tahun, barulah jodoh yang ditunggu tiba. Dan saat ini mereka sudah mempunyai seorang putri yang menawan hati. Kisah yang awalnya sedih itu, ternyata berakhir bahagia.

Dari dua kasus di atas dan beberapa kasus lain, saya menyimpulkan ditinggalkan kekasih pastilah menyedihkan pada awalnya. Ditinggalkan selamanya, karena calon suami meninggal dunia misalnya, bisa jadi membuat calon mempelai wanita ingin menyusul mati.  Tapi ditinggalkan dengan buruk, misal dengan cara dighosting, walau awalnya hati terluka, tapi pada orang normal, perasaan yang muncul kemudian adalah marah. Sangat marah. Dan sejauh ini, saya belum pernah mendengar, ada orang yang sedemikian marah hingga ingin bunuh diri.

Banyak tindakan abusive pada suatu hubungan,yang bisa sangat merusak secara fisik maupun emosional, tapi ghosting bukanlah salah satunya. Perilaku ghosting memang brengsek, buruk dan pantas dicela. Pelakunya adalah orang yang kurang dewasa yang bisa jadi mempunyai karakter lemah, egois, pengecut dan jelas tidak mampu mengkomunikasikan isi hatinya. Tapi mereka bukan penjahat yang membahayakan hidup manusia lain. Kita harus bisa mengutuk tindakan mereka secara proposional. Karena sebenannya yang terluka karena tindakan pelaku ghosting adalah ego dan harga diri kita saja. Mungkin sedikit melukai secara emosi tapi jelas tidak secara fisik.

Selama hubungan antar manusia masih terjalin, maka ghosting dan sejenisnya akan terus ada. Sebagai makhluk sosial, kita tidak selalu bisa menghindarinya. Yang bisa kita lakukan adalah menyiapkan diri juga keluarga dan terutama anak-anak kita dengan yang namanya mitigasi kehilangan. Mungkin mirip dengan mitigasi resiko ataupun mitigasi bencana. Semacam langkah-langkah yang perlu dipersiapkan untuk meminimalisir kerusakan akibat kehilangan sesuatu.

Bahwa dalam hidup, masa depan tidak selalu pasti, walaupun kita bisa merencanakan dengan sebaik-baiknya. Kehilangan sesuatu adalah keniscayaan. Baik berupa benda material maupun orang-orang yang kita cintai. Bagaimana mempersiapkan diri untuk kecewa, sedih dan marah dan terluka dengan tetap mempertahankan akal sehat dan kewarasan juga harga diri adalah pengetahuan yang harus diajarkan pada anak-anak dan generasi yang lebih muda.