“Mulutmu harimaumu” Mungkin banyak dari kalian yang pernah mendengar atau membaca pepatah itu, tetapi apa kalian tahu apa maksud dari pepatah itu? Pepatah tersebut mengajarkan kita untuk berpikir terlebih dahulu sebelum berucap. Selain itu, hal tersebut juga sebagai pengingat betapa pentingnya menjaga lisan. 

Terkadang, mulut seseorang secara tidak sengaja mengeluarkan kata-kata yang dapat menyinggung dan menyakiti perasaan orang lain. Mungkin menurutmu ucapan yang kamu katakan itu tidak menyinggung perasaan, tetapi bisa saja bagi orang lain, ucapan kamu itu menyinggung perasaannya.

Tuhan memberikan anugerah kemampuan untuk berbicara kepada manusia, kemampuan yang tidak dimiliki makhluk hidup lainnya. Akan tetapi, manusia seringkali menyalahgunakannya, sebagai contoh digunakan untuk manghancurkan orang lain, memfitnah, mencemarkan nama baik dan merusak hubungan antar manusia melalui gosip atau gibah.

Gibah adalah membicarakan dan menilai di belakang seseorang dengan sudut pandang negatif, seperti mencari-cari kesalahan, memprotes dan mengumpat. Akan tetapi, ketika di hadapan orang yang dibicarakan, mereka memperlihatkan sikap yang hangat dan bersahabat. Seringkali saat bergibah informasi yang disajikan terlalu dilebih-lebihkan, sehingga kebenarannya tidak dapat dijamin dan bisa jauh dari fakta.

Meskipun gibah merupakan kebiasaan yang buruk, bahkan dilarang oleh agama, hal itu tidak menjadikan alasan bagi mereka untuk berhenti bergibah, masih banyak dari mereka yang melakukannya, bahkan menerima dan menikmatinya.

Apa dampak dari gibah?

Perlu kalian ketahui gibah sangat berbahaya bagi kesehatan mental korban. Hal tersebut terjadi karena dapat menimbulkan rasa trauma, cemas, stress, bahkan depresi. Akibatnya, korban menjadi pendiam dan suka menyendiri. Apabila korban sudah lepas kontrol, dikhawatirkan korban akan mencoba untuk bunuh diri atau selfharm. 

 

Lalu bagaimana cara menghindari orang-orang yang suka menggibahimu?

Apabila kamu sudah tidak nyaman dengan orang-orang yang selalu meremehkan dan membicarakan kamu di belakang, maka tinggalkan. Meninggalkan toxic people yang membuat mental kamu down.

Block sosial media orang yang menyakiti kamu, unfollow teman yang menurut kamu memberikan dampak buruk pada kesehatan mental kamu. Hide dan mute seseorang yang membuat kamu tidak nyaman. Ketika kamu melakukan semua itu bukan berarti kamu kekanak-kanakan, tetapi kamu peduli dan sayang akan kesehatan mental diri sendiri.

Kamu berhak menentukan yang baik untuk diri sendiri dan menjauhkan diri dari hal yang toxic. Pada dasarnya, yang akan bertanggung jawab atas rasa bahagia dan rasa sedih adalah dirimu sendiri. Memang, akan selalu ada orang yang tidak suka dengan kita, bahkan apapun yang kita lakukan. Hiraukan saja. Kita hidup bukan untuk memenuhi ekspektasi orang lain.

Ketika kita menjadi bahan gosip orang lain kita bisa menanggapi dengan positif, mungkin mereka iri dengan kita sampai mereka rela membuang-buang waktu berharganya hanya untuk menyakiti kita.

Setiap manusia memang tidak luput dari kesalahan, tetapi bukan berarti kesalahan mereka bisa kalian jadikan sebagai bahan gunjingan saat berkumpul dengan teman-teman. Jika teman kamu melakukan hal yang salah lebih baik diberi tahu secara langsung, daripada menggunjing di belakang. 

Meskipun sulit rasanya untuk tidak bergunjing, karena hal itu sudah seperti bagian dari kehidupan sosial kita, bukan berarti kita tidak bisa mencegahnya.

Cara menahan diri untuk tidak bergibah 

  • Pertama introspeksi diri. Lihat pada diri sendiri, apakah diri kita tidak pernah melakukan kesalahan, pasti pernah bukan? Apakah kita akan senang jika ada orang yang menggunjing diri kita di belakang, tidak juga kan? Untuk itu, kita harus memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Hal tersebut mesti dilakukan karena sejatinya setiap orang pernah sengaja atau tidak sengaja melakukan sebuah kesalahan.

  • Kedua jaga lisan. Selalu menjaga perkataan saat sedang berbicara agar tidak terjerumus dalam perkaatan gibah. Jangan membicarakan keburukan orang lain hanya demi kesenangan sementara.

  • Ketiga tidak mencari-cari kesalahan orang lain. Orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain dengan tujuan untuk membongkar noda seseorang dan mempermalukannya itu disebut gibah, maka hal tersebut harus dihindari.

Setelah mengetahui dampak dari gibah yang sangat berbahaya, diharapkan, untuk kita semua, berhenti membicarakan hal-hal buruk tentang seseorang. Hal tersebut dilakukan agar hidup menjadi nyaman dan tidak ada lagi kesehatan mental yang rusak akibat gibah. Hidup akan jauh lebih tenang, ketika kita tidak mengurusi yang bukan urusan kita. 

Apabila kalian sudah mulai merasa lingkungan pertemanan kalian toxic, maka lebih baik menjauh dari hal tersebut demi menjaga kenyamanan dan mental diri sendiri.

Setiap manusia memiliki naluri untuk menjatuhkan manusia yang lain. Beberapa mampu mengelola dengan baik, beberapa menuruti naluri itu dengan buruk. Maka dari itu, pastikan diri kalian menjadi manusia yang mampu mengelola naluri dengan baik. Lebih baik kita mengintrospeksi diri agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi daripada menghabiskan waktu hanya untuk membicarakan orang lain.